The Goddess Of War

The Goddess Of War
Perayaan Terbentuknya Tim Baru



Sebuah kafe mulai dikunjungi oleh rombongan Viollete bersama rekan satu timnya yang baru saja terbentuk hari ini. Roy memilihkan sebuah kafe biasa dan tidak dipenuhi dengan hal-hal berbau toxic, karena Roy masih mengingat beberapa kejadian yang lalu, jika Viollete masih belum terbiasa dengan tempat yang memiliki bau alkohol dan asap rokok yang berlebihan.


Mereka memesan beberapa makanan dan minuman, dan sebenarnya juga memesan beberapa alkohol, bagi yang mau meminumnya saja. Tidak terlalu buruk, baru pertama kali bertemu namun mereka sudah cukup akrab dan nyambung.


"Mari bersulang!! Ini untuk merayakan tim baru kita!!" Roy mengankat minumannya dan diikuti oleh keempat rekan kerjanya.


TIINNGG ...


Gelas-gelas bening itu kini saling bertaut satu sama lain dan membuat isi di dalamnya sedikit bergelombang dan berakhir dinikmati oleh mereka semua.


"Vio, jangan memaksakan diri. Jika tidak terbiasa minum wine sebaiknya jangan minum." ucap Roy berusaha untuk menghentikkan Viollete yang kali ini mulai ikut mencicipi red wine itu.


Sebenarnya bukan sebuah rasa keingin tahuan atau sebuah rasa penasaran yang mendekam dalam diri Viollete saat ini untuk menikmati red wine itu, melainkan gadis cantik itu tak enak jika hanya dirinya saja yang tidak meminumnya, sementara keempat rekan kerjanya meminumnya semua.


Aku harus bisa menghadapi semuanya! Aku harus bisa menutupinya dan mengendalikan kelemahanku! Setidaknya hanya sedikit tak akan menjadi masalah bukan?


Batin Viollete yang akhir-akhir ini sudah memiliki tekat yang kuat untuk mengalahkan kelemahannya itu, meskipun hanya sedikit saja.


"Tidak masalah kok, Senior. Aku baik-baik saja kok." ucap Viollete yang mulai meneguk minuman berwarna merah kehitaman itu.


Rasanya sedikit manis dan asam. Ada rasa blackcurrent dan buah cerry. Namun rasanya sedikit sepat.


"Cabernet Sauvignon, salah satu wine kesukaanku!" timpal Ryuga yang mulai meneguk wine miliknya.


"Wine ini memiliki rasa black cherry, black currant, baking spices dan cedar dari barrel oak-nya. Wine ini merupakan wine dengan jenis full-bodied wine. Full-bodied wine biasanya memiliki tannin yang lebih banyak, tingkat alkohol lebih tinggi, dan memiliki rasa buah gelap seperti black currant. Wine ini merupakan salah satu wine paling popular dan cocok dipadukan dengan beef, lamb, smoked meat, dan aged-cheese atau hard-cheese." ucap Lay Zhang menjelaskan sedikit yang dia tau.


Karena minuman seperti ini sangat sering dijumpainya di tempat kerjanya yang lama. Bahkan bukan hanya jenis Cabernet sauvignon wine saja, melainkan cukup banyak jenis-jenis lainnya.


"Whoah!! Sugoi ( keren )!! Kamu tau banyak jenis wine ya, Lay!" ucap Aya yang duduk di sebelah Lay Zhang dengan takjub.


"Hehe ... hanya tau beberapa jenis saja kok." ucap Lay Zhang merendah.


"Bagaimana jika kita main truth or dare?" usul Aya tiba-tiba.


"Setuju! Pasti seru deh!" jawab Lay Zhang dengan cepat.


"Truth or dare. Dua-duanya adalah pilihan yang buruk. Tapi permainannya cukup menarik." sahut Roy yang sepertinya juga menyetujui usul dari Aya.


"Bagaimana cara mainnya? Aku tidak paham dan aku tidak nengetahui permainan apa itu." sahut Viollete benar-benar tidak mengerti akan permainan yang sedang dibicarakan oleh rekan kerjanya.


"Dan kamu belum pernah mendengar permainan ini sebelumnya?" tanya Lay Zhang juga menatap Viollete.


