
"Apa kau sedang mencariku?!" ucap Viollete masih dengan senyuman yang begitu sinis menatap pemuda mesum itu. "Rasakan ini karena sudah berani menipuku!! Hiiatthh ..." Viollete melakukan sebuah tendangan putar dengan kekuatan minimun dan sukses mengenai leher pemuda itu hingga pemuda itu mulai terjatuh begitu saja di atas lantai jalanan namun sengaja dibuatnya ahar pemuda itu masih tetap tersadar.
Viollete melenggang mendekati pemuda itu dan mulai menginjak dada pemuda itu dengan sedikit penekanan.
"Aarghh ... apa kamu benar-benar seorang gadis?" erang pemuda mesum itu menahan sakit pada bagian dadanya.
"Bagaimana menurutmu??" Viollete masih tersenyum sinis dan masih memijak dada pemuda mesum itu. "Lain kali jangan meremehkan seseorang hanya karena dia seorang gadis! Karena seorang gadia bisa saja lebih kuat dari dirimu! Apa kau mengerti?!" kali ini Viollete menambah kekuatan dari pijakannya dan membuat pemuda itu mengerang kesakitan lagi.
"Argghh ... iya ... iya. Aku mengerti. Tolong lepaskan aku! Aku akan melakukan sesuai dengan apa yang kamu perintahkan. Tapi tolong lepaskan aku..Dadaku terasa begitu sakit dan sesak saat kamu menginjaknya ..." ucap pemuda itu yang terdengar semakin lirih.
Nampaknya Viollete begitu menikmati kejadian saat ini dan melupakan sesuatu yang cukup penting. Jika hari ini adalah hari untuk segera menemui Wilson di markas besar Doragonshadou.
"Tidak mau! Apa kau pikir aku adalah gadis yang bodoh? Sekarang berikan ponselmu kepadaku!!" ucap Viollete menandaskan dengan nada bicara yang terdengar begitu tegas.
Tanpa membantah dan melawan lagi, akhirnya pemuda mesum itu mulai memberikan ponselnya untuk Viollete. Karena berusaha untuk melawan dan melarikan diri dari Viollete pun rasanya sangat tidak mungkin. Karena Viollete sangat kuat dan memiliki pergerakan yanh cepat. Akan sangat mudah untuk Viollete menangkapnya lagi jika pemuda itu berusaha untuk melarikan diri lagi.
Kini Viollete mulai menyamber benda pipih yang diberikan oleh pemuda itu dengan kasar dan segera berniat untuk melihat dan menghapus foto-foto yang sudah diambil oleh pemuda itu di dalam galeri ponselnya. Namun ternyata benda pipih itu dikunci oleh pemuda itu.
"Katakan padaku, apa kata sandi rahasiamu!" ucap Viollete yang masih memegang benda pipih itu namun sedikit melirik pemuda yang masih terbaring di atas lantai jalanan itu.
"Sexy ..." ucap pemuda itu menyebutkan kata sandi rahasianya.
Viollete yang mendengarkannya tersenyum kecut dan sedikit mendengus lalu mulai memasukkan kata sandi itu, hingga akhirnya kunci ponsel itu berhasil dibuka oleh Viollete.
Kini Viollete mulai membuka geleri pada ponsel pemuda itu dan mulai mengecek beberapa foto. Ternyata memang benar, pemuda itu memang sudah mengambil beberapa foto dari gadis muda itu dengan sangat tidak bermoral.
Bahkan ternyata Viollete juga menemukan begitu banyak koleksi foto-foto semacam itu di dalam galeri ponselnya. Beberapa gadis sering menjadi korban dari perbuatan pemuda mesum itu. Dan sepertinyanya memang sudah menjadi sebuah hobi buruk untuk pemuda itu.
"Cihh ... memang dasarnya benar-benar pria mesum gila!!" Viollete mendengus dan mulai menghapus seluruh foto pada galeri ponsel pemuda itu. "Berjanjilah padaku untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi! Atau lain kali akan ada yang menjebloskanmu ke dalam jeruji sel!"
