The Goddess Of War

The Goddess Of War
Sebuah Pernyataan Untuk Nickhun



Setelah beberapa saat akhirnya Lay Zhang mulai terlihat berbinar karena sepertinya pemuda itu kini sudah menemukan sebuah tantangan yang tepat untuk Viollete.


"Baiklah. Sekarang aku akan memberikan sebuah tantangan untukmu, Viollete." ucap Lay Zhang setelah beberapa saat berfikir untuk mendapatkan sebuah ide.


"Hhm katakan padaku! Tantangan apa itu?" ucap Viollete dengam nada datar.


"Hubungi teman priamu dan katakan jika kamu mencintainya! Dan satu lagi panggilan itu harus kamu speaker agar kami mendengarnya." ucap Lay Zhang yang menatap Viollete dengan senyum lebar dan mengangkat kedua alisnya beberapa kali.


Menyatakan perasaan suka kepada salah satu teman pria? Teman pria yang aku punya hanyalah Nick. Huft ... baiklah aku akan menelpon Nick saja. Setelah itu jelaskan semua kepadanya setelah bertemu nanti. Maafkan aku, Nick. Aku malah terjebak bermain dengan mereka. Huft ...


Batin Viollete lalu segera mengeluarkan ponselnya dari dalam ranselnya untuk menghubungi Nick. Tak lupa Viollete juga mulai mengaktifkan loudspeaker. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya panggilan itu segera diangkat oleh Nickhun.


"Hallo, Vio ..." sapa Nickhun dari seberang yang terdengar begitu sunyi. "Apa kamu sudah pulang?"


"Belum, Nick. Uhm ... Nick ... aku ingin mengatakan sesuatu padamu." ucap Viollete membalas tatapan tak sabaran dari semua rekan kerjanya secara bergantian, yang saat ini sedang menunggu Viollete untuk menyatakan perasaanya kepada pemuda bernama Nick itu.


"Hmm? Katakan saja, apa itu?" tanya Nickhun dari seberang.


"Nick ... aku ... aku ..." ucap Viollete yang terlihat mulau ragu-ragu.


"Katakan saja padaku, Viollete. Apa kamu sedang ada masalah?" ucap Nickhun yang terdengar sedikit mengkhawatirkan Viollete.


"Tidak kok. Aku tidak punya masalah. Aku hanya ingin mengatakan jika aku ... uhm ... aku menyukaimu ... uhm ... aku hanya ingin mengatakan itu padamu. Aku akan menghubungimu lagi nanti, Nick! Bye!"


Belum sempat Nickhun menjawab ucapan dari Viollete, dengan cepat Viollete sudah mengakhiri penggilannya begitu saja.


Maafkan aku, Nick. Aku akan menjelaskan semuanya padamu setelah nanti kita bertemu.


Batin Viollete yang sungguh merasa tidak enak dengan Nickhun hingga Viollete mulai menghembuskan nafas kasarnya ke udara.


Nick? Apakah pria yang saat itu menolong Viollete?


Batin Ryuga mulai teringat oleh sosok Nickhun yang pernah bertemu dengannya sebelumnya.


"Wow!! Tantangan bisa diselesaikan dengan baik oleh Viollete!!" ucap Lay Zhang tersenyum lebar dan terlihat sepertinya mood-nya sudah membaik.


Karena setelah seorang gadis mengira Lay Zhang adalah seorang pengamen, hal itu sempat membuat mood Lay Zhang sedikit kurang baik.


"Baik. Putar kembali botol itu, Vio!!" ucap Aya bersemangat dan sedikit bertepuk tangan.


"Hhm. Baiklah. Aku akan memutarnya." ucap Viollete lalu mulai memutar botol kosong itu.


Botol itu berputar dengan cepat searah dengan putaran jarum jam. Hingga akhirnya putarannya mulai melambat dan kini botol itu mengarah pada Roy. Melihat saat ini sedang mendapatkan giliran bermain, Roy hanya tersenyum tipis.


"Aku akan memilih kejujuran." jawab Roy terseyum ramah menatap Viollete.


Viollete mulai memikirkan sebuah pertanyaan dan akhirnya sebuah pemikiran mulai terlintas di benaknya meskipun hanya sebatas fiksi.


"Siapa orang di antara kita yang menurut senior Roy bisa lolos dari zombie apocalypse dan siapa yang akan mati duluan? Beri tahu alasannya!" tanya Viollete dengan senyum tipis.


