
"Viollete ..." ucap Roy yang masih menatap Viollete dengan penuh kecurigaan. Dan ucapannya sukses membuat seluruh orang yang sedang berada di gerbong ini juga beralih menatap Viollete karena penasaran. "Kaukah itu? Kamu yang telah menjinakkan alat peledak ini bukan? Karena diantara kita, hanya kamu yang lebih dulu sampai di tempat ini. Kamu bahkan mengejar kereta api ini dari Yokohama. Dan aku melihat semuanya saat kamu berhasil manaiki kereta api ini." imbuh Roy masih menyipitkan sepasang matanya menatap Viollete.
Viollete yang mendengarkan ucapan dari Roy sebenarnya cukup bingung harus menjawab apa, karena kini seluruh mata sedang menatap ke arahnya. Namun akhirnya Viollete memutuskan untuk menjawabnya dengan jujur.
"Hhm. Aku yang sudah memutuskan salah satu kabelnya agar peledak itu tidak bisa berfungsi." jawab Viollete seadanya.
"Benarkah itu? Siapa sebenarnya kamu? Aku bahkan tidak pernah melihatmu sebelumnya. Apa kamu adalah orang baru?" beberapa pertanyaan mulai dilontarkan oleh Perdana Menteri Hiroyuki yang dari raut wajahnya sangat terlihat jika Perdana Menteri Hiroyuki cukup tertarik kepada Viollete.
Dan tentu saja semua itu semakin membuat Ryuga semakin kesal terhadap Viollete yang bisa dikatakan masih bau kencur karena masih sangat baru bergabung bersama dengan Doragonshadou!
Bagaimana mungkin seorang ketua tim, bahkan seorang wakil dari klan Yokohama Doragonshadou bisa dikalahkan oleh seorang pendatang baru? Tentu saja itu sangat membuat Ryuga merasa kesal dan tersaingi.
Belum sempat Viollete menjawab pertanyaan dari Perdana Menteri Hiroyuki, dengan cepat Ryuga segera menyerobotnya lebih dulu.
"Perdana Menteri Hiroyuki." ucap Ryuga mulai berjalan beberapa langkah ke depan dengan langkah lebar yang tegas dan membuat semua orang kini beralih menatap Ryuga. "Dia adalah Viollete. Dan adalah juniorku, dan dia juga masih begitu baru bergabung bersama dengan kami. Semoga tindakannya yang terlalu sembrono ini tidak membuat Perdana Menteri Hiroyuki merasa terganggu. Aku sebagai seniornya meminta maaf atas semua ini."
"Tidak Ryuga. Kamu sangat hebat memiliki junior seperti Viollete yang gesit, terampil, cerdas dan juga bisa melakukan bela diri dengan baik." ucap Perdana Menteri yang malah memuji kehebatan Viollete. "Baiklah mari kita segera kembali. Keluargaku sudah menantikan kehadiranku. Dan akan menjamu kalian semua. Kabinet Fumio juga akan segera ditangkap, jadi tak perlu khawatir lagi."
Kini mereka semua segera meninggalkan kereta api peluru itu, dan mulai memasuki mobil masing-masing. Mereka kembali mengawal Perdana Menteri Hiroyuki menuju kediamannya di Yokohama.
...⚜⚜⚜...
"Vio, wajahmumu terluka dan memiliki banyak lebam. Biarkan aku mengkompres dan mengobatinya sebelum kamu pulang. Atau keluargamu akan sangat mengkhawatirkan kamu dan bersedih jika melihat semua luka ini." Roy berniat menahan Viollete setelah pekerjaan hari ino selesai.
Dan saat ini mereka masih berada di markas utama Doragonshadou dan sudah bersiap untuk pulang. Viollete tersenyum tipis dan menepis sopan tangan Roy yang mencoba menahan Viollete untuk segera pulang.
"Terima kasih, Senior Roy. Tapi tidak usah. Aku akan mengobatinya saat di rumah saja. Lagipula keluargaku saat ini sedang tidak berada di rumah. " jawab Viollete berbohong, karena Viollete memang tidak ingin menjadi dekat dengan siapapun.
