The Goddess Of War

The Goddess Of War
Merindukan Masa Lalu



Buck Karimova mulai melenggang memasuki rumah besar itu diikuti oleh Viollete dan Cloud. Di belakangnya lagi sudah ada beberapa kaki tangan Buck Karimova yang mengantarkan mereka bertiga.


Kehadiran mereka disambut dengan hangat oleh kaki tangan Buck Karimova yang masih tersisa di dalam rumah besar itu yang selama ini sudah dengan setia mengabdi kepadanya.


"Selamat datang kembali, Tuan Kin Izumi." sahut salah satu dari mereka memberikan penghormatan dengan spenuh hati dan sedikit membungkukkan badannya.


"Hhm. Dimana ayah?" tanya Kin Izumi alias Buck Karimova mulai memasuki rumah besar itu sepertti sudah sangat terbiasa sekali dengan rumah itu.


Sudah 18 tahun meninggalkan rumah itu begitu saja, meskipun sudah cukup lama namun segala tata letak dan seisi rumah mewah ini masih saja tetap sama.


Ingatan samar-samar kembali teringat oleh Viollete, disaat masa kecilnya saat berada di dalam rumah ini. Begitu penuh kehangatan, cinta dan kasih sayang dari seorang mama, papa, dan kakeknya.


Bahkan ingatan disaat-saat terakhir juga begitu nyata untuknya. Disaat ulang tahunnya yang ke-6, pertama kalinya Viollete bertemu dengan Kagami Jiro. Saat itu mereka berdua terlihat langsung akrab dan saling menyukai.


Viollete alias Kin Rui kecil yang begitu cerdas dan cantik begitu tak bisa dilupakan oleh Kagami Jiro dan Yukimura, sahabat dari Kagami Jiro ( Baca novel Never Say Good Bye ).


Tanpa sadar sepasang mata Viollete mulai sedikit berkaca-kaca karena mengingat masa-masa kecilnya di dalam rumah besar ini. Ada rasa rindu yang begitu besar kepada sang mama yang sudah tiada, dan juga sang kakek yang selalu saja mengasihi dan memanjakannya disaat kecil.


Rindu ... tentu saja Viollete sangat merindukan semua itu. Dan sebenarnya sudah lama Viollete juga ingin mengunjungi sang kakek. Namun Viollete terlalu takut untuk mengungkapkannya kepada Buck Karimova. Hingga akhirnya kali ini Buck Karimova sendirilah yang mengajak Viollete mengunjungi rumah ini kembali.


"Tuan besar Kin Makoto sudah tidur dan beristirahat, Tuan Kin Izumi." jawab pria itu kembali dengan nada yang begitu rendah.


"Hhm. Kalau begitu antarkan putra dan putriku ke kamarnya! Mereka juga harus segera beristirahat." titah Buck Karimova lagi.


"Baik, Tuan Kin Izumi." sahut pria itu dengan patuh. "Silakan tuan muda Kin Light dan nona muda Kin Rui." imbuh pria itu kembali lalu mulai mengantarkan Cloud dan Viollete.


Cloud dan Viollete mulai mengekori pria itu. Cloud masih mengamati rumah ini sambil berjalan. Merasa begitu takjub karena melihat rumah besar yang sangat mewah bak istana ini.


Cloud sungguh tak menyangka jika ternyata dirinya memiliki seorang kakek yang sangat kaya seperti ini. Padahal kehidupan mereka saat berada di desa Wang Nam Khiao begitu seadanya dan apa adanya. Sangat jauh dari kata mewah!


"Kak. Mengapa mereka memanggilku Kin Light? Mereka juga memanggil kakak Kin Rui? Dan mereka juga memanggil papa dengan Kin Izumi. Sebenarnya ada apa, Kak? Apa ini adalah kebiasaan orang kaya di Jepang? Memiliki nama lebih dari satu?" bisik Cloud di dekat Viollete.


"Hhm? Bukan kok. Itu hanya nama Jepang kita saja. Namun kamu tidak boleh memakainya saat berada di luar rumah ini. Dan jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya. Namamu adalah tetap Cloud Karimova! Okay?!" jawab Viollete yang juga berbisik.


"Sekalipun dengan kekasihku? Aku juga tidak boleh mengatakannya, Kak?" celutuk Cloud dengan asal.


