
Yuna masih saja menagisi Kazuma dan menggenggam erat salah satu jemari Kazuma yang masih terasa hangat.
Andai saja ada sebuah keajaiban yang terjadi dan membuat Kazuma bisa terbangun kembali, pasti Yuna akan merasa begitu bahagia tak terkira. Dan itulah harapan Kenzi dan Kenzou saat ini.
Karena menyaksikan Yuna yang begitu rapuh dan tidak berdaya seperti saat ini, tentu saja membuat Kenzi dan Kenzou merasa sesak dan juga bersedih. Namun mau seperti apapun membujuk Yuna, Yuna masih saja bersikeras untuk tidak mau meninggalkan Kazuma.
"Ibu ... ibu tidak boleh seperti ini. Biar bagaimanapun ibu juga harus tetap menjaga kesehatan ibu agar tidak sakit. Jika ibu sakit, maka Kazuma juga akan merasa begitu sedih. Keadaan seseorang yang sedang koma itu terkadang seperti orang yang sedang tertidur dan sedang bermimpi. Kazuma juga akan merasakan semuanya, Ibu ... selalu berikan energi positif untuknya." ucap Kenzou mulai meraih bahu Yuna dan mengusapnya dengan lembut.
Yuna tak bisa berkata-kata lagi. Hatinya masih terasa cukup sesak melihat kondisi Kazuma saat ini yang masih begitu lemah dan tidak berdaya. Dan rasanya, Yuna ingin selalu menemani dan menjaga Kazuma di rumah sakit.
Tiba-tiba saja mulai terdenga suara derap langkah dengan ritme yang pelan namun beraturan kini mulai terdengar semakin mendekati brankar.
Kenzi dan Kenzou kini mulai sedikit mundur untuk memberikan ruang kepada pria paruh baya yang tak lain adalah Kagami Jiro itu untuk mendekati Yuna dan Kazuma.
"Sayang. Sebaiknya kita pulang dulu. Malam ini Kenzi dan Kenzou akan menjaga Kazuma dengan baik. Kamu juga harus beristirahat dengan cukup agar kamu tidak sakit." bujuk Kagami Jiro dengan lembut.
Yuna menggeleng pelan dan masih saja menangis sesegukan memandangi wajah pucat Kazuma.
"Sayang, aku janji. Besok pagi-pagi sekali aku akan mengantarmu kesini lagi. Tapi kita pulang dulu ya sekarang." ucap Kagami Jiro tak bosan untuk membujuk Yuna dengan sabar.
Yuna masih saja tak bergeming, hanya isak tangisnya saja yang masih terdengar begitu memilukan dan membuat ketiga pria yang sangat menyayanginya itu juga merasa sesak.
Kagami Jiro mulai mengalungkan kedua tangannya melingkari bahu Yuna dam mendaratkan dagunya di atas kepala Yuna.
"Kazuma itu kuat. Kazuma pasti bisa melalui semua ini dengan baik dan akan segera bangun kembali. Kita akan segera berkumpul bersama kembali. Percayalah dengan Kazuma, Sayang. Dia tak akan meninggalkan kita. Karena dia kuat dan pasti akan berusaha untuk melawan semua ini." ucap Kagami Jiro kembali meyakinkan Yuna.
Yuna mulai mengangguk pelan meskipun tangisnya belum mereda.
"Baiklah. Mari kita pulang dulu. Besok pagi kita akan datang lagi." bujuk Kagami Jiro lagi berharap Yuna akan menurutinya kali ini.
Kagami Jiro mulai melepaskan pelukannya lalu mulai mulai meraih jemari Yuna untuk membantu Yuna berdiri. Wajah putih yang sudah sedikit dihisi dengan kerutan-kerutan halus itu masih basah karena air mata hangat itu.
Kagami Jiro mulai menyekanya dengan begitu hangat dan lembut. Melihat sang istri dalam kondisi seperti ini, sungguh membuat Kagami Jiro merasa tak tega dan sesak.
"Kenzi, Kenzou kami akan pulang. Jagalah adik kalian dengan baik. Jangan pernah meninggalkan Kazuma seorang diri. Jika ada dokter atau perawat yang sedang melakukan pemeriksaan, tetap awasi mereka! Jangan lengah sedikitpun dan jangan biarkan ada orang asing memasuki ruangan ini tanpa pantauan dari kalian berdua!" titah Kagami Jiro memperingatkan kedua putra kembarnya.
