
Apakah benda itu adalah pemberian dari seorang pria? Dan mengapa kamu sampai nekat untuk pergi ke tempat yang tidak kamu sukai hanya untuk mencari benda itu? Apakah pria itu sangat berharga untukmu, Vio? Hanya dalam satu bulan saja kamu sudah mempercayai dan memberikan hatimu untuk seorang pria asing? Aku sungguh tidak mengerti denganmu? Mengapa kamu berubah, Vio?
Batin Nickhun yang mulai teringat dengan sosok Ryuga, dan sebenarnya hal itu cukup membuat Nickhun sedikit kecewa dan sakit hati.
"Nick ... aku minta maaf padamu." ucap Viollete tiba-tiba, dan raut wajah Viollete kini berubah dan terlihat begitu murung. "Aku tidak sengaja melakukannya. Aku minta maaf ..." Viollete menunduk dan tidak berani untuk menatap Nickhun.
Nickhun menghela nafas seketika dan mengatur kembali nafasnya. Senyuman manis mulai menghiasi wajah pemuda berdarah Thailand dengan ciri khas sepasang alis tebalnya yang membuatnya semakin terlihat memukau.
"Asal kamu bahagia, maka aku akan selalu mendukung setiap langkahmu. Apapun keputusanmu, aku akan selalu berada bersamamu untuk memberikan support untukmu. Karena aku sudah berjanji kepada diriku sendiri dan juga ibuku ... untuk selalu menjagamu ... semoga kamu bahagia ..."
Nah loh ... sepertinya mereka berdua sudah salah paham. Dan Viollete merasa sangat kebingungan saat mendengarkan ucapan dari Nickhun. Padahal Viollete meminta maaf adalah karena tak sengaja menghilangkan sapu tangan itu.
Sementara Nickhun berfikir, jika Viollete meminta maaf karena saat ini Viollete sudah bersama dengan seorang pria. Dan pria di dalam bayangan Nickhun adalah Ryuga.
"Nick, apa yang sedang kamu bicarakan?" sela Viollete mengernyitkan dahinya menatap Nickhun. "Aku meminta maaf karena ... aku sudah menghilangkan ... sapu tangan pemberian darimu yang dibuatkan langsung oleh bibi Anne." imbuh Viollete terlihat begitu menyesal dan membuatnya kembali teringat dengan bibi Anne hingga membuat manik-manik kecoklatan itu menjadi sedikit berair.
"Padahal bibi Anne membuatkan dengan sepenuh hati untukku. Tapi ... tapi aku malah menghilangkannya ... aku benar-benar sangat ceroboh! Aku ... aku ... minta maaf ..." Viollete mulai menunduk dan tak terasa air mata hangat mulai membasahi pipi lembutnya.
Dan tentu saja Viollete merasa sangat bersalah karena sudah menghilangkansapu tangan yang dibuat khusus untuknya oleh bibi Anne. Rajutan demi rajutan adalah seperti menggambarkan sebuah kasih sayang dari bibi Anne. Seperti kasih sayang seorang ibu.
Mendengar ucapan dari Viollete sungguh membuat Nickhun merasa malu karena sudah berfikiran buruk tentang Viollete. Padahal pada kenyataanya Viollete tidak seperti yant sudah dibayangkan oleh Nickhun sebelumnya.
"Vi ... Viollete ... jangan menangis ..." Nickhun merasa sangat bersalah dan mulai tak tega saat melihat Viollete menangis seperti itu.
"Aku sungguh minta maaf ... karena tidak bisa menjaganya dan menyimpannya dengan baik, Nick." ucapa Viollete yang masih terdengar begitu parau dan menyesakkan.
"Tidak apa-apa. Jangan terlalu kau fikirkan masalah ini. Ini bukan salahmu." Nickhun berusaha untuk menghibur Viollete dan mulai meraih tubu Viollete dan memeluknya. "Jika melihatmu bersedih seperti ini, ibuku pasti juga akan bersedih."
"Aku sangat merasa bersalah kepadamu juga dengan bibi Anne ..." Viollete berusaha untuk menghentikkan tangisnya, namun masih saja gadis itu sedikit terisak.
