
Zie dan Viollete mulai meninggalkan markas utama Doragonshasou dan mulai menaiki sebuah taxi bersama. Karena Zie merengek-rengek untuk ditemani menuju ke sebuah tempat perbelanjaan, akhirnya dengan terpasksa Viollete menurutinya.
Karena sebenarnya Viollete sungguh merasa berhutang budi dengan Zie. Viollete berhasil dan tetap diterima menjadi salah satu bagian dari Doragonshadou adalah karena bantuan dari Zie.
Sebuah lagu dengan nada yang begitu ceria dan energik mulai terdengar dari ponsel Zie. Zie mulai mengambil benda pipih yang berada di dalam ransel putihnya dan mulai melihat nama si pemanggil. Senyumnya mulai menghiasi wajah manisnya dan Zie mulai mengangkat panggilan itu.
"Hallo, Mama!" sapa Zie dengan bersemangat.
"Zie sayang! Kamu sedang berada dimana? Papamu bilang kamu sudah pulang, namun mengapa sampai sekarang kamu juga belum sampai di rumah?" tanya mama Zie yang terdwngar begitu khawatir.
"Aku sedang pergi ke Queen's Square Mall, Mama! Jangan khawatir, aku sudah besar kok. Aku akan baik-baik saja." ucap Zie dengan senyum lebar.
"Kamu masih 17 tahun, Sayang. Dan seharusnya kamu pergi dengan pengawal! Di luar sangat berbahaya." sahut mama Zie masih terdengar begitu khawatir.
"Mama, aku tidak suka bepergian bersama pengawal. Lagipula kan aku hanya gadis biasa saja." sahut Zie dengan malas.
"Tapi papamu adalah seorang under bos dari Doragonshadou. Pasti akan ada yang berusaha untuk mencelakai kita. Selain disukai banyak orang, tidak menutup kemungkinan jika banyak juga orang yang memusuhi Doragonshadou." ucap mama Zie mulai berceramah panjang dan lebar.
"Aduh, Mama ... aku tidak bisa mendengar suara mama. Haloo ... hallo ... mama ... hallo ... hallo ..." ucap Zie yang sepertinya hanya sedang berakting untuk menghindari dan membebaskan dirinya dari ceramah mamanya.
Karena setelah mengakhiri panggilan itu, tiba-tiba saja Zie tertawa renyah dan terlihat begitu puas lalu mulai menyimpan kembali ponselnya di dalam ransel putih miliknya.
Viollete menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum tipis melihat tingkah jahil dari gadis yang memiliki gigi kelinci yang begitu lucu itu. Melihat Zie membuat Viollete teringat dengan adik laki-lakinya yang hampir memiliki sifat yang sama dengan Zie. Ceria dan sangat ramah.
"Kakak sangat berterima kasih kepadamu, Zie. Karena kamu, tuan Wilson akhirnya menerima kakak untuk bekerja di dalam Doragonshadou. Sekarang makanlah sepuasnya, kakak akan mentraktir kamu makan sepuasnya disini." ucap Viollete saat mereka sudah berada di dalam salah satu restoran di dalam pusat perbelanjaan ini.
"Wah, asyik!! Kalau begitu aku akan mulai memesan makanan!!" ucap Zie begitu bersemangat dan mulai memilih beberapa menu makanan.
Malam ini aku akan melakukan cracking beberapa data di dalam Doragonshadou. Jika di dalam media kematian mamaku tidak terungkap, mungkin saja semua itu sudah disimpan dengan rapat oleh Doragonshadou? Aku harus mendapatkannya!! Aku harus melihatnya sendiri!!
Batin Viollete yang malah teringat dengan misi balas dendamnya kembali dan kembali bersemangat.
"Kak, Vio! Ayo makan! Kok malah melamun?" ucap Zie membuyarkan angan Viollete saat makanan sudah datang.
"Oh, iya ... maaf." sahut Viollete sedikit terkejut lalu mulai menikmati makan siangnya.
Setelah mereka makan siang bersama, Zie juga mulai mengajak Viollete untuk pergi ke arena game centre. Setelah cukup puas bermain mereka memutuskan untuk segera pulang, namun tiba-tiba saja ada 3 orang pria mulai menghadangnya dengan senyum yang menyebalkan saat di game centre itu.
