
Malam itu di dalam salah satu ruangan di kediaman rumah besar keluarga Kin, terlihat Buck Karimova sedang duduk di atas sebuah sofa tunggal. Di depannya sudah ada seorang pria, yaitu salah satu orang kepercayaan Buck Karimova yang sudah lama bekerja di rumah besar keluarga Kin.
"Keadaan tuan besar Kin Makoto saat ini semakin memburuk, Tuan." ucap pria itu melaporkan kepada Kin Izumi alias Buck Karimova.
"Hhm. Laporkan semua padaku!" titah Buck Karimova dengan suaranya yang terdengar tegas.
"Penumpukan protein sangat tidak normal dan mengganggu kinerja sel-sel saraf di otak tuan Kin Makoto dan tentunya sangat mempengaruhi fungsi otaknya. Tuan Kin Makoto mengalami penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir, kemampuan berbicara, serta perubahan perilaku. Dan penyakitnya ini semakin memburuk dalam dua tahun ini. Bahkan tuan Kin Makoto tidak mampu lagi melakukan pekerjaan sehari-hari. Tuan Kin Makoto hanya menghabiskan waktunya di atas kursi roda dan melamun saja sepanjang hari. Penyakit progresif ini menghancurkan hampir seluruh memori dan fungsi mental tuan Kin Makoto. Koneksi sel otak dan sel-sel juga merosot dan mati." jelas pria yang selama ini selalu menjaga Kin Makoto dengan baik dan sepenuh hatinya.
Buck Karimova Karimova menghela nafas dan menghembuskan nafas kasarnya ke udara begitu saja.
"Kasihan sekali ayahku. Namun dengan kondisinya yang seperti ini, maka ini akan sangat menguntungkanku. Sampai kapanpun Viollete dan Cloud tak akan mengetahui kebenarannya! Bagus sekali!!" ucap Buck Karimova menyeringai menakutkan dengan kedua jemarinya yang saling ditautkan.
...⚜⚜⚜...
Pagi-pagi sekali Viollete sudah bangun. Setelah membersihkan dirinya, gadis berwajah cantik dan selalu terlihat dingin itu mulai mencari sang kakek yang sudah 18 tahun tak pernah saling bertemu.
Setelah bertanya dengan beberapa asisten rumah tangga, akhirnya Viollete mulai menemukan sang kakek yang saat ini sedang berada di dalam kamarnya.
Seorang gadis asisten rumah tangga juga terlihat sudah duduk bersimpuh di hadapan Kin Makoto dan sedang berusaha untuk menyuapi Kin Makoto yang sedang duduk di atas kursi rodanya. Namun Kin Makoto tak membuka mulutnya sama sekali.
Tubuh Viollete mulai bergetar hebat melihat sosok sang kakek yang kini sudah terlihat semakin menua. Seluruh rambutnya juga sudah beruban, dan tubuhnya sudah semakin kurus. Tatapannya kosong menatap lurus ke arah jendela kamarnya.
Viollete tak kuasa menahan kesedihannya hingga membuat sepasang matanya mulai berkaca-kaca saat melihat kondisi sang kakek saat ini. Selama ini, alangkah sangat menderita dan merasa sendirian Kin Makoto karena Viollete, Cloud dan Kin Izumi yang meninggalkannya ke desa Wang Nam Khiao.
"Kakek ..." ucap Viollete begitu lirih dan terdengar begitu bergetar.
Perlahan Viollete mulai melangkahkan kakinya untuk mendekati sang kakek. Gadis asisten rumah itu kini mulai menyadari kehadiran Viollete dan segera berdiri lalu minggir.
"Kamu pergilah. Biarkan aku saja yang menyuapi kakek." ucap Viollete dengan pelan.
"Baik, Nona muda." ucap gadis asisten rumah tangga itu lalu mulai memberikan semangkok bubur hangat untuk sarapan Kin Makoto.
Gadis asisten rumah tangga itu kini mulai melenggang meninggalkan mereka berdua. Sementara Viollete mulai duduk bersimpuh di hadapan sang kakek.
