The Goddess Of War

The Goddess Of War
Misi Di Pelabuhan Pier 10



Pelabuhan Pier 10 tepat tengah malam terlihat begitu megah dan menawan, dengan kelap-kelip lampu yang memukau yang menghiasi pada beberapa titik tertentu.


Terlihat beberapa kapal besar dan mewah yang sedang melakukan parkir di pinggiran pelabuhan itu. Beberapa restoran dan tempat karaoke di tepian pelabuhan itu juga masih terlihat cukup ramai bahkan di tengah malam seperti ini. Bahkan dunia malam ini terlihat begitu hidup.


Seorang gadis dengan T-shirt berwarna hitam dan dibalut dengan jaket berwarna caramel memadankankannya dengan sebuah celana jeans yang sedikit longgar untuk mempermudah setiap pergerakannya.


Sementara disebelahnya sudah ada 2 orang pemuda dengan pakai kasual dan masing-masing mengenakan jaket berwarna gelap, serta mengenakan celana jeans yang juga sedikit longgar.


Mereka tidak memakai masker atau berusaha untuk mengendap-endap. Karena malam ini, salah satu dari mereka akan berpura-pura untuk menjadi sebuah pelanggan untuk membeli beberapa obat terlarang yang mereka jual.


Dan karena khawatir mereka akan mengenali Ryuga atau Roy, maka kali ini Ryuga memerintahkan Viollete untuk menjadi umpan dan berpura-pura untuk menjadi salah satu dari pelanggan mereka di sebuah tempat karaoke di pelabuhan itu.


"Vio, apapun yang terjadi jangan menyerang seorang diri! Tunggu instruksi dariku baru kita menyerang bersama!" ucap Ryuga menandaskan kembali.


"Baik, Senior. Aku akan melakukannya dengan baik." Viollete menyauti dengan penuh keyakinan.


"Berikan ponselmu padaku!" titah Ryuga sambil menengadahkan tangan kanannya ke depan.


Sebenarnya Viollete merasa cukup ragu untuk memberikan ponselnya kepada Ryuga. Namun akhirnya Viollete mulai mengambil benda pipih itu dari saku jaketnya dan mulai memberikannya untuk Ryuga.


Ryuga mulai mengusap layar kecil itu, dan mulai melakukan sesuatu dengan ponael Viollete. Setelah beberapa saat, Ryuga mulai memberikan ponsel itu kembali untuk Viollete.


"Aku sudah memasang sting ray untuk menyadap ponselmu. Jadi jangan khawatir, jika terjadi sesuatu maka kami akan segera datang." ucap Ryuga meremehkan Viollete dan sebenarnya masih menganggap lemah Viollete.


Sting ray adalah sebuah perangkat khusus yang dapat berfungsi layaknya base tranciver system (BTS) palsu. Dengan kata lain, Sting Ray bisa menangkap frekuensi dari ponsel yang ada di sekitarnya.


Dan tentu saja Ryuga sengaja memasang perangkat itu agar bisa mendengarkan percakapan Viollete dengan target utama.


"Baik. Dimengerti, Senior." sahut Viollete dengan patuh.


"Pergilah! Malam ini kalian berjanjian di sebuah ruang karaoke VIP ruangan 207." perintah Ryuga. "Aku dan Roy akan menyewa kamar lainnya yang berada dekat dengan ruangan itu."


"Baiklah, Senior." ucap Viollete lalu mulai melenggang untuk memasuki sebuah tempat karaoke dan mulai menyusuri lantai satu yang cukup luas hingga akhirnya Viollete mulai menaiki sebuah tangga untuk mencari ruangan yang sudah diinformasikan oleh Ryuga di lantai 2.


Akhirnya Viollete mulai menemukan ruangan itu dan mulai mengetuk ruangan itu dengan ritme yang terdengar begitu tegas dan teratur.


Tok ... tok ... tok ...


Setelah beberapa saat pintu itu mulai dibukakan oleh seorang pemuda dengan gaya rambutnya yang menyerupai nanas, jabrik dan berwarna sedikit pirang. Pemuda itu memicingkan sepasang matanya menatap Viollete dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Aku Vio. Dan aku datang ingin bertemu dengan bos kalian." ucap Viollete dengan jujur.


