
Seorang gadis dengan pakaian serba hitam, memakai masker hitam, serta mengenakan sebuah topi berwarna hitam terlihat sedang berjalan mengendap-endap di depan sebuah butik yang sudah cukup sepi dan gelap.
Kemungkinan para karyawan dari butik itu sudah pulang, karena ini sudah sangat larut. Namun di dalam sebuah ruangan di lantai atas masih ada seorang wanita paruh baya yang sedang melakukan pemeriksaan beberala gaun pesanan dari pelanggan.
Gadis dengan pakaian serba hitam itu sudah mematikan seluruh kamera CCTV di dalam butik itu, maupun di sekitar butik itu. Dengan sangat berhati-hati gadis pemilik sepasang mata kecoklatan itu kini mulai memasuki butik Yuna's Fashions itu.
Pergerakannya begitu pelan dan hati-hati. Sebuah senjata api laras pendek yang baru saja dia temukan di sebuah laci butik ini juga langsung diambilnya begitu saja.
Gadis yang menutup hampir seluruh wajahnya itu dengan sebuah masker dan hanya terlihat sepasang matanya saja itu kini mulai mengintip sebuah ruangan.
Hingga akhirnya gadis yang tak lain adalah Viollete itu mulai melihat Yuna di dalam sebuah ruangan seorang diri. Sepasang mata Viollete menatap tajam Yuna dari kejauhan dan kedua tangannya yang sedang memegang sebuah senjata api kini mulai diangkatnya dan mengarahkannya kepada Yuna.
Sudut-sudut bibir Viollete mulai ditariknya dan membentuk sebuah seringai. Meskipun wajah bagian bawahnya tertutup oleh masker, namun seringai manis namun dingin itu sangat terlihat melalui sepasang mata dengan pupil kecoklatan itu.
"Kali ini kamu akan melihat istrimu yang terluka. Lalu bagaimana dengan perasaanmu?" gumam Viollete pelan dan sudah mulai menarik pelatuh dari senjata api itu.
TAR ...
Namun rupanya Yuna sudah mengetahuinya jika sedang ada yangmengintai dirinya, dan disaat bersamaan dengan meluncurnya amunisi panas itu melalui senjata api laras pendek itu, Yuna sedikit berlari untuk menghindarinya.
Sebuah peluru panas yang sudah ditembakkan itu kini melukai bahu Yuna, padahal Viollete sudah menargetkan jantung Yuna saat itu. Namun karena Yuna yang menyadarinya, akhirnya tembakan itu malah meleset.
Tubuh Yuna seketika sedikit terhempas ke belakang dan ambruk. Sekuat apapun Yuna di masa muda, dia tetaplah seorang wanita yang tentunya tak sekuat Kagami Jiro.
"Cihh sial!!" gerutu Viollete merasa sangat kesal dan berniat untuk mendekati Yuna untuk mengakhiri Yuna sekaligus.
Namun suara derap langkah dari lantai bawah mulai terdengar dan sangat didengar oleh Viollete. Dan hal ini semakin membuat Viollete merasa kesal. Dengan sangat terpaksa kini Viollete mulai mencari sebuah jalan keluar dan berhasil meninggalkan gedung ini melalui sebuah jendela di lantai 2 ini.
Tak beberapa lama, seorang pria sudah datang dengan langkah yang sedang terburu dan mulai menghampiri Yuna. Pria paruh baya itu segera duduk bersimpuh dan meraih tubuh Yuna yang sudah berlumuran dengan darah sehat.
"Yuna!! Siapa yang melakukan semua ini, Sayang?" tanya pria paruh baya yang tak lain adalah Kagami Jiro.
Yuna hanya menggeleng pelan, karena Yuna mrmang tak melihat sosok penembak itu sama sekali.
Kagami Jiro mulai menghubungi seseorang melalui ponselnya. Dan tak menunggu lama panggilan itu sudah diangkat oleh seseorang dari seberang.
"Halo, Tuan ..." sapa seorang pria dari seberang line.
