
"Kakak ..." ucap Cloud terlihat begitu lega dan bahagia ketika melihat Viollete datang untuk mengunjunginya.
"Cloud ..." Viollete juga terlihat begitu lega saat mengetahui sang adik kini sudah sadar.
Viollete segera melangkah cepat untuk semakin mendekati Cloud dan segera memeluknya dengan hangat.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik, Cloud? Apakah luka itu masih terasa sakit?" tanya Viollete terlihat begitu khawatir.
Karena amunisi yang selalu digunakan oleh Death Eyes memang sangat berbahaya, tidak seperti amunisi pada umumnya.
"Hhm. Aku baik-baik saja, Kak. Dan aku sudah merasa lebih baik. Untung saja kak Roy segera mengambil peluru itu saat itu." sahut Cloud tersenyum tipis dan menatap sang kakak saat pelukan mereka berakhir.
"Hhm. Iya. Maaf ... gara-gara kakak, kamu malah terluka seperti ini." ucap Viollete merasa bersalah.
"Tidak kok, Kak. Jangan menyalahkan diri sendiri, Kakak. Aku hanya ingin menghalangi agar papa menghentikan semua itu. Namun rupanya papa tetap saja melakukan semua itu." gumam Cloud pelan. "Dimana papa sekarang, Kak? Apa papa sudah tertangkap? Apa tidak bisa tuan Kagami Jiro dan papa berdamai saja?"
Viollete terdiam dan terlihat begitu murung setelah mendengarkan ucapan dari Cloud. Hingga akhirnya Viollete mulai menceritakan semuanya kepada Cloud tanpa ada satupun yang terlewat.
"Papa ... jadi papa sudah tiada ya, Kak? Mari kita cari di dalam hutan itu, Kak! Papa pasti masih ada disana, Kak. Ayo kita pergi dan cari papa, Kak! Ayo, Kak Vio!" ucap Cloud begitu memilukan, dan tak sadar pemuda itu kini sudah beruraian dengan air mata.
Sepasang mata Viollete juga sudah mulai terlihat berkaca-kaca. Gadis cantik itu menggeleng pelan dan membungkam mulutnya dengan jemarinya.
"Sudah ada beberapa orang yang telah diutus oleh tuan Kagami Jiro untuk memeriksa hutan itu, Cloud. Namun papa tidak ditemukan. Hanya ada beberapa barang papa yang tertinggal di dekat rawa itu. Hiks ..." ucap Viollete begitu terpukul.
"Tidak mungkin! Ini semua pasti tidak mungkin bukan, Kak! Tidak mungkin, Kak. Papa tidak mungkin meninggalkan kita, Kak. Hiks ..." Cloud kembali terisak karena mengingat papanya.
"Cloud kamu harus tetap kuat! Kamu adalah seorang pemuda kuat dan hebat! Kamu harus tetap kuat saat menjalani hidupmu!" ucap Viollete berusaha untuk menghibur dan menyemangati sang adik.
Selama beberapa saat Cloud masih terisak, dan butuh beberapa saat hingga akhirnya Cloud kembali tenang dan sedikit menerima keadaan saat ini.
"Jadi ... jadi ... semua itu adalah papa yang melakukannya, Kak? Mama meninggal karena papa? Dan bukan karena tuan Kagami Jiro? Dan kakak adalah putri dari tuan Kagami Jiro yang hilang 18 tahun yang lalu?" ucap Cloud begitu bergetar dan sangar lirih.
Rasanya Cloud masih belum bisa mempercayai kenyataan yang sangat tak terduga olehnya ini. Namun inilah yang terjadi. Meskipun berat dan menyakitkan, mereka semua harus bisa menerimanya dengan hati yang besar.
Viollete mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan dari sang adik.
"Cloud. Kamu harus selalu tetap kuat. Sekalipun kakak juga sudah tiada nanti ... kamu juga harus tetao kuat!! Teruslah bersama dengan Nick! Hanya dia satu-satunya keluarga yang kita miliki saat ini!" ucap Viollete berusaha untuk memberikan semangat untuk sang adik.