Beberapa saat Viollete masih menatap nanar Kin Makoto yang sudah terlihat seperti orang yang ling lung karena penyakit alzheimer itu. Viollete merasa begitu sesak dan tak sadar ada air mata hangat itu mulai membasahi pipi mulusnya. Namun dengan cepat, Viollete segera menyekanya dan mulai untuk menyuapi sang kakek.
Karena medapatkan respon yang baik, akhirnya Viollete segera menyuapi kembali sang kakek dengan sangat telaten. Hingga akhirnya semangkok bubur itu habis dengan cepat, dan Viollete mulai meletakkan mangkok kosong itu di sebelahnya.
"Kakek ... kakek apa kabar? Ini aku, Kakek. Kin Rui ... cucu kakek yang paling cerewet saat itu. Aku sudah datang kembali kakek. Apa kakek bisa mendengarku?" ucap Viollete dengan suaranya yang bergetar karena menahan tangis.
Kin Makoto yang sejak dari tadi hanya memandangi jendela kamar dengan kaca bening anti peluru itu kini perlahan mulai beralih menatap Viollete. Namun pandangannya masih kosong dan masih seperti orang yang sangat ling lung.
"Apa kakek mengingatku?" ucap Viollete kembali menatap lekat sang kakek dengan sepasang matanya yang masih saja berair.
Tak ada jawaban, Kin Makoto hanya menatap Viollete dengan tatapan kosong. Namun tangan kanan pria tua yang sudah dipenuhi dengan guratan-guratan halus itu kini mulai diangkatnya dan meraih sisi samping kiri wajah Viollete. Dan seketika Viollete juga meraih jemari hangat yang masih menempel pada sisi samping wajahnya itu.
Bibir Kin Makoto terlihat sedikit bergetar, seakan ingin menyampaikan sesuatu. Namun terlihat masih begitu berat untuk berkata-kata dan pada akhirnya mulai terdengar ucapan pertama dari dirinya selama beberapa tahun ini tak mengucapkan apapun.
"Kkkiiinn Rruui ... ccuu-ccuu-kkuu ..." ucap Kin Makoto begitu lirih.
Pandangannya masih saja menatap Viollete dengan tatapan yang begitu kosong dan tanpa ada ekspresi sedikitpun. Namun itu semua sudah sangat ajaib dan merupakan kemajuan untuk kesehatan dari Kin Makoto yang mulai membaik.
Viollete mengangguk pelan, air mata haru itu kini meleleh begitu saja dan kembali membasahi kedua pipinya yang putih itu.
"Iya, Kakek. Ini adalah aku ... Kin Rui ... cucu kakek. Maafkan aku karena selama ini tidak bisa mengunjungi kakek." tangis Viollete mulai pecah dan gadis cantik itu mulai memeluk sang kakek dalam keadaan duduk bersimpuh.
Masih saja tak ada jawaban. Kin Makoto hanya terdiam dengan tatapan yang masih kosong, namun salah satu jemarinya mulai mengusap lembut kepala Viollete.
Sedangkan Viollete masih saja menangis dan memeluk kaki sang kakek, untuk mengeluarkan segala emosinya saat ini.
"Kkkin ... Rrruuii ..." mulai terdengar kembali suara lirih dari Kin Makoto, namun kali ini pria tua itu mulai meraih jemari Viollete dengan pergerakannya yang sedikit bergetar.
Perlahan Kin Makoto memberikan sebuah amplop putih berukuran kecil untuk Viollete yang rupanya sudah disimpannya di dalam saku pakaiannya.
Rupanya kemarin malam indera pendengaran dan ingatan Kin Makoto kembali berfungsi saat dua orang asisten rumah tangganya saling bercerita, jika putra dan kedua cucunya sudah tiba di rumah besar keluarga Kin.
Kin Makoto yang saat itu sedikit sadar dan teringat mulai mengambil sesuatu yang selama ini sudah disimpannya dengan rapi dan berniat untuk memberikannya untuk Viollete.