The Goddess Of War

The Goddess Of War
Kejutan Untuk Viollete



Viollete berusaha untuk melawannya, namun sepertinya seseorang menyekapnya dengan sapu tangan yang sudah diberikan beberapa tetes obat bius, hingga membuat pandangan Viollete menjadi sedikit buram dan mulai terasa gelap.


Namun Viollete berusaha untuk tidak menyerah dan mengerahkan kembali seluruh kekuatannya untuk melawan orang yang sedang berusaha menyerangnya saat ini.


Viollete mulai melayangkan lengan kanannya ke depan dan mulai menghantam dada orang itu dengan siku kanannya dengan cukup kuat, hingga membuat sekapan dari orang itu mulai sedikit longgar.


Viollete mulai memafaatkan kesempatan itu dengan baik. Meskipun pandangannya sudah sedikit menjadi buram dan tidak jelas, namun Viollete yang sudah melepaskan diri dari pria bermasker itu kini mulai menjejakkan kaki kanannya dengan tendangan lurus ke depan dan membuat pria itu terjatuh menabrak sebuah meja keramik berwarna putih mengkilap.


Di saat itulah Viollete berusaha untuk segera meninggalkan ruangan itu. Kini Viollete mulai menyusuri koridor memanjang dan hanya meliliki sedikit cahaya remang-remang itu. Penglihatan Viollete juga menjadi semakin kabur karena obat bius itu.


Cihh ... sial!! Aku tidak boleh sampai jatuh dan pingsan begitu saja!! Aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi!!


Batin Viollete yang masih berusaha untuk tetap berlari dengan sekuat tenaganya, meskipun kondisinya sudah semakin tidak baik. Namun tiba-tiba saja sebuah ruangan karaoke yang baru saja dilalui oleh Viollete terbuka.


Terlihat seorang pemuda dengan memakai sebuah topi hitam mulai menarik tangan Viollete dan dengan cepat membawanya masuk ke dalam ruang karaoke itu.


BLAMM ...


Pintu itu mulai ditutupnya dengan cukup kencang. Kini pemuda itu masih mendekap Viollete dari belakang.


Oh, sial!! Kali ini siapa lagi ini? Mengapa hari ini aku bertemu sial?! Bertemu dengan para bajingan ini!! Dan kepalaku juga semakin pusing karena pengaruh obat bius itu ... tidak ... aku tidak boleh jatuh dan pingsan!! Tidak boleh!!


Batin Viollete menyemangati dirinya sendiri dan mulai berusaha untuk melepaskan dirinya dari pemuda bertopi hitam yang saat ini sedang membekuknya.


Viollete mulai menginjakkan kakinya dengan cukup keras memijak kaki pemuda itu. Setelah cengkeraman dari pemuda itu sedikit longgar, kini Viollete mulai menyerang pemuda itu dengan memukulnya dengan sikunya.


Setelah terlepas sepenuhnya dari pemuda itu, kini Viollete berusaha untuk segera berlari kembali dan berusaha untuk melarikan diri dari tempat ini. Namun tiba-tiba saja Viollete malah tersandung dengan sebuah karpet lantai yang sedikit tergulung.


"Viollete!!"


Tubuh Viollete terhuyung dan hampir saja terjatuh, namun tiba-tiba saja ada sebuah teriakan yang memanggil nama Viollete. Dan sebuah tangan mulai menarik tangan Viollete dan membuat tubuh Viollete tertarik ke belalakang dan membuat pemuda itu terjatuh dan tertimpa oleh tubuh Viollete.


"Dasar pria mesum gila!! Siapa kau berani-beraninya memelukku!!" Viollete yang merasa begitu kesal kini mulai membuka topi hitam itu yang sejak dari tadi menutupi wajah pemuda itu.


Topi itu mulai terlepas begitu saja. Namun pemuda itu tidak menjawab ucapan dari Viollete dan hanya tersenyum saja menatap gadis itu, selebihnya pemuda itu malah menyibak rambut Viollete yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


Bahkan Viollete semakin mendekati wajah pemuda yang saat ini sedang berbaring tepat di bawahnya. Karena masih tidak cukup yakin dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini, kini Viollete semakin mendekati wajah pemuda itu dan meraba-raba beberapa bagian wajah dari pemuda itu.