"Sudah tidak apa-apa kok hilang. Jangan menangis lagi. Nanti aku belikan yang banyak lagi ..." ucap Nickhun masih berusaha untuk menghibur Viollete.
"Bukan karena bisa beli lagi, Nick. Tapi sapu tangan itu adalah kenang-kenangan dari bibi Anne dan juga kamu." sahut Viollete yang masih terdengar begitu lirih.
"Jangan bicara omong kosong, Nick! Tidak ada lagi orang yang menganggap aku adalah berharga. Mamaku , bibi Anne ... semua orang yang menyayangiku dan juga sangat aku sayangi ... mereka semua sudah pergi begitu saja. Dan mereka orang-orang yang baik mengapa harus pergi dengan cara yang tragis?"
"Sudah ... jangan bicara seperti itu lagi, Vio." ucap Nickhun berusaha untuk menenangkan Viollete kembali. "Masih ada papamu, Cloud, dan aku yang juga menyayangimu. Dan tentu saja bagi mereka dan bagiku kamu adalah sangat berharga. Sudah ya ... jangan bersedih lagi ..."
Ucapan terdengar yang begitu lembut dan hangat dari Nickhun sebenarnya cukup membuat Viollete merasa lebih baik. Namun gadis itu memang sedikit keras dan susah untuk membujuknya.
"Hhm. Terima kasih, Nick." sahut Viollete dengan tulus.
"Sama-sama, Viollete ..."
"Nick, tapi ... ngomong-ngomong apa yang sedang kamu lakukan di tempat karaoke itu? Sejak kapan kamu suka karaoke?" Viollete yang sudah melepaskan pelukan dari Nickhun mulai mendongak menatap pemuda itu dengan kening berkerut.
"Uhm ... aku ... aku tidak suka karaoke kok." Nickhun meringis dan mengusap tengkuknya.
"Lalu?" Viollete semakin menyipitkan matanya mencurigai Nickhun. "Apa kamu bekerja disana?"
"Tid-tidak kok ..."
"Lalu? Apa kamu sedang berkencan dengan seorang gadis Jepang, Nick?" Viollete membulatkan sepasang matanya dan membungkam mulutnya dengan kedua jemarinya. "Oh, Nickhun!! Sejak kapan kamu menyukai seorang gadis Jepang?"
"Bukan, Vio!Tentu saja bukan seperti itu ... gadis Jepang yang aku kenal selama ini hanya kamu. Bahkan tak ada gadis lain lagi yang aku kenal selama ini selain kamu ..." ucap Nickhun gelagapan.
"Lalu? Apa yang sedang kamu lakukan disana, Nick?"
"Sebenarnya ... aku tak sengaja melihatmu tadi saat keluar dari pusat perbelanjaan. Dan aku mengikutimu pergi ke pelabuhan. Awalnya aku ingin sekali menyapamu, namun kamu malah bertemu dengan seorang pria di pelabuhan. Jadi aku mengurungkan niatku untuk menyapamu saat itu." ucap Nickhun dengan jujur. "Aku tidak ingin mengganggu janji pertemuan kalian."
"Aku tidak memiliki janji pertemuan dengan siapapun, Nick. Dan pria itu adalah seniorku saat melakukan misi bersama yang diperintahkan oleh under bos dari Doragonshadou." jelas Viollete.
"Iya, maaf aku tidak tau. Setelah itu aku melihat kamu mulai masuk ke tempat karaoke itu. Jadi aku memutuskan untuk mengikutimu lagi karena aku merasa khawatir. Kamu belum pernah pergi ke tempat seperti itu sebelumnya, dan aku sangat khawatir jika ada orang yang berbuat jahat padamu. Dan rupanya memang benar-benar ada seseorang yang berusaha untuk mencelakaimu ... untung saja aku mengikutimu saat itu, Vio! Lain kali kamu jangan nekat untuk pergi seorang diri seperti itu lagi dan kamu juga harus lebih berhati-hati. Kehidupan di kota besar jauh lebih keras dan jahat, Vio."