The Goddess Of War

The Goddess Of War
Viollete Melakukan Catwalk



Lantunan musik spesial atas permintaan dari Ryuga kini mulai terdengar untuk mengiringi pertunjukan dari Viollete.


Viollete mulai mengambil nafas panjang lalu mulai mengeluarkannya perlahan. Setelah itu Viollete mulai melenggang sesuai dengan yang diinstruksikan oleh Lay Zhang.


Yeap, Viollete bisa melakukannya dengan baik. Dengan pandangannya yang lurus ke depan dan wajah ayu juga terlihat tanpa tersenyum sama sekali. Menampilkan sebuah pertunjukan yang cukup keren.


Dan tentu saja hal ini sangat tak terduga oleh Ryuga, hingga kini Ryuga begitu shock saat melihat penampilan catwalk dari Viollete yang begitu sempurna.


Bahkan seluruh pengunjung kafe ini terlihat begitu terpana dan mulai bertepuk tangan untuk Viollete. Dan tentu saja ini membuat Ryuga semakin kesal karena rencananya tidak berhasil untuk menjatuhkan dan mempermalukan Viollete.


Ryuga mengira Viollete tak akan bisa melakukannya dengan baik karena Viollete adalah seorang gadis dari desa terpencil yang tentunya tak akan bisa melakukan catwalk layaknya super mode.


Cih ... sial!! Aku salah memperhitungkannya! Ternyata dia malah bisa melakukannya dengan baik seperti ini. Dan semua orang terlihat malah menyukainya dan mrnikmatinya saat ini. Bahkan Roy dan kedua tuan muda Kenzi dan Kenzou juga terlihat begitu menyukainya. Cih ...


Batin Ryuga menatap Viollete dari kejauhan dengan tatapan yang begitu menusuk.


Namun tiba-tiba saja ada sebuah kecelakaan kecil yang terjadi. Mungkin karena Viollete yang masih belum terbiasa melakukan jalan melenggak-lenggok dengan gemulai, kini Viollete tersandung oleh kakinya sendiri dan tubuhnya terhuyung ke depan.


Dan kini tubuh Viollete terhuyung melewati pembatas platform itu dan sudah hampir terjatuh di atas lantai. Sangat terlihat Lay Zhang, Roy maupun Aya yang begitu khawatir saat menyaksikan semua ini, hingga memanggil nama Viollete bersamaan.


"Vio!!" teriak Aya, Lay Zhang, dan Roy bersamaan dan terlihat begitu khawatir.


Mau menolongpun rasanya tidak mungkin karena mereka bertiga berada cukup jauh dari Viollete. Jikapun mereka tetap nekat dan berupaya untuk mengejar demi untuk menyelamatkan Viollete, maka tak akan terkejar.


Ah sial!! Aku malah tersandung dengan kakiku sendiri dan kini malah mau terjatuh begitu saja. Huft ...


Batin Viollete saat terhuyung dan sudah semakin mendekati lantai.


GREEP ...


Namun tiba-tiba saja ada seseorang dengan gerakannya yang cukup cepat dan kebetulan berada di posisi tak jauh dari Viollete, mulai menangkap tubuh ramping Viollete hingga Viollete sedikit menimpa tubuh pria yang menolongnya itu.


Namun posisi mereka berdua masih berdiri, dengan tubuh pria itu yang masih menahan tubuh Viollete dan kedua tangan Viollete reflek berpegangan pada kedua lengan pemuda itu.


Tatapan mereka berdua saling bertemu selama beberapa saat dan sebenarnya ini cukup membuat Viollete merasa begitu sedikit kurang nyaman, apalagi tatapan pemuda itu begitu dingin.


Oh, sial. Matilah aku kali ini. Mengapa harus salah satu dari mereka yang menolongku saat ini? Akan lebih baik jika Lay Zhang atau senior Roy saja yang menolongku saat ini.


Batin Viollete yang menyesali ketika menyadari jika pemuda bernama Kenzou yang menangkap tubuh Viollete kali ini.


"Sorry ... dan terima kasih ..." ucap Viollete yang merasa kurang nyaman dan secepatnya segera berdiri dengan tegap kembali.


