The Goddess Of War

The Goddess Of War
Serangan Balik Dari Viollete



Belum sempat gadis itu membalas uluran tangan dari Viollete, kini tiba-tiba saja seseorang sudah datang dan berdiri di dekat pintu mengawasi Viollete dengan gadis itu dengan tatapannya yang begitu tajam dan menakutkan.


Terlebih pria itu memiliki perawakan yang tinggi, besar dan sangar. Ditambah saat ini pria itu sedang menodongkan sebuah senjata api laras pendek dan sudah bersiap untuk menarik pelatuk senjata api itu dengan Viollete sebagai target dari bidikannya.


"Angkat tanganmu dan jangan macam-macam padaku!!" tiba-tiba terdengar suara seorang pria dengan suaranya yang begitu menggelegar dan mencekam. "Jongkok!!" titahnya terdengar semakin meninggikan nada bicaranya.


Tak ada pilihan lain, akhirnya Viollete menuruti semua perintah dari pria itu. Viollete mulai mengangkat kedua tangannya ke atas lalu mulai berbalik dan mulai duduk bersimpuh di atas lantai, tepat di sebelah gadis itu.


Pria itu rupanya adalah pria yang dilihat Viollete saat di lorong tadi. Ada rasa di dalam hati Viollete karena saat itu Viollete tidak mengatasinya sekaligus. Dan sekarang pria itu malah memergoki aksi Viollete dan malah menangkapnya begitu saja.


"Siapa kamu?! Dan siapa yang mengutusmu melakukan semua ini?!" kini pria itu mulai melenggang beberapa langkah ke depan dan masih menodongkan sebuah senjata api laras pendek ke arah Viollete.


Sorot matanya begitu tajam dan mencekam, seakan sedang ingin menerkam seseorang saja. Viollete masih menatap dingin pria itu hingga akhirnya memutuskan untuk berbohong karena ini adalah sebuah ujian dan misi untuknya untuk bisa bergabung bersama Doragonshadou.


"Aku hanya gadis biasa! Dan aku adalah tetangga gadis ini. Tak ada yang menyuruhku karena aku memang datang atas inisiatifku sendiri." sahut Viollete begitu datar denga tatapan dingin.


"Jangan berbohong padaku atau aku akan benar-benar menarik pelatuk dari senjata api ini!!" pria itu mulai mengancam agar Viollete mengatakan semuanya.


"Aku sudah menjawab pertanyaanmu, namun kamu masih saja tidak terima. Apa kau benar-benar seorang pria yang bodoh?" Viollete berkata dengan menaikkan salah satu alisnya.


Perkataan Viollete sukses membuat pria itu begitu emosi, dan semua itu tergambarkan dengan sangat jelas melalui wajahnya.


"Kau bukan gadis sembarangan!! Untuk bisa memasuki kawasan ini sangatlah tidak mudah.Terlebih kau bisa menemukan tempat ini." pria itu masih saja kekeh dengan pendapatnya. "Aku beri satu kali kesempatan lagi untukmu! Jika kamu masih saja berbohong, maka habislah riwayatmu!!"


Dasar pria dungu ini sungguh merepotkan!! Aku menyesal tak menghabisimu tadi!! Sekarang pikirkan sesuatu Viollete!!


Batin Viollete mulai memikirkan sebuah ide untuk mengatasi berandalan itu.


"Cepat katakan!!" tandas pria itu dengan suara yang begitu menggelegar dan menakutkan.


Namun belum sempat Viollete menjawab pertanyaan dari preman itu. Gadis yang sedang duduk disebelahnya mulai memberanikan diri untuk berbicara.


"Ja-ngan tembak dia, Paman! Aku mohon ... kakak ini adalah benar-benar tetanggaku. Kalian bisa meminta tambahan uang jaminan kepada ayahku, tapi jangan sakiti kakak ini. Jika kakak ini terluka, maka ayahku akan sangat marah." ucap gadia itu memberanikan diri untuk menolong Viollete.


Pria itu beralih menatap gadis itu dan terdiam selama beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya pria berbadan besar dan sangat kekar itu menyeringai menakutkan dan mulai tertawa menggelegar.


