
TRIINGG ...
Pintu elevator mulai terbuka, kini Viollete mulai melenggang keluar meninggalkan elevator. Dengan langkah yang cukup tegas gadis cantik ini menyusuri sebuah lorong panjang di lantai 13 untuk menuju ke ruangan under boss dari Doragonshadou.
Kini Viollete mulai berhenti di depan sebuah ruangan dan mulai mengetuk pintu itu. Setelah beberapa saat, akhirnya sang pemilik ruangan mulai mempersilakannya untuk memasuki ruangan tersebut.
"Come in ... ( masuk )" perintah sang pemilik ruangan dari dalam ruangan.
Viollete mulai meraih handle pintu dan mendorongnya untuk membukanya. Terlihat seorang pria paruh baya dengan pakaian super rapi dan terlihat sangat berwibawa sedang duduk di atas kursi kerjanya yang empuk dan nyaman.
Pria paruh baya itu mulai menutup sebuah laptop ketika menyadari kedatangan Viollete dan mulai merubah posisi duduknya menjadi lebih santai dan bersandar pada kursinya.
"Take a sit ... ( Silakan duduk ...)" perintah pria paruh baya yang tak lain adalah Wilson.
Viollete mulai menarik kursi di hadapannya lalu memakainya untuk duduk.
"Aku sudah mendengar semua dari Ryuga dan Roy. Kamu berhasil melakukan misi pertamamu dengan sangat baik dan luar biasa!" puji Wilson menautkan kedua jemarinya dan menatap Viollete. "Namun aku sedikit kecewa denganmu, Viollete. Sehebat dan sekuat apapun kamu, jika tidak mempunyai etika terhadap seniormu, maka semua itu tak ada gunanya. Ryuga sudah mengatakan semuanya, kamu bahkan bergerak seorang diri dan mengabaikan mereka ... senior sekaligus teman satu team kamu!" Wilson menyipitkan sepasang matanya menatap Viollete.
Tentu saja Wilson akan membela Ryuga jika dibanding dengan Viollete. Ryuga adalah wakil dari klan Yokohama saat ini. Dan Viollete masih belum sebanding dengan Ryuga saat ini. Bukan masalah keahlian dalam bertarung, namun mereka tak sebanding karena Ryuga sudah menjadi salah satu orang kepercayaan dari Wilson dari Kagami Jiro.
"Sekarang apa kamu bisa menjelaskan semua itu kepadaku, Viollete?" tanya Wilson kembalinyang sepertinya masih memberikan sebuah kesempatan untuk Viollete.
"Tuan Wilson. Maafkan aku ... tapi aku tidak bermaksud apapun, apalagi bermaksud buruk atau tidak menghargai senior Ryuga." ucap Violete berusaha untuk menjelaskan.
Wilson masih terlihat mendengarkan dengan seksama alasan yang akan Viollete katakan padanya. Karena sebenarnya Wilson tak mau melepaskan Viollete begitu saja. Entah mengapa Wilson merasa jika Viollete sedikit berbeda dan memiliki keahlian yang tidak diragukan lagi.
Terlebih Wilson telah mendapatkan sebuah laporan, jika Viollete berhasil mengalahkan beberapa penjaga komplek kawasan penjahat itu dengan mudahnya. Bahkan Viollete berhasil membuat salah satu dari mereka dengan mencekiknya menggunakan kakinya.
"Tuan Wilson, selama ini aku selalu melakukan apapun seorang diri. Aku berlatih ataupun apapun yang selalu aku lakukan ... aku selalu melakukannya seorang diri. Karena untuk melindungi diriku sendiri, aku tidak boleh bergantung kepada orang lain. Maaf jika aku masih terbiasa dengan prinsipku. Dan aku juga tidak sadar jika malam itu ketika aku melakukannya seorang diri, aku sungguh lupa dan terlalu bersemangat. Maafkan aku, Tuan Wilson." ucap Viollete dengan pelan dan jujur.
"Sebuah prinsip hidup dalam pertempuran yang sangat bagus untuk tetap bertahan hidup." ucap Wilson dengan seulas senyum, dan sepertinya Wilson menyukai jawaban dari Viollete. "Namun tidak untuk Doragonshadou, Viollete. Karena sebuah kerjasama dan kemompakan sangat dibutuhkan dalam sebuah team. Jika kamu memang sedang seorang diri menjalankan sebuah misi, so it's fine. Tapi, jika saat kamu bergerak dengan team, kalian harus selalu bersama. Dan satu hal lagi, kamu harus bisa menghargai seniormu. Jika aku memberikan sebuah kesempatan kepadamu sekali lagi, apa kamu bisa melakukannya dengan baik, Viollete?" Wilson mengangkat kedua tangannya dinhadapan wajahnya dan saling menautkan jemarinya satu sama lain dengan dengan kedua siku di atas meja.