Sebenarnya pria itu tidak mengikuti Viollete dan Zie, namun tak sengaja mereka juga sedang bermain di dalam game centre ini. Dan akhirnya si pria mesum itu mulai terfikirkan untuk mencoba balas dendam kepada Viollete. Karena sebenarnya si pria mesum itu juga masih merasa begitu kesal karena dikalahkan dan dipermalukan oleh Viollete begitu saja.
"Hallo, nona-nona!" sapa si pria mesum itu menyeringai menyebalkan. "Kebetulan sekali kita bertemu kembali disini. Hahaha ..." imbuhnya lalu tertawa renyah dan terdengar begitu menyebalkan.
Viollete mulai merentangkan tangan kirinya untuk meminta Zie agar tetap berada di belakangnya, "Zie, tetap berada di belakang kakak!"
"I-iya, Kak Vio ..." Zie menyauti dengan terbata dan tentu saja ketakutan saat melihat ketiga pria itu.
"Karena kita sudah bertemu kembali, sebaiknya kita lanjutkan yang tadi pagi! Bagaimana?" ucap pria mesum itu lalu mulai meminta kedua temannya yang berbadan besar itu untuk mulai menyerang Viollete.
"Ciihh ... dasar banci!! Beraninya mengkeroyok seorang gadis! Apa kalian tidak cukup jantan untuk melawanku seorang diri?!" tantang Viollete semakin menyulut kemarahan ketiga pria itu.
Dan sepertinya mereka bertiga adalah tipikal orang yang mudah untuk diprovokasi, karena setelah mendengar ucapan dari Viollete, kini mereka bertiga mulai terlihat semakin murka, hingga akhirnya mereka bertiga kini mulai menyerang Viollete secara bersamaan.
Viollete tersenyum miring dan terlihat begitu meremehkan lalu mulai memerintahkan Zie agar menunggunya di tempat yang aman.
"Pergilah di dekat permainan bola basket. Kakak akan membereskan ketiga pria ini dulu lalu kakak akan segera menyusulmu!" perintah Viollete menandaskan.
"Ba-baik, Kak Vio! Kakak berhati-hatilah ..." Zie menyauti dengan sedikit terbata namun segera pergi ke tempat yang sudah diperintahkan oleh Viollete.
Ketiga pria itu semakin mendekati Viollete, kini Viollete mulai menaiki sebuah permainan mobil zombie raksasa. Dengan pergerakannya yang begitu cepat, kini Viollete mulai menghempaskan tubuh rampingnya ke udara dan berjalan dengan menapaki kepala para pria itu.
Hingga tapakan kakinya di kepala pria terkhir, kini Viollete mulai melompat tinggi dan mendarat dengan sempurna dengan jongkok dan membelakangi mereka bertiga. Setelah beberapa saat, akhirnya Viollete mulai berdiri dengan tegap dan berbalik menatap ketiga pria itu.
Pijakan kaki dari Viollete saat mengenai kepala ketiga pria itu sebenarnya memberikan penekanan yang cukup keras, hingga keseimbangan dari ketiga pria itu mulai tak seimbang hingga akhirnya tubuh mereka bertiga terhuyung dan jatuh menabrak beberapa mesin permainan di game centre ini.
"Sial!! Mengapa gadis itu sekuat ini?! Ah kepalaku berdarah ..." celutuk salah satu dari mereka yang kepalanya terbentur pinggiran sebuah mesin permainan mini bowling.
"Leherku sampai sakit karena pijakannya sangat kuat!!" sungut yang lainnya lagi yang terjatuh di atas sebuah mesin permainan mini hocky ice.
"Ciih ... bahkan kedua temanku yang kuat saja bisa dikalahkan dengan begitu mudahnya? Dasar gadis monster!!" timpal seorang pria mesum yang merupakan dalang dari penyerangan ini.
Viollete mulai melenggang meninggalkan ketiga pria yang dianggapnya sangat lemah itu dan mulai mencari Zie. Setelah itu Viollete segera mengajak Zie untuk pulang dengan menggunakan taxi. Namun mereka menaiki taxi masing-masing untuk mencapai rumah masing-masing.
...⚜⚜⚜...