"Kamu ingin bertemu dengan bosku? Apa kamu sudah memiliki janji bertemu sebelumnya?" selidik pria itu masih belum mempercayai Viollete.


"Yeap, aku sudah memiliki janji bertemu dengan boss kalian." sahut Viollete masih berusaha untuk bersikap tenang dan ramah kepada pemuda itu.


"Tunggu sebentar!" ucap pemuda itu menutup pintu itu kembali dengan cukup keras, dan meninggalkan Viollete sendirian di depan ruangan 207 itu.


BLAAMM ...


Setelah beberapa saat, akhirnya pintu itu mulai terbuka kembali,dan pemuda berambut jabrik itu mulai memyembulkan dirinya di pintu.


"Masuklah, bos menunggumu!" perintah pemuda itu sambil celingak-celinguk memastikan bahwa tidak ada orang yang sedang mengikuti Viollete saat ini.


Pemuda itu mulai sedikit minggir untuk memberikan jalan untuk Viollete lewat. Hingga akhirnya Viollete memutuskan untuk segera memasuki ruangan itu. Ruangan ini begitu remang-remang dengan lampu warna-warni yang menyinari seperti musik diskotik, ruangan ini juga cukup pengap dan dipenuhi dengan asap serta bau rokok yang menyengat. Dan lagi, tempat ini tetasa begitu berisik untuk Viollete, karena Viollete tak peenah melihat dunia seperti ini sebelumnya.


Di dalam ruangan ini ada beberapa gadis dengan pakaian super minim dan sangat terbuka sedang duduk mengitari seorang pria yang berpenampilan formal, namun sudah sedikit berantakan, karena beberapa kancing kemeja yang sedang pria itu gunakan sudah terbuka beberapa dan pemakaian dasi yang sudah melonggar.


Sementara di tempat duduk lainnya, ada beberapa orang pria, ada yang mengenakan pakaian kasual, namun ada juga yang berpakaian dengan setelan jaz. Ada juga seorang pria yang sedang berduet dan menyanyi bersama seirang gadis dengan berdiri di hadapan semua orang.


Sepasang manik-manik bening Viollete menatap sekelilingnya dengan aneh, sungguh dunia yang tak pernh dilihatnya sebelumnya. Begitu ramai dengan suara musik yang cukup keras dan memekakan gendang telinga.


Sang bos mulai menatap Viollete dari kejauhan dan tersenyum miring, lalu mulai memerintahkan seorang gadis yang sedang duduk di sebelahnya untuk segera berpindah tempat duduk.


Gadis yang diperintahkan itu kini mulai berpindah ke tempat duduk lainnya. Dan sang bos mulai memberikan kode kepada Viollete agar segera duduk bersama dengannya dengan menepuk-nepukkan tempat duduk empuk di sebelahnya yang saat ini sedang kosong.


Viollete yang tanggap akhirnya mulai melenggang kembali dan mendekati pria yang merupakan boss diantara mereka lalu mulai duduk di sebelah pria hidung belang itu.


"Viollete ... jadi kamu yang sudah meminta janji bertemu denganku ya." ucapan yang terdengar nakal dan genit itu sebenarnya cukup membuat risih Voillete, terutama saat pria itu menatap Viollete dari ujung kepala hingga ujung kaku dengan tatapan seolah-olah sedang menelanjangi Viollete.


"Yeap, benar. Itu adalah aku." Viollete menyauti dengan tegas dan berusaha untuk menutupi rasa tidak nyamannya dengan baik.


Pria itu masih saja memasang dan memamerkan senyumannya yang dianggapnya sebagai salah satu jurus andalannya saat mendekati seorang gadia desa.


"Sekarang berikan barang itu padaku!" ucap Viollete masih dengan nada bicara yang sama, terdengar datar namun dingin.


"Baiklah ... baiklah ... namun sepertinya aku sedikit berubah fikiran, Gadis cantik." ucap si boss mulai tersenyum misterius dan terlihat sedang merencanakan sesuatu. "Harga obat-obatan ini sangat mahal. Namun aku akan memberikan penawaran khusus hanya untukmu! Aku akan memberikannya beberapa untukmu, dan kamu hanya perlu membayarnya dengan satu malam menjadi teman tidurku."