"Menurutku yang akan selamat dari zombie apocalypse adalah tuan Kenzi, tuan Kenzo, dan Ryuga. Karena mereka memang sangat baik dalam bertahan hidup. Dan orang yang akan pertama kali mati duluan diantara kita semua adalah aku." jawab Roy dengan santai.


Dan jawaban itu tentunya sangat membuat semua orang kebingungan, terutama ketiga juniornya.


"Bisa berikan penjelasan? Mengapa senior Roy akan mati paling awal?" tanya Aya penasaran.


"Hhm. Karena aku akan selalu berusaha untuk menyelamatkan dan melindungi kalian. Dan kemungkinan aku akan lebih dulu terkena serangan dari para zombie itu." jawab Roy yang membuat ketiga juniornya merasa begitu takjub.


"Kau sangat pemberani dan memiliki jiwa penolong yang baik! Tak salah kami menerimamu bergabung bersama dengan Doragonshadou, Roy!" ucap Kenzi dengan begitu bijak. Namun, kamu salah perkiraan. Orang yang akan pertama kali selamat dari zombie apocaypse adalah Kenzou. Karena Kenzou memiliki pergerakan yang lebih cepat dariku." imbuh Kenzie dengan nada bicaranya yang begitu bersahabat.


"Oh ... bagiku tuan Kenzi dan Kenzou adalah sama-sama hebat dan kuat." sahut Roy dengan jujur, lalu Roymulai memutar kembali botol kosong itu.


Kali ini botol ini berhenti dan mengarah kembali ke arah Viollete.


"Wah ... sepertinya botol ini begitu menyukaimu, Vio. Ahaha ..." celutuk Lay Zhang dengan tawa kecil.


"Hehe ... semangat, Vio!!" Aya yang duduk di sebelah Viollete menepuk bahu Viollete dan tersenyum lebar.


Viollete hanya menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan terlihat sedikit malas, marena mendapatkan giliran bermain lagi.


"Baiklah. Kali ini kamu pilih apa, Vio?" tanya Roy.


"Aku akan tetap memilih tantangan." jawab Viollete dengan mantap.


"Baik. Apakah ada yang memiliki sebuah slayer disini?" tanya Roy.


"Aku punya!" ucap Aya sambil mengeluarkan sebuah slayer berwarna hitam dan memiliki kombinasi beberapa bintang kecil yang berwarna putih dari dalam tasnya. "Ini, Senior Roy!"


"Aya, tolong ikatkan slayer ini untuk menutupi mata Viollete. Lalu putar tubuh Viollete beberapa kali. Dan tantangan untuk Viollete kali ini adalah Viollete harus bisa menebak salah satu dari kita dengan meraba wajah dari orang tersebut." ucap Roy menjelaskan.


"Aku harus mengenalinya dari wajah saja?" tanya Viollete memastikannya lagi.


"Hhm. Benar. Hanya boleh meraba bagian wajah saja." jawab Roy.


"Baiklah ..." jawab Viollete tanpa melawan.


Aya mulai menuntun berjalan Viollete untuk sedikit menjauh dari meja bundar itu, lalu Aya juga mulai mengikatkan slayer itu melingkar pada bagian kepada atas Viollete untuk menutupi mata Viollete.


Sementara itu ...


Nickhun yang baru saja mendengarkan pernyataan suka dari Viollete melalui ponsel terlihat begitu kebingungan dan mendadak wajahnya sedikit merona.


"Viollete? Viollete baru saja mengatakan jika dia menyukaiku? Apa itu benar? Jika memang benar ... maka aku akan sangat senang. Namun ... sepertinya ada yang aneh. Viollete tak akan pernah melakukan hal seperti ini melalui ponsel. Dan lagi ... sangat tidak masuk akal tiba-tiba saja Viollete mengatakan hal seperti itu. Seperti bukan diri Viollete saja. Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini? Sebaiknya aku mencari dan menjemputnya saja ..." gumam Nickhun yang masih kebingungan saat mendengar sebuah pernyataan dari Viollete melalui sebuah panggilan.


Nickhun begitu tak berkonsentrasi jika saat ini sedang menuangkan air panas untuk membuat secangkir kopi, hingga akhirnya air itu tumpah hingga ke lantai karena sudah memenuhi ruang dari gelas itu.


"Oh, astaga ..." ucap Nickhun setelah tersadar lantai kontrakannya sudah basah dan dengan cepat Nickhun segera mematikannya.