Hidung yang memiliki tulang yang cukup mancung itu beberapa kali ditekan-tekan oleh Viollete, hingga akhirnya sebuah senyuman manis mulai terukir dan menghiasi wajah ayu Viollete.


"Apakah ini benar-benar kamu, Nickhun?" ucap Viollete hampir tidak percaya dan seakan semua ini hanyalah sebuah mimpi saja.


"Iya, Vio. Ini adalah aku ..." sahut pemuda itu dengan memasang senyum lebar.


"Mengapa kamu datang ke Jepang, Nick? Bukankah kamu bilang kamu sangat takutnuntuk naik pesawat?" tanya Viollete masih berusaha untuk tetap menjaga kesadarannya.


"Untuk mengatasi sebuah rasa takut, maka kita harus mengatasinya dengan rasa takut itu sendiri." jawaban Nickun terdengar begitu bijak. "Dan rasa rinduku padamu adalah lebih besar dari rasa takutku, hingga akhirnya kerinduanku mengalahkan rasa takut dalam diriku. Aku sangat merindukanmu, Kin Rui." imbuh Nickhun yang terdengar begitu manis dan membuat Viollete merasa tenang dan bahagia.


Namun tiba-tiba saja pandangan Viollete menjadi semakin buram luar biasa dan seketika penglihatannya menjadi benar-benar gelap.


"Oh, Nick. Aku tidak kuat lagi ..." ucap Viollete begitu lirih dan menjatuhkan kepalanya tepat pada dada atas Nickhun hingga kepalanya menyentuh dagu Nickhun.


Sepasang manik-manik kecoklatan itu kini sudah tertutup dengan sempurna, dan Viollete benar-benar sudah tidak sadarkan diri.


"Vio ... Vio ... bangunlah ..." Nickhun berusaha untuk sedikit mengguncang bahu Viollete, namun Viollete tetap tidak membuka matanya.


Nickhun yang merasa begitu mengkhawatirkan Viollete kini segera bangun lalu mengecek denyut nadi dan pernafasa Viollete. Semua dalam kondisi yang normal. Jadi Nickhun memutuskan untuk segera membawanya ke tempat yang lebih sejuk dan terbuka.


Nickhun mulai menggendong depan Viollete. Lalu Nickhun mulai meninggalkan tempat karaoke ini dan memutuskan untuk segera membawa Viollete menuju ke tempat tinggalnya saat ini dengan menaiki sebuah taxi.


Semua itu dilihat oleh Ryuga yang kebetulan masih berada di pelabuhan Pier 10. Hingga akhirnya Ryuga memutuskan untuk mengikuti Viollete dan Nickhun hingga sampai di sebuah kontrakan di daerah Shinjuku.


Sebenarnya Ryuga tidak mau ikut campur dengan masalah ini, namun karena Ryuga belum pernah melihat sosok Nickhun dan belum pernah mengenal sosok Nickhun sebelumnya, akhirnya Ryuga mulai memutuskan untuk mengikuti dan selalu mengawasi mereka berdua.


Ryuga sedikit khawatir jika Nickhun adalah salah satu komplotan dari preman yang beberapa hari yang lalu telah ditangkap sebagai produsen dari obat-obatan terlarang, ataukah Ryuga khawatir jika Nickhun adalah seorang pria jahat yang sedang ingin mencelakai Viollete.


Terlebih saat ini Viollete sedang tak sadarkan diri dan terlihat tak berdaya begitu saja saat mereka keluar dari tempat karaoke itu. Dan tentu saja Ryuga khawatir jika Nickhun akan memanfaatkan situasi saat ini. Bahkan Ryuga sempat berfikir jika Nickhun yang telah menyebabkan Viollete tak sadarkan diri.


Sebuah kontrakan yang begitu minimalis namun terlihat begitu bersih dan rapi mulai dimasuki oleh Nickhun yang baru turun dari sebuah taxi. Dan Nickhun juga kembali menggendong depan Viollete yang masih tak sadarkan diri.