
Suara yang begitu menggelegar itu kini mulai memenuhi seisi ruangan itu. Raut wajahnya juga terlihat begitu kelam, menakutkan dan sudah dipenuhi oleh amarah yang sudah semakin memuncak.
"Sekarang juga cepat keluarkan senjata kalian yang sudah pernah aku berikan untuk kalian semua! Dan letakkan senjata itu di atas mejaku!" titah Wilson dengan sangat tegas dan penuh penekanan.
Kini Ryuga sang ketua dari tim ini mulai mengeluarkan sebuah senjata api laras pendek berwarna hitam dan meletakkannya di atas meja Wilson, sesuai dengan yang sudah diperintahkan oleh sang under bos dari Doragonshadou ini.
Lalu segera diikuti oleh Roy, Aya, Lay Zhang, dan terakhir Viollete yang mulai meletakkan senjata masing-masing di atas meja Wilson. Entah introgasi seperti apa yang akan Wilson lakukan kepada mereka saat ini melalui senjata mereka.
Yang pasti, ini bukanlah semabarang introgasi. Karena tentu saja pastinya Wilson sudah mempertimbangkan segala sesuatunya secara rinci, detail dan penuh perhitungan yang tepat dan akurat.
Kali ini Wilson mulai mengambil sebuah senjata api berwarna hitam yang merupakan milik Ryuga. Bentuknya sedikit mirip dengan senjata api milik Viollete. Hanya saja memiliki tipe yang sedikit berbeda.
Sebuah senjata api dengan tipe Glock Meyer **2**5 ini juga memiliki kapasitas tempat mesiu sebanyak 15 putaran. Dan GlockMeyer 25 ini juga termasuk senapan semi otomatis dan senapan mesin.
Wilson mulai memeriksanya dan membuka bagian mesiu. Rupanya mesiu di dalam senjata api milik Ryuga masih tersisa 14 putaran. Dan itu artinya, Ryuga sudah meluncurkan 1 peluru.
Wilson mulai menatap Ryuga seakan meminta penjelasan dan tanggung jawab atas sebuah peluru yang sudah Ryuga gunakan saat itu.
"Jelaskan padaku, Wilson! Sebuah peluru panas sudah kamu gunakan saat itu. Kapan dan untuk siapa kamu menggunakannya?!" selidik Wilson memicingkan sepasang matanya menatap Ryuga.
"Salah satu dari mereka berusaha untuk menyerangku saat aku terjebak dan tertimpa benda berat di dalam markas Death Eyes.Aku menggunakannya untuk menembak ulu hati pria itu. Roy juga melihat mayat dari pemuda itu ketika dia datang saat menolongku saat detik-detik terakhir sebelum markas itu diledakkan." jelas Ryuga dengan pelan, namun tegas dan suaranya begitu jernih.
Wilson yang sudah mendengarkan penjelasan dari Ryuga, kini beralih menatap Roy, seakan juga sedang menunggu konfirmasi dari Roy.
"Benar sekali. Aku melihat mayat pria itu saat itu, Tuan Wilson." jawab Roy penuh dengan keyakinan.
Wilson tak bergeming sedikitpun. Senjata milik Ryuga mulai ditelatakkan kembali di atas mejanya. Kini sebuah senjata FN 58 berwarna hitam mulai diambilnya.
Pemeriksaan masih sama, Wilson mulai membuka bagian cylinder dan memeriksa amunisi di dalamnya. Dan rupanya semua amunisi masih terisi lengkap, menandakan sang pemilik senjata yang tak lain adalah Roy, tidak menggunakannya sama sekali.
Wilson mulai menutupnya kembali dan meletakkannya di atas mejanya dengan pelan. Selanjutnya Wilson mulai mengambil sebuah senjata api Colt 18 berwarna hitam dan berukuran kecil dan praktis. Senjata api itu adalah milik Aya. Dan rupanya Wilson mendapati Aya sudah menggunakan sebuah peluru juga.
Sepasang mata Wilson mulai menatap Aya begitu tajam, berharap salah satu anak buahnya ini akan memberikan jawaban yang memuaskan dan masuk akal.
