
TAR ...
Peluru panas itu meluncur dan mengenai lengan kanan Viollete begitu saja, dan Viollete sempat melihat seorang pria yang masih berada di dalam sebuah mobil, seorang pria yang masih memegang senjata api dan menodongkan ke arahnya. Dan pria itu adalah salah satu kaki tangan dari Buck Karimova.
Perasaan Viollete mulai berkecamuk menjadi satu, bergejolak dan tak tau apa yang harus dia lakukan saat ini. Perasaan sedih, kecewa sesak, menyesal, merasa bersalah ... semua perasaan itu cukup sulit untuk digambarkan untuk saat ini.
Mengapa? Mengapa mereka menyerangku? Apa salahku?
Batin Viollete masih dengan suasana hatinya yang masih tidak menentu. Bahkan Viollete mulai lengah disaat pria di hadapannya kini tiba-tiba saja sudah mulai memukul tengkuknya.
Serangan itu bisa sedikit dihindari oleh Viollete, meskipun berhasil mengenai tengkuknya dan membuat Viollete terjatuh dan tersungkur di atas lantai trotoar.
BRUUGHH ...
"Argh ..." Viollete merintih pelan dan memegangi lengan kanannya yang terluka karena peluru panas andalan dari Death Eyes.
Karena tak memungkinkan untuk melawan mereka saat ini, akhirnya Viollete memutuskan untuk menghindari mereka terlebih dahulu. Viollete berusaha untuk bangkit kembali dan berdiri. Lalu Viollete mulai berlari dan berusaha untuk kabur dari mereka semua.
Tak ada guna melawan mereka anak buah sang papa saat ini, saat ini Viollete hanyalah ingin segera sampai di rumahnya untuk menemui Buck Karimova dan meluruskan semua yang sudah terjadi.
Viollete mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatannya untuk berlari sekuat dan secepatnya agar bisa menghindari buruan dari anak buah sang papa yang rupanya masih saja mengejar Viollete.
Viollete terus berlari dan menyeberangi jalan raya yang masih begitu ramai dengan lalu lalang bus, mobil, maupun kendaraan lainnya lagi. Viollete berlari disaat lampu lalu lintas sedang menunjukkan warna hijau. Namun Viollete bisa menyeberanginya dengan baik, meskipun begitu menguji adrenalin semua orang yang menyaksikan aksi seorang gadis yang cukup sembrono itu.
Beberapa anak buah Buck Karimova juga masih berusaha untuk mengejar Viollete, bahkan mereka juga ikut menyeberangi jalanan itu namun ada beberapa dari mereka yang malah tertabrak oleh mobil yang melintas, sehingga menghambat mereka dalam pengejaran Viollete.
CKITT ...
BRAK ...
Kali ini sebuah mobil sudah melakukan pengereman dan berhenti mendadak di depan Viollete. Viollete berhenti karena mobil itu menghalangi jalannya. Namun tiba-tiba saja pintu samping kemudi itu mulai terbuka begitu saja, dan mulai terlihat seorang pria paruh baya duduk di kursi kemudi sedang menatap Viollete dengan tatapan yang sulit untuk digambarkan.
Sepasang mata kecoklatan pria paruh baya beberapa saat mengawasi arah belakang Viollete, sementara Viollete malah terpaku begitu saja menatap pria paruh baya yang tiba-tiba saja menghampirinya itu.
"Masuklah dulu, Vio!" titah pria paruh baya yang tak lain adalah Kagami Jiro.
Sebenarnya Viollete terlihat begitu ragu untuk memenuhi perintah dari Kagami Jiro, namun kini anak buah dari Death Eyes sudah mulai terlihat kembali semakin mendekati mereka berdua.
"Masuklah dulu! Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menghadapi mereka! Kamu sedang terluka!" titah Kagami Jiro lagi menegaskan hingga akhirnya Viollete menuruti perkataan dari Kagami Jiro dan mulai memasuki mobil mewah berwarna hitam metalik itu.
Viollete mulai menutup pintu mobil itu dan tepat disaat itu para kaki tangan Buck Karimova mulai berbelok pada gang dimana Viollete teakhir berada di tempat itu sebelum Viollete pergi bersama dengan Kagami Jiro.
BRUM ...
