
Kini Kenzi mulai memutar botol wine yang sudah kosong itu. Putarannya begitu cepat dan memiliki ritme yang begitu teratur, hingga akhirnya setelah beberapa saat botol itu mulai berhenti dan mengarah ke arah Lay Zhang. Kenzi melihat ID card yang masih dikenakan oleh Lay Zhang yang menggantung dengan manis pada leher Lay Zhang dan mulai memanggil nama pemuda itu.
"Lay Zhang, apa yang akan kamu pilih saat ini?" tanya Kenzi sambil menuangkan Cabernet Sauvignon pada gelas beningnya yang sudah disiapkan dengan khusus untuk menikmati minuman wine itu, lalu Kenzi mulai meneguknya.
"Aku memilih tantangan, Tuan Kenzi." jawab Lay Zhang dengan penuh keyakinan.
"Baiklah. Aku akan memberikan tantangan untukmu." jawab Kenzi mulai meletakkan segelas wine yang masih ada sisa wine miliknya di atas meja. "Nyatakan cinta untuk salah satu gadis yang sedang berada di kafe ini dengan sebuah lagu!"
"Itu sangat mudah! Aku akan segera melakukannya dengan baik. Aku akan menakhlukkan seorang gadis. Hehe ..." sahut Lay Zhang dengan penuh percaya diri dan mulai mengedarkan pandangannya untuk mencari target seorang gadis.
Lay Zhang mulai meminjam sebuah gitar dari seorang pemain musik yang terbiasa bermain musik di dalam kafe ini. Lalu Lay Zhang mulai melenggang untuk menghampiri seorang gadis yang sedang duduk di sebuah meja yang tak jauh darinya. Gadis itu sedang duduk dan berbincang bersama dengan teman gadisnya juga.
Lay Zhang mulai memainkan gitar itu dan memetik senar-senar itu hingga menghasilkan sebuah lantunan melodi yang indah. Lalu Lay Zhang mulai melantunkan sebuah lagu yang begitu manis dan lembut untuk gadis itu.
Suaranya terdengar cukup merdu untuk seorang pemuda yang selama ini hanya bekerja pada devisi keamanan. Bahkan Lay Zhang juga mengekspresikan lirik demi lirik dengan diiringi dengan bahasa tubuhnya.
Gadis yang sudah menjadi target dari Lay Zhang saat ini terlihat begitu menikmati lagu manis dan indah dari Lay Zhang yang diiringi oleh permainan dari gitarnya sendiri.
"There’s a light, a certain kind of light. That never shone on me. I want my life to be lived with you. Lived with you. There’s a way everybody say. To do each and every little thing. But what does it bring. If I ain’t got you, ain’t got?"
Setelah beberapa saat akhirnya Lay Zhang mulai menyudahi nyanyiannya dan tersenyum begitu menawan menatap gadis itu. Namun betapa terkejutnya Lay Zhang saat mendapatkan perlakuan tak terduga sang gadis targetnyaa itu.
Bukan sebuah jawaban seperti yang diharapkan oleh Lay Zhang yang dia dapatkan dari sang gadis, namun gadis itu malah mengulurkan selembar uang untuk Lay Zhang. Dan tentu saja hal ini sungguh membuat Lay Zhang merasa begitu shock luar biasa!
Aku seorang Lay Zhang yang selama ini disukai para gadis, kali ini sedang menyatakan cinta dengan sebuah lagu indah ... namun malah dikira seorang pengamen kafe? Sungguh tega sekali gadis manis ini!! Hancur sudah namaku ...
Batin Lay Zhang yang masih membeku menatap gadis di hadapannya itu dan masih terlihat begitu shock.
"Simpan saja uang itu! Aku tidak butuh uang darimu!" sungut Lay Zhang merasa begitu kesal lalu setelah beberapa saat lalu mulai berbalik dan melenggang untuk kembali bersama rekan-rekan kerjanya.
