
Setelah melakukan melakukan pengintaian selama beberapa saat, akhirnya Viollete mulai menangkap sosok Buck Karimova yang sedang duduk di belakang dan bersebelahan dengan Cloud.
"Papa ... kamu harus menebus semua dosa-dosamu ..." gumam Viollete pelan namun sangat tajam, dan pandangannya masih menatap lurus mereka dari kejauhan.
Kali ini Viollete mulai bergegas untuk menuju ruangan pilot untuk memberikan peritah terhadap pilot tersebut. Meskipun sangat berbahaya, namun Viollete akan tetap melakukannya untuk menyelesaikan semua ini.
"Pak pilot, tolong ubah arah laju dari helikopter ini! Sebisa mungkin terbanglah pada jarak terdekat dari helikopter musuh yang berwarna hitam yang saat ini berada di sisi belakang helikopter kita!" perintah Viollete tanpa meminta persetujuan dari Kagami Jiro.
"Kin Rui, apa yang akan kamu lakukan? Tetap disini dan jangan melakukan hal berbahaya! Semuanya serahkan pada ayah dan yang lainnya!" ucap Kagami Jiro tak memberikan ijin dan mewanti-wanti putrinya terlebih dulu.
"Tidak, tuan Kagami Jiro. Kali ini aku akan melakukannya!" sahut Viollete keras kepala. "Pak pilot, lakukan sesuai yang aku perintahkan!" imbuhnya memberikan titah.
"Jangan lakukan!" bantah Kagami Jiro memberikan titah untuk pilot itu sehingga sang pilot malah hanya kebingungan sendiri saat ini harus menjalankan perintah yang mana.
"Tuan Kagami Jiro. Pria licik itu sedang berada di capung besi yang mengudara tepat di belakang helikopter kita. Dan aku harus bisa mencapai helikopter itu!" ucap Viollete menatap Kagami Jiri dengan tajam.
"Darimana kamu bisa tau jika mereka ada disana?" tanya Kagami Jiro dengan kening berkerut menatap putri sulungnya.
"Itu sangat mudah! Satu-satunya capung besi yang tak melakukan penyerangan saat ini dengan maksud tak menjadi pusat perhatian dari kita hanyalah capung besi itu saja. Dan aku juga sudah memastikan sendiri dengan menggunakan teropong jarak jauh dan dia memang benar berada disana." jawab Viollete menjelaskan. "Pak pilot lajukan mendekati mereka!!"
"Kin Rui!!" kali ini Kagami Jiro meraih kedua bahu Viollete dan menatapnya lekat. "Baiklah! Tapi biarkan ayah yang melakukannya! Ayah tak bisa membiarkanmu dalam keadaan bahaya. Kamu tetaplah disini ..." ucap Kagami Jiro menatap lekat putri sulungnya. " Arahkan semakin mendekati mereka dan kita akan menyerang mereka!"
"Baik, Tuan Kagami Jiro!" sahut sang pilot mulai merubah sedikit arah laju dari helikopter ini.
"Semuanya bersiap! Bantuan juga akan segera datang!!" ucap Kagami Jiro mulai melepaskan Viollete dan kembali fokus untuk memulai perang udara itu kembali.
Nickhun dan Roy juga masih terlihat sedang melakukan perang tembakan bersama para musuh. Sementara Kagami Jiro mulai fokus pada sebuah helikopter yang dicurigai Viollete.
Kedua helikopter kini sudah mengudara dengan sangat dekat, bahkan hampir saja menabrak satu sama lain. Hingga akhirnya keduanya memang saling berserempet.
BRRAAKK
Disaat itulah Viollete nekat melompat dan berusaha untuk memasuki helikopter milik Kin Izumi.
HAPP ...
Viollete melompat dan tangannya berhasil berpegangan pada pintu helikopter yang sedang terbuka itu. Kagami Jiro, Nickhun dan Roy yang melihat aksi Viollete tentunya sangat terkejut bukan main.
Melompat antar helikopter satu ke helikopter lainnya di atas ketinggian yang sangat luar biasa, tentunya akan sangat menguji adrenalin, bagi siapa saja yang menyaksikannya.
Kagami Jiro juga terlihat terkejut namun juga kesal karena Viollete nekat untuk melakukan hal berbahaya seperti itu dan tidak mematuhi perintahnya sama sekali.
