
Viollete masih terlihat sedang berkutat di depan sebuah oled transparent di hadapannya. Sepertinya Viollete sedang mengerjakan beberapa tugasnya yang menumpuk karena selama 3 hari ini dia mengambil cuti.
Suara derap langkah kini mulai terdengar dengan ritme yang beraturan. Dan suara derap langkah itu semakin mendekatinya.
"Vio! Tuan Kagami Jiro sedang menunggumu di ruangannya!" suara dingin dan cuek itu mulai terdengar.
Rupanya dia adalah Ryuga. Pemuda yang selalu bersikap dingin dan cuek itu kini mulai duduk di tempat kerjanya dan mulai menyibukkan dirinya kembali dengan beberapa berkas yang baru saja dia bawanya.
"Baiklah, Senior. Aku pergi." ucap Viollete lalu bergegas untuk meninggalkan tempat kerjanya.
Ryuga tak menjawabnya sama sekali dan masih saja menyibukkan dirinya dengan tumpukan berkas di atas mejanya.
"Lay Zhang! Bantu aku mengerjakan beberapa berkas ini! Karena tuan Wilson segera menginginkan semua ini!" titah Ryuga yang sesekali melirik Ryuga.
"Baik, Senior Ryuga." sahut Lay Zhang dengan patuh dan mulai mendatangi Ryuga untuk mengambil beberapa berkas itu dari Ryuga.
"Ryuga, tuan Sinian tadi datang dan mencarimu. Namun dia hanya meninggalkan pesan padaku agar kamu segera menemuinya ke ruangannya." ucap Roy yang saat ini baru sajamembuat sebuah kopi dengan mesin pembuat kopi yang ada di dalam ruangan ini.
"Baiklah. Tapi berkas-berkas ini juga harus segera aku selesaikan." sahut Ryuga kebingungan. "Aya! Tolong kerjakan semua ini dan bantu Lay Zhang!" imbuhnya memberikan titah untuk Aya.
"Biar aku saja yang mengerjakannya, Ryuga. Saat ini Aya sedang mengerjakan sesuatu juga." sahut Roy mulai meneguk kopinya.
"Hhm. Baiklah. Kalau begitu tolong ya." ucap Ryuga mulai berdiri kembali dan menepuk bahu lebar Roy. "Aku akan menemui tuan Sinian dulu. Mungkin akan sedikit lama, karena kita akan memeriksa beberapa senjata baru yang baru saja dikirim dari Amerika."
"Hhm. Serahkan saja padaku." Roy menyauti dengan santai dan mulai meletakkan kembali secangkir kopinya di atas meja.
Ryuga hanya mengangguk dengan senyum tipis dan mulai melenggang meninggalkan ruangan ini.
...⚜⚜⚜...
TRING ...
Pintu elevator mulai terbuka semakin melebar dan angka kemerahan di sebuah kotak itu menunjukkan angak 13. Kini Viollete mulai melenggang dengan langkah tegasnya dan mulai meninggalkan elevator itu.
Sebuah lorong panjang mulai dia lalui untuk mencapai sebuah ruangan. Namun sebenarnya hatinya masih saja bertanya-tanya sampai saat ini karena Kagami Jiro tiba-tiba saja memanggilnya.
Ada apa? Mengapa tiba-tiba dia memanggilku? Apa dia sudah mengetahui sesuatu? Apakah ada video rekaman CCTV yang terlewat olehku dan tidak terhapus? Tidak! Seharusnya tidak ada dan seharusnya semua sudah bersih bukan? Hhm ... lalu apa?
Batin Viollete penuh tanda tanya. Sebelum mengetuk ruangan Kagami Jiro, Viollete sudah berdiri cukup lama di depan ruangan itu. Namum tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria yang baru saja lewat di belakangnya berdehem dan seketika membuyarkan lamunan dari Viollete.
Viollete terlihat sedikit terkejut namun Viollete masu berusaha untuk bersikap dengan wajar.
"Oh. Maaf. Aku malah melamun karena sedikit kurang enak badan, Tuan Kenzi." sahut Viollete berusaha untuk bersikap ramah.
