The Goddess Of War

The Goddess Of War
Siasat Viollete



Belum sempat Roy memastikan titik koordinat dari keberadaan Viollete saat ini, tiba-tiba saja mulai terdengar suara seorang pria yang sedang memanggilnya dari sebuah handy talky milik si pria berkulit hitam. Dan itu berarti panggilan atau informasi itu ditujukan untuk si pria berkulit hitam yang saat ini sudah tiada itu.


Segera kembali ke markas! Ada penyusup yang mulai memasuki kawasan persembunyian kita! Jangan sampai mereka menemukan kita! Jika sudah bertemu dengan mereka, lebih baik lenyapkan saja mereka, Blacky!


SRRKK ...


SRRKK ...


Informasi yang berasa dari seberang itu kini mulai terhenti kembali. Roy mulai menyimpan handy talky milik pria bernama Blacky itu dengan menggantungkannya di sisi samping ransel miliknya.


"Jadi mereka sudah mengetahui kehadiran kami? Ini cukup aneh sekali! Apakah salah satu dari mereka sudah mulai menemukan Ryuga, Aya, Lay Zhang atau Viollete? Untuk sampai saat ini belum ada informasi apapun yang diberikan oleh Ryuga, Lay Zhang maupun Aya? Lalu darimana mereka mengetahui semua ini? Apakah ada yang diam-diam sudah mengamati kami? Ataukah ada sesuatu yang sudah terjadi?" gumam Roy mulai menerka-nerka sendiri apa yang sudah terjadi saat ini.


"Sebaiknya aku mulai mencari Viollete lebih dulu. Arus sungai ini menuju ke sebuah air terjun yang curam. Akan sangat berbahaya untuk Viollete. Semoga kamu bisa bertahan dan kamu baik-baik saja, Vio." gumam Roy lalu segera menyeberangi jembatan kayu itu lalu mulai mengikuti arah arus sungai itu


...⚜⚜⚜...


Beberapa saat yang lalu ...


Tubuh Viollete mulai terbawa oleh arus sungai yang mengalir cukup kuat diantara kedua tebing terjal itu. Namun Viollete juga tak diam saja, gadis cantik dan sangat kuat itu mulai melakukan sesuatu agar bisa segera keluar dari sungai itu dan agar tubuhnya tak terbawa oleh arus kuat yang semakin membawanya mendekati sebuah air terjun yang cukup curam.


Sebenarnya Viollete sengaja untuk menjatuhkan dirinya ke dalam sungai yang dalam dan berarus kuat itu. Semua itu dilakukannya untuk memisahkan dirinya dari Roy, agar Viollete bisa memiliki sebuah kesempatan untuk menghubungi Buck Karimova.


Beberapa kali tubuh Viollete terhantam oleh bebatuan yang berukuran cukup besar, namun hal itu tak membuatnya jera sedikitpun dan Viollete masih berusaha untuk melawan arus kuat yang terus saja menyeret tubuhnya hingga kini sudah semakin mendekati sebuah air terjun.


Di dalam air sungai dan masih terombang ambing, Viollete mulai mengeluarkan sebuah kunai ( salah satu peralatan ninja ) dan mulai menghantamkannya dengan cukup kuat hingga berhasil menghunus sebuah potongan batang pohon yang kebetulan tumbang dan terjatuh hingga tersangkut di dalam sungai itu diantara bebatuan itu.


Kunai adalah salah satu peralatan orisinil ninja yang memiliki bentuk seperti sebilah pisau yang berukuran cukup kecil. Sebenarnya kunai tidak pernah digunakan untuk menyerang, melainkan untuk memanjat dan membuat lubang di dinding. Alat ini menyerupai pisau berujung runcing dan sering digunakan seperti kuku oleh para ninja untuk untuk menempel di dinding sewaktu memanjat atau menggali tanah.


Dan kali ini Viollete menggunakannya untuk bertahan menawan arus sungai itu dengan menancapkannya di sebuah pohon yang sudah tumbang itu.


"Agghhh ..." kali ini Viollete berusaha untuk segera menaiki batang pohong itu dan mulai berdiri dengan tegap di atas sebuah batu.


Pandangannya menatap lurus ke depan searah dengan arus sungai itu mengalir. Tepat hanya kira-kira berjarak 10 meter saja dari tempat Viollete berdiri, air sungai di dadapannya itu mulai terjun bebas dan menjadi sebuah air terjun dengan ketinggian yang cukup curam.