"Apa? Kamu sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Viollete keheranan.


"Hehe ... belum punya sih, Kak. Tapi ada beberapa gadis yang menyatakan cinta kepadaku. Dan aku bingung." jawab Cloud nyengir karena malu.


"Wah ... kau sangat populer di kampus ya rupanya." ucap Viollete menggoda sang adik dan menepuk bahu lebar Cloud.


Wajah Cloud seketika mulai merona karena malu mendapat pujian dari sang kakak.


"Kalau begitu pilih saja gadis mana yang baik dan yang benar-benar tulus denganmu, Cloud." sahut Viollete yang sesekali melirik adik semata wayangnya itu yang sebenarnya memang cukup tampan.


Namun gen dari sang papa lebih mendominasinya, sehingga Cloud terlihat kebulean dengan rambut keemasannya. Sangat berbeda dengan Viollete yang memang terlihat seperti seorang gadis Jepang pada umumnya.


"Tidak, Kak. Aku masih belum ingin pacaran." sahut Cloud tiba-tiba.


"Hhhm? Mengapa?" tanya Viollete kebingungan.


"Mereka sangat manja dan matre. Aku mana bisa memberikan apa yang selalu mereka mau. Kalaupun aku mau memiliki seorang kekasih, aku mau gadis yang seperti kakak saja. Apa adanya dan tidak aneh-aneh." celutuk Cloud dengan jujur.


Viollete tertawa renyah mendengarkan kicauan dari Cloud yang menurutnya begitu lucu.


"Mana ada pria yang menyukai kakak, Cloud? Kakak ini sangat biasa-biasa saja tapi dingin dan sangat kasar. Tidak ada sisi feminim dan lembut sama sekali." Viollete menyauti dengan jujur, karena Viollete memang merasa seperti itu.


"Ada lo, Kak. Aku bahkan mengira jika kak Nickhun menyukai kakak lebih dari seorang teman." ucap Cloud tiba-tiba.


Ucapan dari Cloud sukses membuat senyuman Viollete kini membeku dalam hitungan detik saja dan memudar perlahan.


"Nickhun? Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu, Cloud?" tanya Viollete setelah beberapa saat.


"Tentu saja aku tau dong, Kak. Hehe ... " sahut Cloud dengan tawa kecil.


Kini mereka semua sudah berhenti di depan 2 buah kamar yang saling berhadapan.


"Silakan, Nona muda, tuan muda ... ini adalah kamar nona Kin Rui." ucap pria itu sambil menunjukkan sebuah kamar yang berada di sisi kanan mereka. "Dan ini adalah kamar untuk tuan muda Kin Light." imbuhnya lagi sambil menunjukkan kamar lain yang berada di sisi kiri mereka.


"Yaa sudah aku mau mandi dan tidur dulu. Kakak juga tidurlah. Sampai jumpa besok, Kak Vio!!" celutuk Cloud lalu mulai membuka pintu kamarnya dan mulai memasukinya.


Violette sempat terdiam mematung beberapa saat menatap pintu kamar Cloud. Namun akhirnya Viollete mulai berbalik dan mulai memasuki kamarnya.


Kamar ini tidak berubah sama sekali. Masih sama seperti 18 tahun yang lalu. Viollete melangkahkan kakinya dengan pelan dan menatap seisi kamarnya itu. Lalu Viollete mulai duduk di pinggiran pembaringan itu.


Kenangan manis di masa lalunya kembali hadir dengan begitu nyata dan membuatnya tak kuasa untuk menahan air matanya, hingga air mata hangat itu mulai terjatuh membasahi pipinya.


"Mama ... aku datang ... aku rindu sekali padamu. Aku rindu sekali ... aku rindu pelukanmu ... aku rindu belaianmu. Aku juga rindu didongengkan olehmu ... hiks ... aku juga sangat rindu papa yang dulu, Mama. Papa yang selalu hangat tidak seperti papa yang sekarang. Saat mama pergi, papa sangat berubah. Aku ... rindu semuanya ... hiks ..." ucap Viollete dalam isak tangisnya dan mulai membaringkan badannya miring dan mengusap lembut pembaringan itu.


Namun tak beberapa lama Viollete sudah tertidur begitu saja.


...⚜⚜⚜...