"Baiklah, Tuan Wilson. Kali ini aku akan berusaha dengan baik untuk tidak mengecewakan tuan Wilson." Viollete menjawab dengan seulas senyum karena merasa senang saat Wilson masih memberikan sebuah kesempatan untuknya.
"Okay! Nanti tengah malam ikutlah kembali bersama Ryuga dan Roy. Mereka akan menangkap beberapa orang yang sedang dicurigai mengedarkan obat-obatan terlarang yang sangat berbahaya. Kali ini jangan mengecewakanku!" ucap Wilson dengan pelan namun tegas.
"Malam ini lokasi target adalah di pelabuhan. Datanglah sebelum tengah malam ke markas utama Doragonshadou dan kalian akan berangkat bersama. Aku belum bisa memberikan senjata maupun perlengkapan apapun untukmu karena kamu belum resmi menjadi bagian dari kami." ucap Wilson yang seakan berharap jika Viollete akan berhasil kali ini dan bergabung bersama dengan Doragonshadou.
"Baik, Tuan Wilson." ucap Viollete kembali yang sudah cukup merasa senang karena mendapatkan sebuah kesempatan lagi.
"Hhm. Kau boleh pulang. Istirahat dan datanglah kembali sebelum tengah malam!"
"Baik, Tuan Wilson. Kalau begitu permisi." Viollete sedikit menundukkan kepalanya lalu bangkit dari tempat duduknya dan bergegas meninggalkan ruangan itu.
Lorong panjang lantai 13 itu mulai disusuri oleh Viollete, tak ada yang berbeda dari kemarin. Semua desain dan ruangan masih sama. Namun tiba-tiba saja langkah Viollete mulai terhenti di dekat sebuah ruangan yang cukup besar, dan memiliki sebagian pembatas kaca bening, sehingga akan bisa melihat sedikit bagian dalam ruangan.
Di dalam ruangan itu terlihat Kagami Jiro yang sedang duduk di kursinya dan berbincang dengan seorang pria, atau mungkin pria itu adalah tamunya.
Jadi ruangan ini adalah ruangan Kagami Jiro ya? Pria yang sudah membuat hidup mama menjadi sangat menderita, dan pria inilah yang membunuh mama!!
Batin Viollete masih menatap tajam Kagami Jiro dari kejauhan dengan kedua tangan yang sudah mengepal begitu saja. Seringai manis namun terlihat begitu menyakitkan dan penuh dengan luka mulai menghiasi wajah cantik Viollete. Bahkan sepasang mata beningnya mulai berkaca-kaca karena kembali mengingat Amane.
"Viollete ..." sebuah sapaan membuyarkan lamunan Viollete, dengan cepat Viollete segera mengalihkan pandangannya menatap orang yang sedang menyapanya.
Seorang pemuda dengan kemeja kebiruan sudah berdiri dengan tegap di hadapannya dan memasang senyum manis. Pemuda itu rupanya adalah Roy.
"Bagaimana apa kamu sudah bertemu dengan tuan Wilson? Lalu apa keputusannya?" tanya Roy sangat ingin tau.
"Aku sudah menemuinya, dan nanti tengah malam tuan Wilson memintaku untuk pergi bersama dengan kalian untuk misi terakhirku." jawab Viollete dengan jujur.
"Ahh, syukurlah tuan Wilson masih memberimu kesempatan. Ini semua gara-gara Ryuga yang bicara tentang omong kosong hingga akhirnya tuan Wilson ragu untuk menerimamu. Okay, semoga misi nanti malam berhasil, dan kamu bisa bergabung bersama dengan kami." ucap Roy dengan tulus memberikan semangat untuk Viollete.
"Hhm. Terima kasih, Senior Roy. Kalau begitu aku permisi." ucap Viollete membungkukkan badannya lalu mulai meninggalkan seniornya begitu saja.
Roy yang ditinggalkannya mengusap tengkuknya dan meringis menatap kepergian Viollete, "Padahal jika denganku tidak usah terlalu formal. Karena aku lebih suka diperlakukan seperti seorang teman." gerutu Roy lalu berbalik dan mulai melenggang untuk menuju tempat tujuannya saat ini.
...⚜⚜⚜...