Viollete kembali mengatur nafasnya, dadanya terlihat naik turun karena sudah cukup kelelahan dan mengeluarkan banyak tenaga melawan arus sungai yang kuat itu hingga Viollete bisa berhasil menyelamatkan dirinya.


Beberapa saat, pandangannya masih menatap lurus ke depan. Setelah itu Viollete segera teringat sesuatu, jika Buck Karimova akan mengunjungi desa Aiko Iyashi No Sato dalam beberapa hari ke depan. Dan ucapan itu sudah dikatakan oleh Buck Karimova beberapa hari yang lalu.


Beberapa kali Viollete mencoba menghubungi sang papa, namun panggilan itu tidak diangkatnya. Hingga akhirnya panggilan ke-3, Buck Karimova mulai mengangkat panggilan itu.


"Hallo. Ada apa, Vio?!" tanya Buck Karimova langsung to the point ketika panggilan itu sudah diangkat olehnya.


"Papa. Papa ada dimana saat ini? Kami para Doragonshadou ...." ucap Viollete belum menyelesaikan ucapannya dengan sempurna karena tiba-tiba saja panggilan itu berakhir dan sinyal di dalam ponsel Viollete tiba-tiba menghilang begitu saja.


Tut ... tut ... tut ...


"Sial!!" Viollete mendengus begitu kesal karena masih tak bisa untuk memberikan sebuah informasi untuk Buck Karimova.


Kini Viollete segera menyimpan kembali ponselnya di dalam ranselnya, lalu mulai melompati batu demi batu untuk mencapai pinggiran salah satu tebing yang merupakan tebing tujuan dari Viollete dan Roy.


Tebing yang begitu tinggi itu tak membuat Viollete goyah dan menyerah begitu. Justru semangatnya kini mulai membara kembali untuk segera mencari tau dan menemukan Death Eyes lebih dulu dari para rekan satu timnya.


"Semoga aku bisa menemukan papa atau Death Eyes lebih dulu, sebelum Doragonshadou menemukan mereka. Dan aku harap papa sedang tidak berada di desa ini." gumam Viollete pelan.


Sepasang kunai kini mulai dikeluarkannya dari dalam ranselnya kembali. Kini Viollete memutuskan untuk memanjat tebing tinggi itu dengan menggunakan sepasang kunai itu.


"Hiath ..."


Kedua kunai itu bergantian ditancapkan di tebing itu dan perlahan Viollete seakan merayap untuk menaikinya tanpa alat bantu dan keamanan apapun. Oleh karena itu Viollete selalu melakukan dengan hati-hati dan penuh pertimbangan yang kuat dan akurat. Viollete menancapkan dengan kuat kunai itu dan memastikan jika kunai itu bisa menahan badannya.


Viollete mulai mengerahkan kembali tenaganya dengan mencabut kunai pada genggaman tangan kanannya dan mulai menancapkannya kembali ke tebing yang lebih tinggi. Kemudian kunai yang berada di genggaman tangan kirinya mulai dicabunya kembali lalu Viollete mulai menacapkannya di tebing yang lebih tinggi


Sementara kedua kaki Viollete juga sedikit didaratkannya pada tebing untuk mengurangi beban yang sedang ditahan oleh kedua kunai itu, agar meminimalisir Viollete gagal dan terjatuh di dalam sungai itu kembali.


Semua itu berhasil dilakukan Viollete dengan sangat baik, hingga akhirnya kini hanya tinggal sedikit lagi Viollete sudah hampir mencapai puncak tebing itu.


Namun disaat Viollete hanya tinggal kira-kira berjarak kurang dari 1 meter dari atas tebing itu, tiba-tiba saja kunai sebelah kirinya sedikit terlepas dan tidak menancap dengan kuat pada tebing itu sehingga membuat keseimbangan tubuhnya sedikit tidak stabil hingga akhirnya Viollete hampir saja terjatuh.


Tubuh gadis yang sudah tidak seimbang itu kini sudah sedikit terhuyung karena kunai sebelah kanannya juga mulai menancap tidak kuat, bahkan kini sudah hampir terlepas juga.


Apa? Apakah kini aku akan terjatuh kembali? Tebing tinggi ini sudah hampir berhasil aku panjat, dan kini aku terjatuh kembali? Dasar Viollete! Kau sungguh lemah!!


Maki Viollete kepada dirinya sendiri karena merasa dirinya begitu lemah dan bodoh.