
Roy mulai memberikan serangan yang begitu tenang dan menghanyutkan dengan menarik dan mencekik leher pria penjaga pintu belakang dengan menggunakan sebuah slayer yang sudah Roy siapkan sebelumnya.
Fantastis! Hanya dengan sekali tarikan yang begitu kuat, pria penjaga itu langsung kehabisan nafas dan ambruk begitu saja di atas lantai yang berwarna gelap itu.
BRUUGGH ...
Namun rupanya tak semudah dan tak sesempurna itu! Karena tiba-tiba saja mulai terdengar suara seorang pria yang begitu serak dan berasal dari belakang Roy dan Viollete.
"Siapa disana?!"
Viollete dan Roy terpaku begitu saja namun belum bisa melakukan apapun, karena setiap tindakannya harus dilakukannya dengan matang dam sesuai perhitungan. Karena jika tidak, maka semua rencana akan menjadi sia-sia saja.
Derap langkah pria itu kini semakin mendekati Roy dan Viollete dengan sebuah cahaya lighter yang digunakan untuk menyorot tubuh belakang Roydan Viollete. Sementara tangan satunya sudah bersiap dengan sebuah senjata api laras panjang.
"Kalian berdua angkat tangan!" titah pria itu dengan sangat tegas. "Kalian kah penyusup itu?!" ucap pria itu yang sudah mulai menghentikan langkah kakinya kira-kira berjarak 2 meter dari Viollete dan Roy.
Tak ada pilihan lain, hingga akhirnya Viollete dan Roy mulai mengangkat kedua tangannya ke atas dan mereka berdua saling melirik satu sama lain dan Roy hanya mengisyaratkan kepada Viollete untuk melakukan sesuai perintah pria yang sedang memergoki mereka berdua.
"Jawab!! Apa kau tuli?!" ucap pria itu kembali dengan suara yang lebih menggelegar dan sakung kesalnya, pria itu malah menendang punggung Roy dan membuat Roy terjatuh terduduk.
DUUAKK ...
Disaat pria itu hanya fokus kepada Roy, disaat itulah Viollete menggunakan sebuah kesempatan ini untuk menyerang pria itu dengan menabrakkan tubuhnya sekeras mungkin pada pria itu hingga tubuh pria itu terjatuh dan Viollete mulai mencekik pria itu hingga pria itu kehilangan nyawanya.
Sebenarnya ada rasa sesal di dalam hati Viollete jika mengingat pria itu adalah salah satu kaki tangan sang papa. Namun saat ini Viollete tak memiliki pilihan lain. Dan Viollete juga harus membela Doragonshadou saat ini, terlebih salah satu seniornya masih berada bersama dengannya.
Roy mulai bangkit kembali dan mendekati Viollete lalu mulai menarik kedua pria itu dan mendudukkannya di dekat pintu dan membuatnya terlihat seakan-akan mereka sedang tertidur.
Setelah itu Roy mulai mengambil sebuah masker bercorak tengkorak milik kedua pria yang sudah tiada itu lalu mulai memberikan satu untuk Viollete.
"Pakai ini untuk sedikit mengecoh mereka!" titah Roy dengan sangat terpaksa.
Bahkan Viollete terlihat begitu keberatan saat Roy memerintahkan dirinya juga mengenakan masket bercorak tengkorak dan merupakan bekas dari para kaki tangan Death Eyes itu. Coba bayangkan saja! Masker bekas!!
Namun tak ada pilihan lain, karena itu adalah salah satu ciri dari khas dari Death Eyes, anak buahnya menggunakan masker hitam dengan corak tengkorak. Dan dengan memakai masker tersebut, maka Roy dan Viollete akan lebih leluasa bergerak dan menyelinap masuk.
Roy mulai memakai salah satu masker hitam dengan corak tengkorak itu dengan posisi membaliknya, agar bau jigong yang masih tersisa di masker itu tak begitu tercium olehnya. Viollete juga dengan terpaksa mulai memakai masker itu dengan cara yang sama seperti Roy yang mengenakannya dengan cara terbalik.