"Apa maksud kakak? Kakak mau pergi kemana" tanya Cloud semakin kalut karena mendengarkan ucapan dari Viollete yang seolah akan pergi meninggalkan dirinya.
Cloud yang mendengar ucapan itu, memasang wajah memelas dan menggeleng pelan. Dengan cepat Cloud segera meraih tangan Viollete untuk menahan Viollete, berharap Viollete tak akan pernah pergi untuk meninggalkannya.
"Jangan, Kak! Janga pergi dan jangan tinggalkan aku sendirian!" ucap Cloud penuh harap. "Aku sudah kehilangan mama saat aku kecil. Dan aku baru saja kehilangan papa. Kali ini aku tidak mau kehilangan kakak! Hanya kakak yang aku punya saat ini, Kak! Aku mohon ... jangan pergi! Aku mohon tetaplah bersama denganku." ucap Cloud begitu parau.
"Kakak harus membayar semua dosa kakak. Kakak harus menebus semuanya, Cloud! Kamu ... tetaplah jalani hidupmu dengan baik. Kamu masih memiliki Nick. Dia juga seorang kakak untukmu ..." ucap Viollete berusaha untuk tersenyum dan berusaha untuk tetap terlihat tegar.
Cloud masih terisak dan menggeleng pelan. Sementara tangannya masih mencengkeram tangan Viollete dan tak mau melepaskan Viollete.
"Jangan pergi, Kak. Aku mohon ..." ucap Cloud begitu parau.
"Vio ... ini semua bukan salahmu ..." ucap Nickhun yang tiba-tiba sudah datang menghampiri mereka berdua. "Tuan Buck Karimova yang sudah membuat rangkaian cerita palsu dan selalu mencekokimu dengan kebencian. Kamu telah diperalat olehnya untuk melukai tuan Kagami Jiro dan seluruh anggotanya. Ini semua bukan salahmu, Vio."
"Tapi kedua tanganku yang sudah melakukan semua itu, Nick. Biar bagaimanapun akulah yang sudah menyebabkan mereka celaka." tandas Viollete kembali. "Nick, tolong jaga Cloud. Jangan pernah tinggalkan dia ... jadilah kakak untuknya ..." pinta Viollete kepada Nickhun.
"Vio ..." sela Nickhun.
Viollete mulai melepaskan cengkeraman tangan Cloud. Meskipun cukup sulit, namun akhirnya Viollete bisa melepasnya.
"Cloud, jaga dirimu baik-baik. Kakak pergi dulu ..." ucap Viollete lalu berbalik dan mulai melenggang.
GREPP ...
Tiba-tiba saja Nickhun mulai meraih dan menahan lengan Viollete.
"Vio ... tuan Kagami Jiro dan nyonya Yuna pasti akan memaafkanmu. Jangan gegabah, Vio. Mereka sangat menyayangimu ... mereka tak akan menghukummu ..." ucap Nickhun menatap nanar Viollete
"Tapi Kazuma masih koma sampai saat ini, Nick. Aku harus tetap bertanggung jawab. Sekali lagi aku berpesan dan meminta tolong padamu, Nick. Tolong selalu temani Cloud dan jangan pernah kamu tinggalkan dia. Apa kamu bisa, Nick?"
Nickhun masih terdiam beberapa saat karena kebingungan. Sebenarnya tanpa dimintai tolong oleh Viollete, Nickhun akan tetap menjaga dan melindungi Cloud. Dan sebenarnya Nickhun memang sangat menyayangi Cloud layakmya adiknya sendiri.
"Aku pergi, Nick ... " ucap Viollete mulai melepaskan jemari Nickhun dari lengannya lalu segera melenggang meninggalkan ruangan ini.
Nkckhun dan Cloud terlihat begitu terpukul setelah menyaksikan pilihan yang sudah diputuskan oleh Viollete. Namun tak ada yang bisa dilakukan oleh kedua pemuda ini saat ini.
Karena mereka berdua sangat mengetahui bagaimana karakter seorang Viollete. Viollete adalah seorang gadis yang memiliki karakter keras sangat tegas, keras kepala dan dingin.
Apapun yang sudah menjadi keputusan dari Viollete, maka tidak akan bisa digangu gugat dan tak bisa dibantahmya.