"Anak gadis ini!! Rupanya sangat mirip sepertiku dibanding dengan mamanya!!" geram Kagami Jiro begitu lirih hingga tak terdengar oleh orang-orangdi sekitarnya.
Cloud yang menyadari jika ada Viollete yang sedang bergelantungan pada pintu helikopternya, kini mulai menolong Viollete tanpa sepengetahuan Buck Karimova.
"Arrgghh ..." Viollete berpegangan pada tangan Cloud.
Namun akhirnya tepat saat Viollete sudah berhasil masuki capung besi berwarna hitam itu, Buck Karimova berusaha untuk menjatuhkan Viollete lagi.
Namun Viollete masih bisa menghindari dan menahan serangan itu dengan sangat baik, namun Buck Karimova malah menghempaskan dengan kasar tubuh Viollete hingga menabrak beberapa kursi penumpang di dalam.
BRRAAKK ...
"Apa yang sedang kamu lakukan, Cloud? Mengapa kamu membantu gadis ini?! Gadis ini adalah musuh kita saat ini?! Dia sudah berkhianat!!" Buck Karimova mulai mengangkat senjata api laras pendeknya ke udara dan menodongkannya ke arah Viollete. "Dia harus mati!!" geram Buck Karimova bersiap untuk menarik pelatuk senjata api laras pendeknya.
"Papa!! Jangan!!" teriak Cloud berusaha untuk menggagalkan serangan itu dengan sedikit mendorong arah sasaran dari Buck Karimova.
TAR ...
PRANG ...
Sebuah tembakan meluncur dan mengenai sebuah kaca hingga kaca itu pecah berkeping-keping.
"Cloud!! Gadis ini sudah berkhianat!! Jangan menghalangi papa!!" kali ini Buck Karimova mulai menghempaskan tubuh Cloud hingga menabrak sebuah pintu ruangan pilot.
"Argghh ..." rintih Cloud memegangi keningnya.
"Cloud!!" teriak Viollete terlihat sangat mengkhawatirkan sang adik karena kening Cloud sampai berdarah karena menabrak sesuatu.
Buck Karimova mulai mengangkat kembali senjata api laras pendeknya dan mengarahkannya kembali ke arah Viollete. Sepasang matanya menatap tajam dan begitu dingin ke arah Viollete.
Sementara Viollete yang baru saja bangkit dan berdiri kembali hanya menatap tajam Buck Karimova. Tatapan lenuh kebencian dan penuh amarah.
"Aku sangat menyesal karena 18 tahun sudah mempercayaimu!! Kamu bahkan sudah membuatku hampir mencelakai mereka!! Kamu adalah sampah!! Kamu pantas mendapatkan hukuman atas semua dosa yang pernah kamu lakukan!! Bahkan kamu juga harus menebus dosamu karena sudah mengakhiri nyawa mamaku saat itu!!" ucap Viollete dengan dadanya yang sudah begitu bergemuruh dan dipenuhi oleh amarahyang sudah semakin mencapai puncaknya.
Viollete mulai mengeluarkan Glock Meyer 27 miliknya. Namun belum sempat Viollete meluncurkan amunisi dari Glock Meyer 27 miliknya itu, tiba-tiba sudah terdengar suara sebuah tembakan.
Dan rupanya Buck Karimova sudah meluncurkan peluru panasnya lebih cepat. Hingga akhirnya aminisi khusus milik dari Death Eyes itu mengenai seseorang.
TAR ...
Rupanya Cloud sudah berlari untuk melindungi Viollete. Bahkan Cloud sudah menjadi tameng untuk Viollete. Dam kini bahu belakang sebelah kiri Cloud mulai mengucur darah segar hingga merembes membasahi sweater warna cream lembut itu.
"Cloud!! Tidak!!" ucap Viollete begitu memilukan dan bergetar.
Viollete sangat tak menyangka jika Cloud akan melindunginya kali ini. Tak kuasa Viollete menahan air mata hangatnya, hingga akhirnya air mata hangat itu keluar membasahi pipinya.
Siapa yang tidak bersedih ketika melihat salah satu orang yang disayangi harus terluka dan mengorbankan dirinya untuk kita? Mungkin rasanya akan sangat menyesakkan, memilukan dan sangat menyakitkan. Seperti yang dirasakan oleh Viollete saat ini.