Roy dan Viollete berjalan lebih santai dan tanpa mengendap-endap lagi karena sudah melakukan sedikit penyamaran. Satu persatu anggota dari Death Eyes mereka lalui begitu saja. Meskipun sebenarnya ada beberapa dari mereka ada yang sedikit mencurigai Viollete dan Roy. Namun semua itu tak diperpanjangnya dan membiarkan Roy dan Viollete berlalu begitu saja.
Saat ini tujuan utama dari Roy adalah menemukan Kin Izumi di dalam gedung tua yang cukup besar ini. Jadi Roy memutuskan untuk tidak menyerang siapapun saat ini sebelum dia menemukan Kin Izumi.
Ruangan demi ruangan terus saja disisiri oleh Roy dan Viollete , bahkan kini mereka sudah mencapai lantai paling atas di sebuah ruangan. Namun mereka berdua masih belum menemukan sosok yang dicurugai.
Viollete semakin resah karena mengkhawatirkan sang papa. Dan sebenarnya Viollete sangat berharap jika sang papa sudah meninggalkan tempat ini dan juga desa ini.
Namun rupanya harapan tak berjalan sejalan dengan kenyataan, karena rupanya Buck Karimova masih berada di bangunan tua ini. Bahkan saat ini Buck Karimova sedang berada tepat di lantai bawah dimana Viollete dan Roy berada.
Tak sengaja Viollete menemukan dan melihat sosok Buck Karimova melalui lantai kayu yang bercelah dan Buck Karimova terlihat sedang memeriksa sebuah senjata baru bersama dengan beberapa anak buahnya.
Tubuh Viollete bergetar dengan hebat dan semakin merasa kebingungam untuk mengambil sebuah keputusan. Bahkan sepasang mata kecoklatannya terlihat sedikit bergetar dan kini sudah semakin berkaca-kaca.
"Papa ..." Viollete bergeming pelan dan hatinya sungguh sedang merasakan gejolak yangbegitu berat.
Sesekali Viollete terlihat mengalihkan pandangannya untuk menatap Roy yang saat ini masih berada di dalam ruangan ini juga, namun sedikit berada di depan Viollete dan masih memeriksa sesuatu.
Dan sepertinya Roy juga belum menyadari dan belum melihat keberadaan Buck Karimova di lantai tepat di bawahnya. Jikapun Roy sampai melihatnta, mungkin saja Roy tetap tak akan mengenali Kin Izumi atau Buck Karimova. Karena Kin Izumi sudah melakukan operasi wajah sebelum Kin Izumi kembali ke Jepang.
Namun kalaupun Roy melihat pria paruh baya yang memiliki rambut keemasan dan sudah sedikit memutih itu serta ditambah karena kecerdasan Roy, tentu saja Roy juga akan sedikit mencurigai pria paruh baya itu. Karena mata dan cara menatap seorang Kin Izumi masih tetap sama. Begitu tajam, dingin dan menusuk.
Viollete kembali menatap ke bawah untuk melihat Buck Karimova melalui lantai kayu yang sedikit bercelah itu, yang saat ini Buck Karimova sedang menimang-nimang sebuah senjata api laras pendek dengan seulas senyum.
Viollete mulai memutar otaknya dan juga mengedarkan pandangannya untuk mencoba mencari sesuatu yang bisa dia gunakan saat ini untuk mengecohkan Roy sekaligus untuk memberikan peringatan untuk Buck Karimova agar Buck Karimova menyadari kehadiran Doragonshadou di markas Death Eyes.
Viollete berniat untuk menggunakan Glock Meyer 27 miliknya untuk memberikan tembak peringatan. Namun Viollete terlihat begitu ragu saat menatap senjata api yang masih utuh dan lengkap memiliki 15 peluru penuh.
Viollete memutuskan untuk menyimpan kembali Glock Meyer 27 itu dan mulai mencari sesuatu di sekitarnya kembali yang bisa digunakan saat ini. Hingga akhirnya Viollete mulai menemukan sebuah senjata api di sebuah laci dan masih memiliki sebuah peluru.
Kini Viollete mulai mengambil senjata api itu dengan begitu yakin dan mulai mengarahkannya di suatu tempat. Hingga akhirnya ...
TAR ...