The Goddess Of War

The Goddess Of War
Viollete Disekap



Ucapan dari senior Ryuga kini sukses membuat Viollete terkejut dan mematung cukup lama. Bahkan Viollete cukup merasa kebingungan harus menjawab apa untuk meredam amarah dari senior Ryuga saat ini. Karena sepertinya senior Ryuga benar-benar sudah sangat-sangat marah kepada Viollete saat ini.


Seingat Viollete, malam itu Viollete memang merasa mual dan pusing hingga akhirnya Viollete mulai muntah. Namun Viollete sungguh tidak mengetahui dan tidak menyangka jika Viollete sudah memuntahi sepatu senior Ryuga malam itu. Dan hal itu juga cukup membuatnya merasa bersalah terhadap seniornya yang judes dan dingin itu.


"Bagaimana? Apa sekarang kamu sudah mengingatnya dengan baik? Sekarang katakan padaku, bagaimana kamu bisa membayar semua ganti ruginya padaku?" kini senior Ryuga mulai menyilangkan kedua tangannya di depan dada bidangnya dan memicingkan sepasang matanya menatap tajam Viollete.


"Uhm ... aku akan menggantinya. Berapa aku harus membayarnya? Aku akan membayarnya ketika aku sudah mendapatkan pekerjaan dan aku akan mencicilnya." ucap Viollete dengan nada bicara yang begitu rendah dan sangat merasa bersalah.


"Tidak perlu! Aku bukan pria yang suka melakukan hal buruk seperti itu untuk menindas seseorang!" sahut senior Ryuga dengan tegas.


"Lalu bagaimana aku bisa membayar semua kesalahanku malam itu?" tanya Viollete masih dengan nada bicara yang sama.


"Aku hanya ingin kamu meminta maaf dengan benar!" ucap senior Roy menandaskan dengan tegas.


"Baiklah ... aku minta maaf, Senior." kali ini Viollete rela menurunkan egonya demi untuk menghargai seniornya dan demi untuk bisa masuk dan bergabung dengan Doragonshadou.


Yeap, Viollete mulai duduk bersimpuh di hadapan pemuda itu sambil meminta maaf. Beberapa orang yang sedang berada tak jau dari mereka mulai saling berbisik dan mencemooh Ryuga karena dianggap pria yang sudah sangat keterlaluan.


Dan tentu saja itu sangat membuat risih senior Ryuga, hingga akhirnya senior Ryuga mulai meraih bahu Viollete dan membantunya kembali untuk berdiri kembali.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Viollete? Apa kamu ingin mempermalukanku?!" ucap senior Ryuga semakin kesal saat menghadapi Viollete saat ini.


"Bukankah senior Ryuga sendiri yang menyuruhku untuk meminta maaf dengan benar? Di dalam keluargaku begitulah jika meminta maaf." ucap Viollete tanpa sadar.


Bahkan hanya denganduduk bersimpuh saja semua belum cukup, papa pasti akan tetap memberikan hukuman yang berat.


Batin Viollete mulai teringat sosok Buck Karimova yang selalu saja memperlakukannya dengan tegad dan disiplin.


Apa?? Kehidupan seperti apa yang dialami gadis desa ini? Mengapa di dalam keluarga yang seharusnya begitu hangat dan nyaman harus seperti ini jika meminta maaf?


Batin Ryuga hampir saja tidak percaya dan menganggap Viollete sedang berbohong.


"Benar! Memang benar aku yang menyuruhmu untuk meminta maaf dengan benar kepadaku. Tapi, meminta maaf dengan benar tidak harus dilakukan dengan cara seperti itu. Aku hanya ingin kamu meminta maaf dengan tulus dan secara verbal saja. Tidak perlu kamu duduk bersimpuh seperti itu." ucap Ryuga menjelaskan masih dengan nada yang terdengar sedikit kesal.


"Baiklah. Maafkan aku. Malam itu aku sungguh tidak sengaja. Bahkan aku juga tidak mengingat apapun setelah muntah. Kepalaku sangat pusing dan perutku sangat mual." ucap Viollete dengan jujur.