Mobil mewah berwarna hitam metalik ini kini mulai melaju dengan cukup kencang. Dan mobil ini tidak menuju ke sebuah rumah sakit, melainkan ke sebuah kediaman, yang berada tak jauh dari Danenchofu, kediaman utama keluarga besar Kagami.
"Hentikan pendarahan dan segera berikan tekanan serta segera tutup luka itu dulu dengan pengikat untuk menghentikan pendarahan!" titah Kagami Jiro saat masih berada di dalam mobil. "Cepat lakukan untuk menahan keluarnya darah dan membantu komponen darah agar tetap bersama dalam luka, sehingga akan mendorong proses pembekuan darah!" imbuh Kagami Jiro yang masih berusaha untuk mengemudi secepat mungkin.
Viollete menurut dan segera mengambil sebuah slayer dari dalam ransel hitamnya lalu mulai mengikatkannya pada daerah lengan kanan yang terluka karena senjata api itu.
Setelah beberapa saat Kagami Jiro dan Viollete mulai memasuki sebuah kediaman bergaya Eropa modern itu dan lekas menuju ke sebuah ruangan. Dimana ada sebuah brankar dan peralatan medis yang sudah tersedia di ruangan itu.
"Duduklah ..." perintah Kagami Jiro memerintahkan Viollete agar duduk di atas brankar.
Sedangkan Kagami Jiro terlihat sedang mempersiapkan sesuatu. Viollete masih saja terdiam, namun semua anggota tubuhnya mematuhi dan menjalankan perintah dari Kagami Jiro.
Beberapa gunting bedah, pinset, scalpel / pisau operasi yang digunakan untuk membantu saat melakukan melakukan pembedahan yang berbentuk tajam dan ada yang runcing, maupun peralatan bedah lainnya terlihat sudah dipersiapkan oleh Kagami Jiro dan semua benda-benda itu sudah disterilkan terlebih dulu tentunya.
"Aku sengaja tak membawamu ke rumah sakit, karena rumah sakit terdekat masih membutuhkan jarak tempuh yang cukup memakan waktu. Sementara darah sudah semakin banyak yang keluar." ucap Kagami Jiro mulai mendekati Viollete dan membawa semua peralatan itu. "Aku yang akan mengeluarkan peluru itu! Karena jika terlalu lama mengeluarkannya, semua akan sangat fatal. Karena peluru mereka adalah bukan sembarang peluru." imbuh Kagami Jiro sudah bersiap dengan sebuah pinset dan juga pisau operasi.
"Namun saat ini aku sedang kehabisan obat bius. Jadi tahanlah sedikit rasa sakit ini!!" imbuh Kagami Jiro mulai melakukan sesuatu untuk proses pengambilan peluru pada lengan kanan Kagami Jiro.
Viollete masih saja terdiam dan mulai mengambil nafas panjang dan melepaskannya perlahan. Rasa sakit saat melakukan operasi tanpa bius kali ini tak sebanding dengan rasa sakit saat dirinya kehipangan mamanya.
Namun saat ini ada sesuatu yang begitu mengganggu angan Viollete kali ini.
Mengapa kaki tangan papa berniat untuk menyerangku? Mereka bahkan telah melukaiku dengan peluru panas mematikan ini... sebenarnya mengapa? Apa salahku? Apakah ini karena aku dan teman-teman yang sudah menyerang salah satu markas Death Eyes saat itu di desa Aiko Iyashi No Sato? Papa ... aku ingin sekali bertemu denganmu saat ini.
Batin Viollete yang terlihat begitu terluka dan sedikit pucat. Gadis cantik ini mulai menatap Kagami Jiro yang saat ini sedang berusaha untuk menolongnya dengan mengeluarkan peluru panas itu dari lengan kanan Viollete.
Tiba-tiba saja tubuh Viollete menjadi sedikit bergetar. Ada perasaan yang begitu sulit untuk digambarkan dan tak dimengerti olehnya.
Kagami Jiro! Mengapa kamu menolongku?! Mengapa harus kamu yang menolongku?! Aku tidak mau berhutang budi dengan pembunuh mama!!
Batin Viollete menatap nanar Kagami Jiro dengan sepasang mata kecoklatannya yang sudah mulai berair.