"Aku meluncurkannya untuk melindungi Lay Zhang. Saat itu salah satu dari mereka sudah bersiap untuk menyerang Lay Zhang dengan sebuah sniper dan kebetulan aku mengetahuinya. Dan syukurkah aku bisa menjatuhkannya lebih dulu sebelum dia berhasil melukai Lay Zhang saat itu. Dan itu terjadi saat di dalam hutan. Dan kami belum menemukan markas Death Eyes." jelas Aya penuh percaya diri dan sangat yakin.
"Apa itu benar, Lay Zhang? Apa kamu melihat semua itu disaat Aya menggunakan Colt 18 ini?" kali ini Wilson beralih menatap Lay Zhang dan terlihat sedang menunggu jawaban dari Lay Zhang.
"Benar sekali, Tuan. Aya menggunakannya saat di dalam hutan untuk melindungiku dari sniper itu. Dan itu terjadi jauh sebelum kami menemukan markas mereka." jawab Lay Zhang dengan jujur.
"Hhm ... baiklah." sahut Wilson sambil menutup cylinder itu kembali dan meletakkan Colt 18 itu di atas meja.
Selanjutnya Wilson mulai mengambil Ragging Bull 30 dan memeriksa amunisi yang tersisa. Sebuah senjata api laras pendek berwarna hitam pekat buatan Brazil yang cukup legendaris. Dan pemilik senjata ini adalah Lay Zhang.
Karena amunisi dari Ragging Bull 30 itu masih lengkap, Wilson mulai meletakkannya di atas mejanya kembali dan mulai mengambil sebuah senjata yang tersisa. Yaitu Glock Meyer 27 milik Viollete.
Wilson menatap tajam senjata api laras pendek itu dan mulai membuka bagian cylinder untuk memeriksa mesiu yang tersisa di dalamnya. Dan rupanya 15 putaran itu masih terisi penuh dengan mesiu. Dengan kata lain, Viollete sama sekali tak menggunakan senjata apinya saat itu.
Sebenarnya Viollete semakin berdebar kembali dan sedikit panik ketika Wilson mulai memeriksa Glock Meyer 27 miliknya. Bukan karena jumlah mesiu yang tersisa di dalamnya yang Viollete khawatirkan saat ini, melainkan kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja tercium oleh Wilson, under bos dari Doragonshadou yang begitu jenius dan penuh perhitungan.
Sepasang mata kecoklatan Viollete yang masih tajam menatap lurus ke depan terlihat mulai terlihat sedikit berair. Namun raut wajahnya juga masih saja terlihat dingin dan tegas.
Setelah memeriksa mesiu dari Glock Meyer 27 milik Viollete, Wilson mulai menutup kembali bagian cylinder itu dan meletakkan kembali di atas mejanya.
Kini Wilson mulai menyematkan kedua jemarinya pada kantong celana berbahan super drill berwarna hitam yang sedang dikenakannya saat ini. Pandangannya menatap kelima anak buahnya yang masih sangat muda itu secara bergantian.
"Kalian terbukti tidak bersalah. Dan kemungkinan suara tembakan itu adalah juga berasal dari anggota Death Eyes. Ambil masing-masing senjata kalian dan kalian boleh kembali." ucap Wilson yang mulai berbicara dengan nada yang lebih bersahabat.
"Baik, Tuan Wilson." sahut mereka serempak dan mulai mengambil kembali senjata masing-masing lalu menyimpannya kembali dan bersiap untuk meninggalkan ruangan Wilson.
"Kecuali kamu, Viollete! Kamu tetaplah tinggal disini dulu! Masih ada yang ingin aku bicarakan denganmu." imbuh Wilson tiba-tiba ketika Viollete sedang menyimpan Glock Meyer 27 miliknya.
Jujur saja Viollete sempat merasa terkejut bukan main ketika Wilson masih menahannya seorang diri di dalam ruangan Wilson. Ada apa? Apakah Wilson menemukan bukti lain? Mungkin seperti itulah yang sedang Viollete pikirkan saat ini.
Sedangkan keempat teman-temannya sebenarnya juga cukup bertanya-tanya, mengapa Wilson masih menahan Viollete? Namun mereka berempat memutuskan untuk segera meninggalkan ruangan itu setelah memberi salam penghormatan untuk Wilson.