Sebisa mungkin Viollete akan selalu menjaga jarak dengan orang lain, agar identitas rahasianya selalu aman dan tidak ada yang sampai mengetahui jika sebenarnya Viollete Karimova adalah Kin Rui, putri sulung dari Buck Karimova dan Amane. Sebuah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
Bahkan Nickhun yang sudah lama berteman dengan Viollete saja hanya sebatas mengetahui nama asli Viollete saja dan tidak mengetahui masa lalu Viollete dengan baik. Bahkan Nickhun juga tidak mengetahui seperti apa kehidupan Viollete saat di Jepang.
Viollete segera meninggalkan Roy begitu saja dan berpapasan dengan Lay Zhang yang malah kembali lagi untuk mengambil sesuatu.
Namun Violletw malah melenggang kembali dan meninggalkan Lay Zhang begitu saja.
Huft ... ponselku terjatuh dan malah rusak. Aku harus segera memperbaikinya nanti malam. Semoga masih bisa dipakai. Ada beberapa foto mama yang belum aku pindahkan ke laptop.
Batin Viollete yang terus saja melenggang hingga kini Viollete mulai memasuki sebuah elevator dan mulai menuju ke lantai dasar. Kini Viollete mengeluarkan sesuatu dari saku blazer hitamnya.
Terlihat sebuah kartu nama yang memiliki dasar warna hitam dan di atasnya ada beberapa tulisan yang menunjukkan nama serta nomor ponsel Perdana Menteri Hiroyuki. Karena setelah mengantarkan Perdana Menteri Hiroyuki, Perdana Menteri Hiroyuki berniat memberikan sejumlah uang untuk Viollete.
Namun Viollete menolaknya dengan sopan saat itu. Hingga akhirnya Perdana Menteri Hiroyuki memberikan kartu identitas miliknya untuk Viollete dan mengatakan, jika sewaktu-waktu Viollete membutuhkan sebuah bantuan dari dirinya, maka Perdana Menteri Hiroyuki akan membantunya.
"Cck ... lagi-lagi sebuah kartu." gumam Viollete yang berniat untuk melemparkan kartu hitam itu ke dalam tempat sampah.
Bahkan pijakan bawah dari tempat sampah itu sudah Viollete injak dan tempat sampah itu sudah terbuka. Namun Viollete segera mengurungkan niatnya dan menatap kembali kartu berwarna hitam dengan tulisan keemasan di atasnya
Tidak! Jangan kamu buang, Vio! Mungkin saja suatu saat kamu akan membutuhkannya. Benar sekali. Sebaiknya aku menyimpannya saja. Mendapatkan bantuan dari seorang Perdana Menteri? Ckk ... pasti akan sangat bermanfaat ...
Viollete menyeringai manis dan mulai menyimpan kembali kartu ke dalam saku blazer yang sedang dia kenakan saat ini. Setelah beberapa saat akhirnya pintu elevator mulai terbuka. Viollete melangkah cepat dan segera meninggalkan elevator.
Udara malam kota Tokyo tak jauh beda dari biasanya. Dingin sedikit membuat membeku. Dan lagi-lagi Viollete melupakan sesuatu untuk membawa pakaian hangat.
Viollete mulai berjalan menuju halte untuk menaiki busway, namun tiba-tiba saja seseorang dari arah belakang mulai memakaikan sebuah pakaian hangat pria untuknya.
Hal ini cukup membuat Viollete merasa terkejut, dan kejadian seperti saat ini adalah seperti sebuah dejavu untuknya. Namun tanpa sadar Viollete mulai memasang kuda-kuda dan sudah bersiap untuk melayangkan tinjunya untuk menjaga dirinya.
Namun belum sempat tinju itu melayang, tiba-tiba saja mulai terdengar suara seorang pria dari arah belakangnya.
"Mengapa lama sekali, Vio? Aku sudah menunggumu cukup lama dari tadi disini lo." kini mulai terdengar suara seorang pria yang cukup familiar untuk Viollete.
Viollete belum sempat berbalik, karena pemuda itu kini mulai berjalan beberapa langkah ke depan, dan berhenti tepat di hadapan Viollete saat ini. Senyuman dari pemuda itu kini mulai memudar saat melihat wajah Viollete yang memiliki banyak lebam dan luka.