Beberapa dari mereka mulai tertawa renyah karena sebuah pertunjukan konyol ini, termasuk Aya, Roy, Ryuga, dan juga Kenzi. Sedangkan Viollete dan Kenzou hanya menatal datar semua ini saja, dan sebenarnya Viollete cukup malas untuk memainkan permainan anak kota ini.
"Lay Zhang. Apa yang baru saja terjadi? Apa kamu baru saja ditolak? Misimu telah gagal, jadi kamu harus menerima hukuman." celutuk Aya yang masih saja terkekeh karena melihat Lay Zhang yang ditilak dan dikira seorang pengamen kafe oleh gadis itu.
Dengan raut wajah yang masih cukup kesal Lay Zhang mulai meneguk segelas Cabernet Sauvignon dengan begitu cepat.
Sungguh permainan yang sangat konyol! Masa hanya dengan sebuah botol, mereka berani berkata dengan jujur atau menerima sebuah tantangan yang begitu memalukan.
Batin Viollete yang malah menganggap permainan itu adalah sebuah kebodohan dan membuang-buang waktu saja.
"Maaf, bolehkah aku hanya menonton kalian saja? Aku tidak begitu memahaminya. Dan aku juga ..." ucap Viollete berusaha untuk tidak terjebak dalam permainan yang dianggapnya sangat konyol itu.
"Kau tidak bisa menghindarinya, Gadis desa!" ucap Kenzou dengan nada tegas dan penuh dengan penekanan. "Lihat botol itu sekarang sedang mengarah kepada siapa?!" imbuh Kenzou sambil melirik botol itu dan Viollete secara bergantian.
Viollete mulai melihat ke arah botol kosong yang rupanya sudah berhenti dan mengarah padanya.
Oh tidak! Sekarang aku benar-benar akan terjebak dalam permainan bodoh ini bersama dengan mereka!
Batin Viollete yang terlihat sudah begitu malas dan kini hanya bisa pasrah.
"Viollete purple lilac, kamu pilih apa sekarang?" tanya Lay Zhang dengan nada jenaka dan malah menggoda Viollete dengan menambahi panggilan untuk Viollete.
Cih ... sekarang aku harus memilih apa? Aku khawatir jika aku memilih kejujuran, mereka akan menanyakan hal yang pribadi atau tentang rahasiaku.
Batin Viollete yang terlihat sedang dilema dan mengusap pelan dagu yang berbentuk V shape indahnya.
"Kamu memilih apa, Vio?" tanya Roy dengan pelan dan membuyarkan angan Viollete saat ini.
"Uhm. Aku memilih dare saja." sahut Viollete yang sebenarnya sedang berusaha untuk menghindari pertanyaan pribadi yang akan diajukan oleh mereka.
"Apa kamu yakin kami akan memilih dare?" kalo ini Kenzi juga mulai bertanya.
"Jika sudah ditentukan maka tidak boleh merubahnya lagi atau mundur begitu saja!" timpal Konzou dengan senyuman miring menatap Viollete.
"Tuan Kenzou sangat benar! Kamu harus melakukan tantangan dari Lay Zhang!" timpal Ryuga dengan senyuma miring menatap Viollete.
Jika diperhatikan, Ryuga dan Kenzou adalah berada di dalam satu server yang sama. Karena mereka berdua terlihat sangat tidak menyukai Viollete. Sangat berbeda dengan Kenzi dan Roy yang selalu ramah dengan Viollete.
Mereka terlihat seperti dua kubu yang sangat bertentangan, sementara Viollete berada di tengah dan diantara mereka.
"Baiklah. Lanjutkan permainan, dan berikan sebuah tantangan untuk Viollete, Lay Zhang!" titah Kenzi setelah melihat dan membaca ID card milik Viollete yang saat ini juga masih dikenakan oleh Viollete.
Lay Zhang mulai mengusap dagunya yang cukup indah dan tirus dan mulai memutar bola matanya untuk mencari dan memberikan sebuah tantangan untuk Viollete.
"Baiklah. Sekarang aku akan memberikan sebuah tantangan untukmu, Viollete." ucap Lay Zhang setelah beberapa saat berfikir untuk mendapatkan sebuah ide.