
Roy dan Viollete terus saja menyisiri hutan yang sedikit gelap dan mencekam itu. Hingga akhirnya mereka berdua mulai menemukan sebuah bangunan yang cukup besar dan sedikit mencurigakan yang sudahberjarak kira-kira 100 meter dari mereka berdua.
Beberapa pria berpakaian hitam dan memakai celana dengan motif army terlihat berjaga di pintu masuk utama. Mereka juga mengenakan masker dengan motif tengkorak seperti biasanya, sebagai salah satu ciri dari Death Eyes!
Roy mulai menghentikkan langkah kakinya saat mereka berada di balik pepohonan rimbun dengan tekstur tanah yang berada lebih tinggi jika dibanding dengan bangunan tersebut. Sehingga Roy dan Viollete bisa melihat dengan sedetail mungkin bangunan tersebut juga memiliki pintu lain dari samping dan belakang.
"Vio! Handy talky milikku sepertinya terjatuh. Apakah aku bisa memakai milikmu?" ucap Roy setengah berbisik dan menatap Viollete.
Viollete segera menurunkan ranselnya untuk mengambil sebuah handy talky miliknya yang disimpan di sisi samping ranselnya. Namun tak ada apapun disana. Dan sepertinya handy talky milik Viollete juga sudah terjatuh.
"Senior Roy, maaf ... tapi sepertinya aku sudah menjatuhkan dan menghilangkan handy talky milikku." ucap Viollete apa adanya dengan jujur.
"Oh ya sudah, tidak masalah." sahut Roy belum sempat melanjutkan kembali ucapannya, karena tiba-tiba saja sebuah handy talky milik pria berkulit hitam yang dipanggil Blacky itu mulai berbunyi kembali.
"Blacky!! Apa kamu mendengarku?! Jawab aku!!" kini mulai terdengar kembali suara seorang pria dari seberang.
Roy mulai mendekatkan handy talky itu di dekat mulutnya dan mulai berbicara menirukan suara pria berkulit hitam yang saat ini sudah terjatuh di sungai itu.
"Ya, aku mendengarmu. Ada apa?!" ucap Roy menirukan suara pria bernama Blacky dengan cukup sempurna, karena suaranya sangat mirip.
"Tuan Yu dan tuan Kin Izumi sudah menunggu! Cepatlah kembali!" titah pria itu dari seberang.
Mendengar nama Kin Izumi seketika membuat Viollete terkejut bukan main. Viollete tak menyangka, jika sang papa benar-benar sedang berada di desa kecil ini saat ini.
Dan tentunya Viollete merasa semakin kebingungan, karena saat ini dirinya dan Roy sudah menemukan tempat persembunyian mereka. Bahkan saat ini Viollete dan Roy sudah berada tepat di depan gedung tua yang cukup besar itu yang dipastikan menjadi tempat persembunyian dari Death Eyes.
Namun bukan hanya Viollete yang cukup terkejut saat mendengar nama Kin Izumi, melainkan Roy juga cukup terkejut. Musuh dan seorang petinggi utama dari Death Eyes yang selama ini dicari oleh Doragonshadou, kini malah sudah berada di depan mata.
Doragonshadou selalu saja mencarinya bukan hanya karena kriminalitasnya saja, namun karena diduga Kin Izumi juga sudah membawa kabur serta menculik putri dari Kagami Jiro, dan kebenaran ini belum diketahui oleh Viollete.
"Blacky!! Mengapa kamu malah diam saja?! Cepat segera kembali!!" kini mulai terdengar kembali suara pria itu dari seberang.
"Baiklah! Aku akan segera kembali." sahut Roy kembali menyamarkan suaranya menirukan suara Blacky.