"Baiklah!! Aku akan meminta uang jaminan 2 kali lipat!! Gyahahaha ... sepertinya aku mendapatkan sebuah jackpot! " pria itu tertawa menggelegar selama beberapa saat, hingga akhirnya si pria botak tiba-tiba saja mulai terbangun kembali.


"Max, siapa yang memukul tengkukku? Apakah gadis ini?!" tanya si pria botak yang sudah mulai berdiri dengam berkacak pinggang menatap Viollete penuh amarah.


"Benar sekali, Botak!! Dan dia adalah jackpot untuk kita!! Uang jaminan akan naik 2 kalk lipat, dan kita akan kaya raya!!" sahut pria yang dipanggil Max yang masih saja menodongkan senjata api itu ke arah Viollete karena waspada.


"Baguslah!! Setidaknya untuk membayarnya karena dia sudah memukul tengkukku begitu saja!!" sahut si pria botak sedikit mendegus.


"Botak, cepat ikat dia!!" perintah Max dengan tegas dan sudah tak sabaran.


Si pria botak segera mencari sebuah tali di pojokan ruangan di dekat pintu lalu mulai melenggang mendekati Viollete untuk segera mengikat Viollete.


Namun saat pria botak itu hanya berjarak kira-kira satu meter dari Viollete, Viollete dengan cepat bangkit lalu menghembaskan tubuhnya ke arah pria botak itu dengan menabrakkan lengan kirinya pada tubuh pria botak.


Keduanya sedikit terhuyung, dan sebenarnya Viollete memanfaatkan hal ini untuk mendekati preman bernama Max, dengan menjadikan si pria botak sebagai tamengnya. Hingga akhirnya hal itu membuat preman bernama Max tak bisa membidik Viollete.


Di saat tubuh pria botak dan Viollete mulai mendekati Max, kini Viollete menambah dorongannya hingga akhirnya tubuh si pria botak menabrak Max dan keduanya terjatuh dengan posisi bertumpuk. Yeap, tubuh Max tertimpa dengan tubuh si pria botak.


Kesempatan emas ini tentu saja tak dilewatkan begitu saja oleh Viollete, dengan cepat Viollete mulai mendekati tangan kanan Max dan mengambil senjata api milik Max lalu mulai menodongkannya ke arah mereka berdua dan sedikit mundur untuk menjaga jarak.


"Kalian berdua bangun!" titah Viollete dengan tegas. Kedua preman itu mulai bangun mengikuti perintah dari Viollete karena tak memiliki pilihan lain. "Angkat tangan kalian! Pergi ke pojok ruangan dan jongkok disana!!" imbuh Violete memerintahkan lagi dengan tegas.


Kedua preman itu mulai mengikuti perintah dari Viollete, sementara gadis putri pengusaha itu mulai berlari ke arah Viollete begitu saja. Wajahnya masih terlihat pucat dan sangat ketakutan.


Kini kedua preman berbadan besar dan kekar itu mengkerut seketika dengan duduk di pojokan ruangan dengan kedua tangan yang diangkatnya ke udara.


Setelah beberapa saat mulai terdengar beberapa derap langkah kaki dari arah luar, seperti orang yang sedang terburu-buru. Jika didengar dari suaranya, mereka adalah dua atau tiga orang.


Kini Viollete sedikit memutar tubuhnya searah jarun jam sebesar 90 derajat. Untuk mengantisipasi jika yang sedang datang adalah komplotan dari para preman itu, kini Viollete mulai mengambil satu senjata apinya lagi. Dengan menodongkannya satu ke arah pintu, dan satu lagi ke arah dua preman yang sedang berada di pojokan ruangan.


"Dek, tetaplah berada di belakang kakak! Pejamkan matamu jika kamu takut!!" ucap Viollete memerintahkan gadis itu untuk tetap berada di belakangnya.


"I-iya, Kakak ..." sahut gadis itu sedikit bergetar dan terbata.


Suara derap langkah kaki itu semakin mendekat, hingga akhirnya dua orang pria mulai terlihat dan memasuki ruangan ini. Namun langkah kakinya mulai terhenti ketika menyadari Viollete sudah menodongkan sebuah senjata api ke arah mereka berdua.