Kenzi, Ryuga, Aya juga mulai menyusul Kenzou. Sementara Lay Zhang mulai melompat dengan sangat lincah dari atas platform dan mendarat dengan sangat sempurna di dekat Viollete. Roy juga mulai melenggang dan berada tak jauh dari Viollete.


"Viollete purple lilac! Ayo!!" ajak Lay Zhang mulai cengengesan kembali memanggil nama Viollete dengan embel-embel di belakang nama Viollete.


Mendapat panggian unik itu membuat Viollete tersenyum tipis dan sedikit melupakan rasa kesalnya hari ini.


"Hhm. Iya ..." jawab singkat Viollete, namun belum sempat Viollete melenggang bersama Lay Zhang, Roy yang berada tak jauh dari mereka berdua mulai berkata untuk memperingatkan Viollete akan kelemahannya saat berada di tempat yang sedang mereka tuju saat ini.


"Viollete!" panggil Roy yang membuat langkah Viollete dan Lay Zhang terhenti. "Jika kamu tidak bisa ikut bersama dengan kami, maka tidak perlu memaksakan diri. Biarkan aku yang menjelaskan kepada tuan Kenzi dan tuan Kenzou. Kamu pulanglah ..." imbuh Roy yang sebenarnya mengkhawatirkan Viollete.


"Tapi, Senior Roy ... mereka pasti akan semakin tidak menyukaiku jika aku pulang begitu saja." sahut Viollete yang mulai berfikir ke arah sana.


"Tidak perlu memikirkan hal itu. Aku akan mengatasinya dengan baik." Roy tersenyum ramah dan menepuk bahu Viollete.


"Yah, jadi Viollete tidak akan ikut ya? Nggak seru dong!" sungut Lay Zhang. "Memang ada apa dengan ruang karaoke, Vio?" tanya Lay Zhang kembali karena tak mengerti.


"Viollete tidak bisa mencium bau alkohol dan asap rokok yang berlebihan. Jika tidak Viollete akan mabuk." jelas Roy kepada Lay Zhang.


"Hhm. Begitu ya. Ya sudah sebaiknya kamu pulang saja, Vio. Tidak usah memaksakan diri seperti yang sudah dikatakan oleh senior Roy." ucap Lay Zhang dengan ramah.


"Baiklah ... terima kasih, Senior Roy. Kalau begitu aku akan pulang saja. Sampai jumpa!" ucap Viollete dengan ramah dan sedikit membungkukkan badannya.


"Hhm. Sampai jumpa besok!" sahut Roy dengan ramah.


"Sampai jumpa, Viollete purple lilac!" ucap Lay Zhang dengan senyum lebar.


Viollete hanya tersenyum tipis dan mulai berbalik untuk meninggalkan kafe ini. Sebenarnya ada perasaan lega karena akhirnya Viollete bisa terlepas dari para rekan kerjanya itu.


Langkah demi langkah kini membawanya menyusuri pinggiran jalan kota Yokohama yang sudah menjadi semakin dingin karena udara malam yang mulai menyapu tubuh Viollete.


Sementara hari ini Viollete tak membawa pakaian hangat karena tak akan menyangka jika Viollete akan pulang selarut ini. Dan pesta perayaan itu diadakan secara mendadak begitu saja.


Jalanan juga masih cukup ramai dan masih terlihat orang berlalu lalang. Dan di sepanjang jalan juga masih dipenuhi dengan beberapa kedai yang menjual beberapa makanan ataupun minuman instan.


Hembusan nafas dari Viollete juga terlihat berembun saking dinginnya cuaca malam hari ini. Namun tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampirinya dan mulai mengenakan sebuah pakaian hangat untuk Viollete.


Dan tentu saja ini cukup mengejutkan untuk Viollete. Seorang pria yang tadi berada di belakang Viollete dan memakaikan pakaian hangat itu kini mulai melenggang beberapa langkah dan mulai berhadapan di depan Viollete.


Senyumnya begitu hangat dan membuat Viollete merasa tenang dan nyaman hingga tak sadar sudut-sudut bibir dari gadis cantik itu mulai ditariknya membentuk sebuah senyuman tipis nan manis.