The Goddess Of War

The Goddess Of War
Sebuah Amplop Dari Kin Makoto



"Kakek. Makan yang banyak ya. Dan kakek harus segera sembuh kembali." bujuk Viollete menatap Kin Makoto dengan senyum hangatnya.


Meskipun tak ada tanggapan apapun, namun Viollete tetap melanjutkannya. Kini Viollete mulai mengambil sesuap makanan itu dan mulai menyodorkamnya untuk menyuapi Kin Makoto.


Meskipun Kin Makoto hanya membuka sedikit saja mulutnya, namun hal ini sudah sangat baik. Dan Viollete juga melakukannya dengan sabar dan telaten.


Bahkan Viollete melakukannya dengan penuh suka cita. Sebenarnya bukan hanya kepada Kin Makoto saja Viollete rindu. Tentu saja sebenarnya Viollete juga merundukan Kamiko Hyu dan Kamiko Suzu. Kakek dan neneknya dari pihak Amane.


Namun tentu saja Viollete tak bisa mengunjungi mereka berdua. Mengunjungi mungkin sih bisa saja, hanya saja Viollete tak bisa mengatakan jika dirinya adalah Kin Rui, cucu pertama dan cucu satu-satunya dari keluarga besar Kamiko yang juga bukan sembarang keluarga.


Karena keluarga besar Kamiko adalah keluarga yang cukup terpandang dan juga terhormat. Bahkan sebenarnya keluarga Kamiko juga memiliki hubungan yang baik dengan keluarga Kagami, dan kedua keluarga itu juga pernah berniat untuk menjodohkan Amane dengan Kagami Jiro sebelum akhirnya Amane malah menikah dengan Kin Izumi ( baca Casanova In Love ).


Setelah beberapa saat, akhirnya makan malam itu sudah habis begitu saja dan Viollete mulai memberikan segelas susu hangat untuk sang kakek. Kin Makoto meminumnya dengan sebuah pipet.


"Kakek. Pokoknya kakek harus segera sembuh kembali ya. Kalau kakek sudah sehat kembali, aku janji akan mengajak kakek jalan-jalan deh. Terserah kakek mau kemana." ucap Viollet penuh harap dan mengusap salah satu jemari sang kakek.


Masih seperti biasanya, tak ada jawaban apapun. Hanya sebuah tatapan kosong dan tidak memiliki arti yang Viollete dapatkan saat ini. Dan sebenarnya hal ini membuat hati Viollete merasa nyeri. Namun gadis cantik itu segera menutupi kesedihannya dengan senyum manisnya.


"Baiklah. Sebaiknya kakek beristirahat. Ini juga sudah malam. Ayo aku bantu kakek ..." ucap Viollete mulai berdiri kembali dan mendorong kursi roda itu menuju pembaringan.


Viollete meraih salah satu tangan sang kakek dan melingkarkannya pada bahunya. Lalu Viollete memindahkan Kin Makoto agar Kin Makoto bisa segera beristirahat dengan baik dan benar di atas pembaringan.


Mengapa Viollete cukup kuat dan bisa melakukannya seorang diri? Yeap, karena Viollete sudah cukup terlatih tentunya. Sangat kuat, teliti, terampil, genius, dan gesit.


Setelah berpamitan dengan sang kakek, kini Viollete segera meninggalkan kamar Kin Makoto. Namun rupanya Viollete malah berpapasan dengan Buck Karimova saat berada di ambang pintu.


"Papa ..." ucap Viollete menatap sang papa sedikit terkejut.


"Hhm. Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Buck Karimova menatap tajam Viollete seakan sedang mencurigai putri sulungnya itu.


"Uhm? Aku hanya menggantikan asisten rumah tangga untuk memberikan makan malam untuk kakek, Papa." jawab Viollete dengan jujur dan tersenyum hangat menatap Buck Karimova.


"Hhm. Ya sudah. Kembalilah kekamarmu dan istirahatlah! Besok pagi-pagi sekali kita akan segera kembali." ucap Buck Karimova.


"Besok? Bukankah seharusnya lusa, Papa?" tanya Viollete yang sebenarnya masih sangat keberatan untuk meninggalkan kakeknya kembali.