Sebenarnya di luar ruangan juga sudah ada beberapa pengawal keluarga Kagami yang akan selalu mengawasi dan berjaga di luar. Namun jika mengingat tentang kemungkinan ada seseorang yang sedang berniat jahat kepada Kazuma, tentu saja semakin membuat Kagami Jiro lebih berhati-hati dan memberikan penjagaan yang lebih ketat.
"Baik, Ayah." sahut Kenzi dan Kenzou bersamaan.
...⚜⚜⚜...
"Vio, bagaimana pertemuanmu bersama temanmu kemarin di akhir pekan?" tanya Nickhun kepada Viollete ketika mereka berdua pulang bersama dan sedang duduk dengan santai di dalan busway.
Sebenarnya pertanyaan itu sengaja dilontarkan oleh Nickhun untuk mencari tau seperti apa respon dari Viollete akan Kazuma. Apakah Viollete melihat kecelakaan yang terjadi pada Kazuma saat itu? Atau Viollete benar-benar tidak mengetahuinya sama sekali.
"Oh ... iya. Aku menemuinya sebentar saja kok untuk membantunya memilih sebuah kado ulang tahun." jawab Viollete dengan jujur.
"Oh ya? Kalian pulang bersama atau bagaimana?"
"Tidak, Nick. Aku pulang sendirian karena kebetulan dia juga sedang terburu-buru karena masih ada janji lain." jawab Viollete dengan asal.
"Begitu ya. Kalau boleh tau, kamu pergi dengan siapa saat itu, Vio?" tanya Nickhun kembali dengan hati-hati.
"Kamu tidak akan mengenalnya kok. Karena dia teman lamaku saat sekolah dulu." ucap Viollete sangat asal dan tak berpikir panjang.
Teman sekolahmu dulu? Padahal kamu menemui Kazuma bukan saat itu? Jelas-jelas Kazuma masih anak remaja, Vio. Mengapa kamu berbohong? Mengapa kamu tidak jujur padaku? Tidak seperti biasanya, kamu biasanya selalu berkatq apa adanya kepadaku. Apa yang sebenarnya sedang terjadi saat itu? Apakah kamu ada hubungannya dengan kecelakaan itu, Vio? Tapi jika memang iya, mengapa kamu melakukan semua ini?
Batin Nickhun menatap Vollete dengan kening yang berkerut.
"Uhm, Nick ... ayo turun! Kita sudah sampai!" ajak Viollete membuyarkan angan dari Nickhun.
"Oh ... iya. Ayo turun!" sahut Nickhun lalu mulai beranjak lebih dulu, karena Nickhun duduk di pinggir.
Mereka berdua mulai turun bersama dan menggang bersama menyusuri jalan hingga sebuah gang yang menuju rumah Viollete. Tapi tentu saja Nickhun hanya mengantarkan Viollete sebatas ujung gangnya saja agar anak buah Buck Karimova tidak mengetahuinya.
Kali ini Nickhun tidak segera pulang ke kontrakannya. Melainkan Nickhun segera menuju ke rumah sakit untuk melakukan sesuatu. Perjalanan itu ditempuhnya dengan menaiki sebuah busway lagi.
Hingga beberapa saat akhirnya Nickhun sudah sampai di sebuah rumah sakit dan segera mendatangi bagian labolatorium untuk menganbill sesuatu.
"Silakan, Tuan. Berikut adalah hasil pemeriksaan DNA dari dua rambut yang sudah tuan berikan beberapa hari yang lalu." ucap salah satu petugas medis dengan pakaian serba putihnya sambil menyodorkan sebuah amplop putih untuk Nickhun.
"Terima kasih banyak, Suster." Nickhun menyauti dengan begitu ramah dan tersenyum lebar menatap tenaga medis itu sambil menerima amplop itu.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi." sahut tenaga medis itu lalu mulai masuk kembali ke dalam sebuah ruangan.
Nickhun mulai duduk di sebuah bangku panjang dan tak sabar ingin segera membuka amplop putih tersebut untuk mengetahui hasil pemeriksaan dan pencocokan.