The Goddess Of War

The Goddess Of War
Kebenaran Yang Diketahui Kazuma



Kazuma mulai menghentikkan permainan basketnya dan menatap Viollete dengan senyum lebarnya yang begitu manis.


Yeap, putra bungsu dari Kagami Jiro yang saat ini masih berada di bangku SMP kelas 3, tentunya juga mewarisi ketampanan sang ayah, Kagami Jiro.


"Kak Vio!" ucap Kazuma seketika mulai berbinar dan menghentikan permainan basketnya untuk beberapa saat. "Tidak masalah kok. Asal kakak datang saja aku sudah merasa begitu senang dan bahagia sekali, Kak!" imbuh Kazuma dengan tulus dan masih tersenyum lebar.


"Hhm. Baiklah. Apa masih ingin bermain lagi? Atau kita segera mencari hadiah untuk Zie?" tanya Viollete seadanya.


"Bagaimana jika kita segera mencari hadiah saja, Kak?" ucap Kazuma mulai mengusulkan.


"Baiklah. Ayo!"


Dengaan sangat bersemangat Kazuma melempar bola basket terakhirnya ke dalam ring permainan yang berjalan ke kanan dan ke kiri itu. Meskipun Kazuma hanya melemparnya dengan asal, namun bola itu masuk dengan sangat sempurna.


Kini mereka berdua mulai meninggalkan game centre itu dan mulai menuju ke tempat aksesoris gadis. Segala aksesoris dan pernak-pernik terlihat sudah tersusun dengan rapi di beberapa meja kaca dan rak kaca yang lucu dan menggemaskan.


"Kak Vio? Mengapa kita datang ke tempat ini? Apakah kita akan membeli beberapa barang disini untuk hadiah ulang tahun Zie?" tanya Kazuma menatap Vio yang sedang memilih-milih sebuah jam tangan rantai berwarna silver yang cantik.


"Hhm. Bagaimana dengan jam tangan ini?" ucap Viollete mulai menatap Kazuma dan memperlihatkan jam tangan itu.


"Apa menurut kak Vio Zie akan menyukainya?"


"Hhm ... menurut kakak Zie akan menyukainya kok. Sebenarnya hadiah itu tidak dinilai dari nominal harganya, Kazuma. Tetapi dari ketulusan ... Zie pasti akan menyukai apapun yang kamu hadiahkan padanya." ucap Viollete tersenyum menatap Kazuma.


"Baiklah kalau begitu. Aku beli itu saja! Aku akan meminta mereka membungkusnya dulu, Kak." ucap Kazuma lalu meninggalkan Viollete dan mendatangi seorang petugas toko untuk membungkuskan hadiah itu.


Seementara itu ...


Seorang pemuda yang mengenakan sebuah hodie hitam dan dipadankan dengan celana jeans warna gelap, serta mengenakan sebuah topi berwarna hitam terlihat masij mengawasi Viollete dan Kazuma dari kejauhan.


Pemuda itu berpura-pura memasuki toko sebelahnya agar Viollete tidak mengenali atau memergokinya.


"Rupanya Kazuma adalah masih seorang anak SMP ya. Aku salah mengira ... aku kira Viollete sedang berkencan dengan seseorang." gumam pemuda itu malu sendiri saat mengetahui sebuah kebyataan itu.


Pemuda yang tak lain adalah Nickhun itu rupanya sengaja membuntuti Viollete sejak dari rumahnya pagi ini. Semua itu dilakukan oleh Nickhun karena Nickhun ingin mengetahui dengan siapa Viollete berkencan saat ini.


Namun betapa malunya Nickhun kini saat melihat rupanya Viollete malah menemani seorang bocah SMP untuk membeli sesuatu.


GREEPP ...


Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahu Nickhun dari arah belakang dan membuat Nickhun segera siaga dan mengepalkan kedua tangannya.


Dengan cepat Nickhun segera menarik jemari yang sudah mendarat di atas bahunya itu. Rupanya jemari itu begitu lentik, menandakan jika pemiliknya adalah seorang gadis.


Nickhun yang sudah terbiasa dengan kesiagaannya, kini mulai menarik tangan itu dan membuat tubuh gadis itu juga tertarik padanya.


HUUPP ...


"Hei ... hei ... hei ... apa yang sedang kau lakukan padaku?!" celutuk gadis yang memiliki rambut pendek kecoklatan itu yang saat ini sudah berada di dalam cengkeraman Nickhun.