"Papa." sela Viollete dan mulai berbalik menatap punggung sang papa reflek juga membuat langkah Buck Karimova terhenti.


"Ada apa, Sayang?" tanya Buck Karimova.


"Mengapa kakek tidak ikut saja bersama dengan kita, Papa? Agar aku dan Cloud juga bisa merawat dan menjaga kakek." ucap Viollete tiba-tiba. "Keadaan kakek sedikit membaik saat bertemu denganku, Papa. Bahkan kakek juga bisa memanggil namaku. Aku yakin sekali kakek pasti akan segera sembuh jika bersama dengan kita, Papa." imbuh Viollete penuh binar dan sangat bersemangat.


Ucapan dari Viollete sukses membuat sepasang mata Buck Karimova kembali menajam, dan mengeraskan rahangnya.


"Apa kamu merasa lebih hebat dari para dokter keluarga Kin, Viollete?" ucap Buck Karimova mulai berbalik menatap Viollete dengan senyuman miring.


"Buk-bukan seperti itu, Papa." jawab Viollete sedikit kelabakan.


"Disini kakekmu sudah mendapatkan pengobatan dan perawatan yang paling baik. Jadi kamu tenang saja ... tidak perlu mencemaskannya, Sayang. Kakekmu akan tetap berada di rumah besar keluarga Kin. Jika kamu ingin mengunjunginya sangat diperbolehkan, namun kamu harus hati-hati. Dan pastikan tak ada yang mengikutimu. Apa kamu mengerti, Sayang?" ucap Buck Karimova dengan manis namun terkesan penuh dengan ancaman.


"Baik, Papa. Akumengerti." jawab Viollete dengan patuh dan pelan. Dan tentu saja Viollete tak bisa menolak perintah dari sang papa. "Kalau begitu aku kembali dulu, Papa." imbuhnya lalu berbalik dan segera meninggalkan kamar sang kakek.


Viollete kembali masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa untuk menguncinya. Gadis berwajah cantik nan dingin itu kini duduk di tepian tempat tidurnya lalu mulai mencari sesuatu di bawah pembaringan itu.


Sebuah amlop putih berukuran sedang pemberian dari sang kakek itu, kini mulai diambilnya kembali. Kali ini Viollete terlihat sudah tak sabar ingin melihat isi di dalamnya. Hingga akhirnya Viollete mulai meraih pembuka amplop itu dan mulai mengeluarkan isi di dalamnya.


Sebuah kertas yang sedikit tebal dengan tekstur sedikit licin dan glossy mulai dirasakan melalui jemari Viollete yang sudah menyentuh ujung isi di dalamnya. Karena semakin tak sabar akhirnya Viollete mulai mengeluarkannya dengan cepat untuk bisa melihat sepenuhnya.


Kali ini Viollete sudah melihat sebuah foto bersama seperti sebuah keluarga yang begitu hangat. Di dalam foto itu, terlihat ada Kagami Jiro yang kira-kira masih berusia 33 tahun sedang berfoto bersama dengan Yuna istrinya dan juga seorang gadis kecil yang kira-kira berusia 6 tahun.


Gadis kecil itu adalah dirinya sendiri, Kin Rui saat 18 tahun yang lalu. Foto bersama itu diambil di sebuah taman bermain. Dan raut wajah mereka bertiga terlihat begitu bahagia dan penuh binar


Tanpa sadar sepasang mata Viollete mulai berkaca-kaca kembali dan mengusap foto bersama itu dengan lembut.


"Aku tidak tau, mengapa saat itu rasanya begitu nyaman ... bahkan saat itu aku mengiyakan untuk tinggal bersama dengan mereka." gumam Vio begitu lirih.


Namun tiba-tiba sebuah foto mulai terjatuh di atas lantai, dan Viollete mulai memungutnya kembali. Foto itu adalah foto Kagami Jiro yang terlihat lebih muda lagi, dan kira-kira berusia 25 tahun. Dia berfoto bersama dengam seorang gadis cantik yang sangat tidak asing untuk Viollete. Karena gadis cantik dan muda di dalam foto itu tak lain adalah Amane.


Raut wajah mereka berdua terlihat begitu bahagia saat itu. Dan sepertinya hubungan mereka berdua juga cukup dekat di masa lalu.