"Igor! Periksa dan cari tau siapa yang melakukan penyerangan terhadap istriku di butiknya!!" titah Kagami Jiro dengan sangat tegas lalu mulai mengakhiri panggilan itu.
Namun Kagami Jiro tak tega melakukannya terhadap sang istri, terlebih tak ada obat bius saat ini. Dan pasti rasanya akan sangat menyakitkan untuk Yuna.
"Sayang, bertahanlah sebentar lagi! Kamu akan baik-baik saja. Tahan dulu luka itu dengan kain itu!" ucap Kagami Jiro saat berada di dalam mobilnya.
Sementara Yuna masih menahan sebisanya luka itu dengan menggunakan sebuah kain dan sedikit menekannya dengan tangannya.
...⚜⚜⚜...
"Arghh ... kali ini aku gagal lagi!! Wanita itu pasti akan selamat karena peluruku meleset. Wanita bernama Yuna itu rupanya hebat juga bisa mengetahui jika ada seseorang yang sedang mengincarnya. Cih ..." Viollete merasa sangat kesal dan menghempaskan tubuhnya yang ramping di atas pembaringannya.
"Lain kali aku harus berhasil!! Namun sebaiknya aku merubah targetku dulu untuk kali ini. Hhm ... bagaimana jika dengan Kagami Gumi? Dia sering menghabiskan waktu tuanya untuk bermain golf. Baiklah ..." gumam Viollete mulai merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap dan mulai menyalakan laptopnya.
Cukup lama Viollete menyibukkan dirinya dengan laptop itu dan akhirnya Violletw mulai tertidur saking mengangtuknya.
...⚜⚜⚜...
"Semua rekaman kamera CCTV saat itu sedang offline, Tuan. Baik rekaman di butik maupun di sekitar butik. Semuanya sedang mati dan tak merekam apapun." ucap Igor melaporkan kepada Kagami Jiro. "Dan tak ada petunjuk apapun yang tertinggal, Tuan. Bahkan dia menggunakan sebuah senjata api milik nona Yuna. Dan senjata api itu tidak meninggalkan sidik jari dari pelaku." imbuh Igor lagi.
"Argh ... lagi-lagi seperti itu! Segera cari dan temukan Kin Izumi!! Aku sangat yakin jika dia yang berada di balik semua ini!! Cari dia sampai ketemu!! Aku tidak peduli lagi!! Antara mati dan hidup, bawa dia kehadapanku!!" titah Kagami Jiro yang sudah begitu dipenuhi dengan amarah yang sudah memuncak.
"Ba-baik, Tuan." sahut Igor dengan bergetar saking merasa ketakutan.
"Perkuat dan tambah keamanan untuk menjaga seluruh keluargaku!!" titah Kagami Jiro lagi dengan suara besarnya yang begitu menggelegar seisi ruangan.
Kin Izumi!! Beraninya kau melakukan semua ini!! Kamu sudah membawa putriku!! Kamu juga sudah membuat Kazuma koma, dan sekarang kamu berniat untuk mencelakai istriku? Kali ini aku tak akan memaafkanmu lagi!! Kau akan segera aku temukan dan kau akan segera berakhir!!
Batin Kagami Jiro mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya. Sepasang mata kecoklatan itu menyorot dengan sangat tajam dan menusuk.
...⚜⚜⚜...
Nickhun terlihat mulai memeriksa beberapa koran lama yang sudah dicarinya dengan susah payah. Nickhun juga mulai berselancar dan mencari informasi melalui komputernya untuk mencari tau peristiwa yang terjadi 18 tahun yang lalu.
Nickhun sangat berharap semoga usahanya kali ini akan membuahkan hasil dan bisa sedikit membantu Viollete untuk menemui titik terang.
Setelah beberapa saat akhirnya Nickhun mulai menemukan sesuatu melalui berita media di Tokyo yang terjadi 18 tahun yang lalu. Dan berita itu cukup membuatnya begitu syok bukan main hingga membuatnya sedikit terperanjat.
"Tidak mungkin ... ini semua tidak mungkin ..." gumam Nickhun pelan dan masih menatap lekat layar di hadapannya itu.