Kali ini Viollete yang masih berdiri dengan tegak dan posisi kepada yang lurus ke depan, namun mulai mengarahkan sepasang mata kecoklatannya menatap pemuda yang masih berbaring di atas lantai jalanan itu. Sehingga akan memperlihatkan angle yang cukup dingin dan menakutkan jika dilihat dari sudut pandang pemuda itu.
"Bagaimana bisa? Aku selalu melakukannya selama ini?" ucap pemuda itu yang semakin membuat Viollete semakin merasa kesal.
"Apa kau mau mati sekarang? Atau kau mau merasakan patah tulang? Aku bisa membuatmu merasakannya sekarang juga ..." lagi-lagi seringai manis dan dingin itu kembali menghiasi wajah Viollete dengan menambah penekanan telapak kakinya pada dada pemuda mesum itu.
"Baiklah! Kali ini aku akan melepaskanmu. Tapi jika suatu saat aku masih melihatmu melakukakn hal seperti ini lagi, jangan harap aku akan melepaskanmu saat itu." Viollete mulai mengangkat kaki kanannya sehingga pemuda itu mulai bangun dan bediri dengan memegangi dadanya dan kembali mengatur pernafasannya yang sedikit terasa sesak.
Viollete mulai melemparkan ponsel itu kepada pemuda itu lalu Viollete mulai berbalik untuk meninggalkannya begitu saja. Namun tiba-tiba saja Viollete mulai melihat seorang gadis yang tadi menjadi korban foto candid itu sudah berdiri tak jauh darinya.
Viollete mulai menghentikkan langkahnya dan gadis itu mulai mendatangi Viollete. Raut wajahnya terlihat sedikit lega dan mulai tersenyum menatap Viollete dengan kalem.
"Kakak. Terima kasih banyak. Aku berhutang budi kepada kakak." ucap gadis yang masih terlihat cukup muda itu.
"Hhm sama-sama. Jangan berbicara seperti itu. Sudah sepantasnya aku membantumu, karena perbuatan pemuda sampah itu sangat tidak beretika. Dia harus diberi pelajaran." jawab Viollete mulai menggendong ranselnya dengan benar. "Ya sudah, aku harus segera pergi karena aku sudah sangat terlambat. Kamu berhati-hatilah lain kali. Bye ..." Viollete mulai melambaikan tangannya dan tersenyum lebar lalu mulai berlari lagi.
Kali ini Viollete mulai berlari untuk segera memasuki sebuah busway yang kebetulan sedang berhenti di sebuah halte. Gadis itu juga mulai berjalan cepat dan mulai memasuki busway itu. Dengan santainya gadis itu mulai duduk di sebelah Viollete.
"Kamu?? Ternyata kita satu busway lagi ..." ucap Viollete sambil membuka sebotol air mineralnya lalu meneguknya.
"Iya, Kak." jawab gadis itu dengan begitu manis.
Sebenarnya Viollete masih cukup bingung saat menatap gadia itu. Usianya masih terlihat cukup muda, namun mengapa gadis itu memakai pakaian formal dan terlihat seperti pekerja kantoran seperti itu?
Karena begitu penasaran, akhirnya Viollete memutuskan untuk sedikit berbincang dengan gadis itu.
"Namaku Viollete. Siapa namamu dan berapa umurmu?" tanya Viollete menatap gadis yang memiliki mata indah dengan bulu matanya yang begitu lentik itu.
Jika lebih diperhatikan, sepertinya gadis itu bukan keturunan Jepang sepenuhnya. Masih terlihat sedikit kebulean, dan sepasang matanya memiliki pupil dengan warna amber, namun sedikit kecoklatan.
"Namaku adalah Zie dan umurku 17 tahun, Kak. Sekolahku sedang libur, dan aku merasa bosan di rumah. Jadi aku ingin sedikit berlatih bekerja di tempat kerja papa." jelas gadis bernama Zie dengan begitu ramah.
Gigi kelincinya terlihat saat Zei tersenyum lebar, dan membuatnya terlihat semakin manis dan menggemaskan.
Anak ini lucu dan manis sekali ... andai aku juga memiliki seorang adik perempuan seperti ini. Pasti akan sangat lucu ketika sedang bersama-sama dengan Cloud.
Batin Viollete tersenyum manis menatap gadis bernama Zie itu.