"Apa kamu sedang hamil? Astaga ... bukankah kamu belum menikah?! Benar-benar anak jaman sekarang ..." celutuk senior Ryuga sedikit tak percaya.


"Apa?!" Viollete seketika terlihat begitu shock saat mendengar ucapan dari senior Ryuga. "Aku sedang tidak hamil! Dan mengapa senior bisa berfikir akun sedang hamil?!"


"Kau bilang kamu mual dan pusing. Jika bukan pusing, lalu ... apa kamu memiliki riwayat penyakit magh atau asam lambung?"


Tidak. Tubuhku sangat sehat. Namun aku tidak terbiasa dengan bau alkohol yang berlebihan dan aku juga tidak terbiasa dengan bau asap rokok yang berlebihan. Dan itu semua membuatku merasa pusing dan mual, hingga akhirnya muntah. Dan sebenarnya aku tidak terbiasa dengan tempat seperti itu. Namun tidak mungkin aku mengatakan semua itu kepada senior Ryuga. Atau bisa-bisa mereka akan menolakku hanya gara-gara semua itu. Pergerakan dan misi dari Doragonshadou, tentu saja tak akan menutup kemungkinan untuk selalu berkecimpung dengan dunia malam. Dan sepertinya aku harus bisa mengatasi kelemahanku ini.


Batin Viollete masih berusaha untuk mencari jawaban yang tepat untuk senior Ryuga.


"Ya, lambungku sedikit bermasalah. Dan sebenarnya ini sudah penyakit lama kok." jawab Viollete dengan asal. "Baiklah, aku harus segera pergi. Karena ada sesuatu yang harus aku lakukan saat ini. Permisi, Senior." Viollete sedikit membungkukkan badannya lalu mulai melenggang meninggalkan senior Ryuga begitu saja.


Ryuga!! Apa ini?! Apa kamu baru saja memaafkan gadis desa yang sudah merusak salah satu sepatu kesayanganmu? Sepatu pemberian dari kekasihmu? Sepertinya kamu sudah dipermainkan olehnya, Ryuga!! Hingga kamu memaafkannya dengan begitu mudah!


Batin Ryuga memaki dirinya sendiri.


Sementara itu Viollete masih berusaha untuk mencari sapu tangan itu dengan mendatangi beberapa tempat, dan berharap Viollete akan segera menemukannya.


Bahkan Viollete juga mendatangi tempat karaoke yang malam itu dia datangi, hingga akhirnya Viollete juga mulai memasuki ruangan 207 yang saat ini sedang kosong. Namum Viollete masih juga menemukan sapu tangan itu.


"Kemana lagi aku harus mencari sapu tangan itu ..." ucap Viollete begitu putus asa hingga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangan 207 itu.


Viollete mulai melenggang dan menyusuri lorong gedung tempat karaoke di lantai 2 yang sedikit remang-remang itu. Meskipun siang, tempat ini juga terlihat gelap. Karena tempat ini memang sengaja didesain dengan seperti itu, hanya menggunakan beberapa lampu warna-warni yang tidak terlalu terang.


Namun saat siang, tempat ini menjadi lebih sepi dan tidak terlalu ramai seperti saat malam. Viollete sengaja mengenakan masker hitam agar tidak terlalu mencium aroma khas dari tempat ini.


"Sebaiknya aku keluar dari tempat ini. Mungkin saja sapu tangan itu terjatuh setelah aku muntah. Dan itu terjadi di halaman depan pelabuhan ini di dekat taman. Sebaiknya aku periksa tempat itu saja!" gumam Viollete memutuskan untuk segera meninggalkan tempat ini.


Namun belum sempat Viollete berhasil keluar dari tempat ini, tiba-tiba saja seseorang menyekapnya dari belakang lalu mulai menyeret tubuh Viollete dan membawanya masuk ke sebuah ruangan karaoke ini.


Viollete berusaha untuk melawannya, namun sepertinya seseorang menyekapnya dengan sapu tangan yang sudah diberikan beberapa tetes obat bius, hingga membuat pandangan Viollete menjadi sedikit buram dan mulai terasa gelap.