Gadis itu mulai merapikan kembali jaket baseball miliknya yang sedikit kusut karena Nickhun yang mencengkeram kedua lengannya beberapa saat yang lalu.


"Hhm aku rekan satu tim Vio. Kalau tidak salah kamu juga bekerja di markar utama Doragonshadou bukan? Divisi soldier? " sahut gadis berambut pendek yang tak lain adalah Aya.


"Ya. Aku berkerja di sana ..."


"Lalu kamu sedang mengintai siapa? Penampilanmu sungguh sangat mencurigakan dan sangat mencolok! Tidak pandai melakukan penyamaran ya ..." ledek Aya tersenyum miring dan mulai menatap ke toko sebelah untuk segera mencari tau siapa yang sedang diawasi oleh Nickhun.


Karena Nickhun begitu ketakutan jika Viollete akan memergokinya, akhirnya Nickhun malah meraih tangan Aya dan segera menggiringnya untuk meninggalkan tempat itu.


...⚜⚜⚜...


Hadiah sudah didapatkan, kini Viollete dan Kazuma mulai makan bersama di salah satu kafe di dalam mall ini. Mereka berdua terlihat begitu akrab dan kompak. Bahkan perbincangan mereka berdua juga sejalan.


Namun tiba-tiba saja ponsel Viollete mulai berdring, layar itu mulai menampilkan nama sang pemanggil yaitu, Papa.


Ada apa papa menghubungiku? Bukankah papa sudah mengetahui jika hari ini aku sedang menemui Kazuma. Lalu apa yang ingin disampaikan oleh papa.


Batin Viollete yang sudah menggenggam benda pipih itu dan menatap layar ponsel itu.


"Kazuma. Kakak akan mengangkat panggilan ini dulu." ucap Viollet mulai meninggalkan Kazuma seorang diri.


Viollete mencari sebuah tempat yang cukup sepi lalu mulai mengangkat panggilan itu.


"Halo, Papa." sapa Viollete ketika panggilan itu terhubung.


"Vio! Jangan melupakan tujuan utamamu! Kamu sudah cukup lama menghabiskan waktumu namun belum ada satu orangpun yang sudah berhasil kamu singkirkan. Atau jangan-jangan kamu berubah pikiran, Viollete?" ucapan dari Buck Karimova terdengar seperti sebuah sindiran untuknya.


Dan temtu saja ucapan itu begitu mengganggu pikiran Viollete saat ini karena sang papa mulai meragukan dirinya kembali.


"Tidak, Papa. Itu semua tidak benar!" ucap Viollete membantah dengan tegas dan cepat. "Aku akan tetap berada di jalanku. Dan aku juga akan melakukan balas dendam ini kepada Kagami Jiro. Aku akan menghancurkan hidupnya dengan memperlihatkan orang-orang terdekatnya yang akan aku sakiti!" imbuh Viollete penuh dengan keyakinan dan mengepalkan tangan kirinya.


BBRAAKK ...


Tiba-tiba saja mulai terdengar suara sesuatu terjatuh dari belakang Viollete. Viollete yang menyadari jika ada orang lain selain dirinya sendiri kini mulai mematikan telpon itu dan lekas berbalik untuk melihat siapa yang sudah menguping pembicaraannya dengan Buck Karimova.


Viollete mulai melihatnya. Seorang anak laki-laki sudah berdiri dengan tegap tak jauh dari hadapannya. Tatapannya begitu penuh dengan kekecewaan menatap Viollete. Bahkan sepasang mata kecoklatan Kazuma juga mulai terlihat berair.


Sebuah bingkisan juga mulai terjatuh begitu saja dari genggamannya saking tak percaya atas ucapan yang dia dengarkan dari Viollete beberapa saat yang lalu.


Anak laki-laki itu adalah Kazuma. Dan saat ini Kazuma sudah mendengar semua ucapan Viollete dan rencana-rencana dari Viollete yang ingin melakukan sebuah balas dendam terhadap Kagami Jiro dan seluruh orang-orang terdekkatnya.


"Kazuma ..." ucap Viollete begitu lirih dan masih menatap lekat Kazuma.


Sepasang mata kecoklatan itu masih menatap nanar Kazuma selama beberapa saat. Viollete mulai maju ke depan beberapa langkah dan mendekati Kazuma, namun disaat itulah Kazuma mulai mundur beberapa langkah dan menggelengkan kepalanya pelan.