Viollete mulai menggeleng pelan dan tersenyum tipis, "Aku belum pernah mendengar permainan itu, dan aku juga tidak tau cara memainkannya." ucap Viollete dengan jujur.


"Anak dari desa pelosok mana tau permainan seperti itu?! Hari-harinya pasti hanya dihabiskan untuk bermain dengan alam dan hewan ternak." ucap Ryuga yang tiba-tiba saja menyudutkan Viollete dan membuat suasana menjadi begitu canggung karena Lay Zhang, Aya, dan Roy malah merasa tak enak dengan Viollete.


Ryuga juga terlihat menatap Viollete dengan senyum miring dan bersandar di kursinya dengan kedua tangan yang saling disilangkannya di depan dada bidangnya.


Namun, dengan cepat Roy segera berusaha untuk mencairkan suasana kembali agar tidak menjadi canggung dan membatu seperti ini lagi.


"Uhm, jadi begini ... permainan truth or dare adalah sebuah permainan tentang kebenaran atau tantangan. Dan biasanya permainan ini adalah sebagian besar dilakukan saat permainan pesta verbal yang membutuhkan dua atau lebih pemain. Pemain yang sedang mendapatkan giliran akan diberi pilihan antara menjawab pertanyaan dengan jujur, atau melakukan sebuah tantangan dengan berani. Dan permainan ini sebenarnya cukup populer." ucap Roy berusaha menjelaskan kepada Viollete.


"Oh, begitu ya. Jadi bagaimana cara kita menentukan siapa yang akan mendapatkan giliran pertanyaan atau tantangan itu?" tanya Viollete yang mulai paham akan permainan itu.


"Dengan ini!" Roy mulai mengambil sebuah botol wine yang sudah kosong dan meletakkannya di tengah-tengah meja." Kita akan menentukan yang akan mendapatkan giliran pertanyaan atau tantangan itu dengan botol yang diputar." imbuh Roy lagi.


"Ayo kita mulai senior!" ucap Lay Zhang yang sudah teŕlihat tidak sabaran.


"Baiklah. Aku akan mulai memutar untuk permainan pertama. Jika dari kalian yang sedang mendapatkan giliran, namun tak bisa menjawab pertanyaan tersebut atau tak bisa menjalankan tantangan yang telah diberikan, maka kalian harus meminum satu gelas wine." ucap Roy mulai bersiap untuk botol kosong itu.


"Siapa takut. Ayo putar, Senior!" ucap Aya tak kalah bersemangat.


Yeap, Aya dan Lay Zhang terlihat begitu bersemangat. Sedangkan Ryuga masih duduk dengan posisi yang sama dan masih menatap Viollete dengan tatapan yang begitu meremehkan.


Lihat saja, aku akan mengerjai gadis desa itu dan membuatnya malu. Sebenarnya aku masih belum puas saat itu hanya membuatnya meminta maaf padaku saja! Gara-gara dia kekasihku jadi marah karena sepatu pemberiannya jadi rusak!


Batin Ryuga tersenyum miring menatap Viollete.


Namun belum sempat Roy memulai permainan itu, tiba-tiba saja ada dua orang pemuda yang menghampiri mereka dan mulai duduk bergabung bersama dengan mereka.


Kedua pemuda itu mengenakan sama-sama mengenakan pakaian yang rapi, namun dengan style yang sedikit berbeda. Salah satu dari mereka mengenakan setelan jas berwarna hitam dan kemeja di dalamnya berwarna biru lembut yang begitu mempesona. Dasi berwarna merah maron juga sudah terpasang dengan manis melengkapi penampilannya kali ini.


Sementara pemuda satunya mengenakan setelan yang tak kalah rapi juga. Yaitu dengan mengenakan sebuah kemeja lengan panjang berwarna putih dan mengenakan luaran rompi hitam dengan lengan pendek. Sebuah dasi berwarna hijau toska lembut juga melengkapi penampilannya kali ini.


"Hallo semuanya! Bolehkah kami bergabung bersama dengan kalian?" sapaan hangat dari salah satu pemuda itu dengan ramah dan sudah duduk di antara mereka.


Sementara pemuda satunya hanya duduk dan memasang wajah dinginnya saja.