Pemuda yang dipanggil Kenzi itu kini mulai tersenyum lebar setelah mendengarkan ucapan dari Viollete. Kedua jemarinya masih tersematkan dengan sangat rapi di dalam saku celana berbahan super drill berwarna gelap itu.
"Hebat sekali! Bahkan hanya baru bertemu denganku saja kamu sudah sangat bisa membedakan anatara aku dan Kenzou. Instingmu sangat luar biasa, Viollete. Benar kan itu namamu? Dan kamu adalah salah satu tim Ryuga?" puji Kenzi dan kembali teringat oleh sosok Viollete yang pernah bermain truth or dare bersamanya.
"Tuan Kenzi sangat berlebihan. Tentu saja tuan Kenzi dan tuan Kenzou sangat berbeda. Jika lebih diperhatikan dengan detail, maka akan sangat mudah untuk membedakannya." jawab Viollete dengan seadanya. "Dan benar, aku adalah Viollete, tim dari senior Ryuga. Dan aku juga ingin mengatakan sesuatu kepada tuan Kenzi, bahwa hanya dengan insting, kita bisa bertahan untuk tetap hidup." sahut Viollete yang sukses membuat Kenzi semakin takjub kepada Viollete.
Gadis ini benar-benar sangat unik dan cerdas. Bahkan saat berbicara kepadaku saja, dia bisa mengatakan segala hal dengan sangat baik. Dan dia bisa membedakan antara aku dan Kenzou. Hhmm ... padahal selama ini kebanyakan dari orang-orang, mereka sangat sulit untuk membedakan antara aku dan Kenzou. Luar biasa!
Batin Kenzi dengan senyuman takjub menatap Viollete.
"Kak Kenzi! Ayo bergegas! Semua orang sudah menunggu kakak untuk memulai rapat. Jangan terlalu berlama-lama bersama gadis desa yang kolot itu!" celutuk seorang pria yang tiba-tiba saja sudah menghampiri Kenzi.
"Kenzou. Selalu saja bicaramu sangat kasar seperti itu. Kamu jangan seperti ini terus, atau ibu akan marah lagi." Kenzi yang sudah mulai melenggang bersama Kenzou rupanya juga kurang menyukai cara berbicara Kenzou.
"Biarin saja, Kak. Aku hanya berbicara apa adanya saja kok. Dia kan memang datang dari desa dan sangat kolot." celutuk Kenzou membela diri.
Perbincarang antara kedua saudara kembar itu terdengar semakin samar-samar oleh Viollete dan mulai menghilang ketika Kenzi dan Kenzou mulai memasuki sebuah elevator VIP.
"Huftt ..." Viollete menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan lebih memilih untuk tidak memikirkan ucapan dari Kenzou yang begitu tajam dan menusuk.
Kali ini Viollete mulai mengetuk pintu ruangan pribadi Kagami Jiro dengan palan dan hati-hati.
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk!" terdengar suara yang cukup besar dan berat seorang pria dari arah dalam ruangan itu.
Viollete mulai meraih handle pintu itu dan membuka pintu itu. Lalu Viollete mulai memasuki ruangan yang sudah beberapa kali dimasukinya itu.
Meskipun sudah berulang kali memasuki ruangan ini dan sudah berulang kali berhadapan secara langsung dengan Kagami Jiro, namun Viollete masih selalu saja berdebar ketika berhadapan dengan pria paruh baya itu. Terlebih ketika pandangan mereka berdua saling bertemu.
Rasanya seperti ada sebuah rasa yang tak dimengerti oleh diri Viollete sendiri. Ada rasa benci, dendam, kesal, namun selalu saja selalu ada debaran hebat yang terkadang sampai membuat tubuh Viollete bergetar dan malah tiba-tiba saja sepasang matanya juga berkaca-kaca dengan sendirinya.
Dan semua itu Viollete artikan sebagai sebuah kebencian yang semakin besar dan mendalam, yang sudah sangat lama disimpannya dengan sangat apik dan kini mulai meluap-luap saat bertemu secara langsung.