Bagaimana ini? Apa papa benar-benar sedang berada di desa Aiko Iyashi No Sato ini? Apakah papa sedang berada di dalam gedung bangunan tua itu? Bagaimana jika senior Roy maupun yang lainnya berhasil menangkap kaki tangan papa dan papa sekaligus? Apa yang harus aku lakukan jika semua itu terjadi? Dan apa yang harus aku lakukan saat ini? Siapakah yang harus aku bela saat itu nanti? Padahal aku belum melakukan apapun untuk membalaskan dendam mama. Apakah semua akan berakhir begitu saja? Semua yang aku lakukan selama 18 tahun apakah akan menjardi sia-sia saja? Atau apakah aku harus masih berpura-pura menjadi salah satu dari Doragonshadou dan membiarkan papa begitu saja? Ya, papa pasti bisa mengatasi semua dengan baik tanpa bantuanku bukan? Papa orang yang sangat kuat dan juga jenius. Aku harap papa baik-baik saja dan bisa memahami keadaanku saat ini.
Batin Viollete yang masih menatap nanar gedung bangunan tua yang berjarak kira-kira 100 meter darinya itu.
"Vio, ini adalah kesempatan yang sangat bagus! Jika informasi itu adalah benar, maka itu artinya Kin Izumi sedang berada di dalam markas itu. Dan ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk kita, kita bisa menangkap Death Eyes dan juga Kin Izumi sekaligus. Namun kita harus selalu berhati-hati karena mereka sangat berbahaya dan juga licik." ucap Roy membuyarkan angan Viollete.
"Jadi ... apa rencana senior Roy saat ini? Katakan padaku apa yang harus aku lakukan?" ucap Viollete dengan datar namun memperlihatkan ekspresi wajah yang begitu serius.
"Kita tetap akan melakukan penyerangan dan menangkap mereka! Jika tak bisa membawa mereka dalam keadaan hidup, maka dalam keadaan terbunuh pun juga tidak akan menjadi masalah!" ucap Roy yang kini mulai beralih menatap bangunan tua di hadapannya dengan tajam. "Selalu waspada, dan sebisa mungkin jangan sampai kamu terkena peluru panas milik mereka. Karena itu akan sangat berakibat fatal. Lakukan penyerangan dengan pelan dan tanpa menimbulkan jejak dan perhatian para komplotannya. Dan perlahan kita akan mencapai tujuan utama! Apa kamu mengerti, Viollete?"
"Aku mengerti, Senior Roy. Aku akan melakukan semuanya dengan baik. Jangan khawatir!" Viollete menyauti dengan penuh keyakinan, namun sebenarnya semua ucapannya adalah sangat bertolak belakang dengan hatinya.
"Meskipun saat ini kita tidak bisa berkomunikasi dengan Ryuga, Lay Zhang, maupun Aya. Namun aku sangat yakin, jika Ryuga juga akan mengambil pilihan yang sama." ucap Roy menatap lurus ke depan.
Yeap, pandangan Viollete dan Roy masih menatap lurus ke depan ke arah bangunan tua yang cukup besar itu. Hingga akhirnya Roy mulai memberikan isyarat untuk mulai menyerang disaat kondisi cukup mendukung, dimana sang penjaga di pintu belakang hanya tinggal seorang pria saja. Sedangkan pria penjaga yang lainnya sedang pergi ke suatu tempat.
Roy dan Viollete sedikit berjalan mengendap-endap ke arah lainnya untuk mentargetkan pintu belakang sebagai sasaran utama untuk menyelinap masuk. Hingga akhirnya Roy dan Viollete perlahan mulai memerosotkan tubuh mereka untuk menuruni bukit itu.
SRRTT ...
Viollete dan Roy berhasil sampai di dasar bukit itu dan mulai berjalan dengan hati-hati dan mengendap-endap kembali untuk mendekati penjaga yang sedang berjaga di pintu belakang.
Serangan yang begitu tenang dan menghanyutkan itu mulai dilakukan oleh Roy dengan menarik dan mencekik leher pria penjaga pintu belakang dengan menggunakan sebuah slayer.
Hanya dengan sekali tarikan yang begitu kuat, pria penjaga itu langsung kehabisan nafas dan ambruk begitu saja.
BRUUGGH ...
"Siapa disana?!"
Namun tiba-tiba saja mulai terdengar suara seorang pria yang begitu serak dan berasal dari belakang Roy dan Viollete.