
BRRAKK ...
SRAAKK ...
Buck Karimova mulai menendang beberapa meja dan kursi dan menghempaskan beberapa barang yang sudah tersusun rapi di atas meja dan menjadikannya semakin berserakan di atas lantai.
Saat ini nafasnya terlihat sedang tidak teratur dan naik turun. Keningnya mengkerut menatap lurus ke depan entah apa yang sedang ditangkap oleh sepasang netranya itu. Sementara kedua tangannya mulai mengepal dengan sangat kuat.
Peristiwa yang terjadi beberapa saat yang lalu adalah seperti sebuah dejavu untuknya. Disaat melihat Viollete yang sedang berusaha untuk menyelamatkan Nickhun, membuat Buck Karimova teringat dengan kejadian 15 tahun yang lalu.
Disaat Amane yang sedang berusaha untuk menyelamatkan Kagami Jiro dari serangannya, hingga menyebabkan Amane kehilangan nyawanya.
"Argghh ..." Buck Karimova mulai menghantam sebuah tembok dengan cukup keras dan menyebabkan jemarinya berdarah.
BUUAKK ....
"Mengapa ... mengapa mama dengan putrinya sama saja?! Mereka rela mengorbankan dirinya hanya demi seorang pria!! Sungguh membuatku merasa muak!! Argghh ..."
BUAGHH ...
Sebenarnya selain sebuah rasa sesal karena tak sengaja sudah mengakhiri nyawa Amane, Buck Karimova juga merasa cemburu kepada Kagami Jiro. Karena Amane yang sudah menjadi istrinya saat itu malah membela dan rela menjadi tameng untuk Kagami Jiro.
Yeap, Buck Karimova sangat merasa cemburu saat itu, bahkan hingga sekarang perasaan itu masih saja menghantui di seumur hidupnya dan membuatnya semakin membenci Kagami Jiro.
Namun tiba-tiba sebuah seringai menakutkan mulai menghiasi wajahnya dan begitu memancarkan aura yang begitu kelam dan menakutkan.
"Kita lihat saja, bagaimana kamu akan berakhir di tangan putrimu sendiri! Kamu akan berakhir di tangan darah dagingmu sendiri! Aku tak sabar menantikan waktu itu tiba, Kagami Jiro! Gyahahah ..." sebuah tawa yang terdengar cukup menakutkan dan membuat merinding siapa saja yang mendengarkannya mulai terdengar begitu menggelegar memenuhi seisi ruangan ini.
...⚜⚜⚜...
Semilir angin terasa begitu menyejukkan kala sore ini di tengah hamparan rerumputan di desa Wang Nam Khiao. Langit yang sedikit mendung juga menghiasi kala sore itu.
Terlihat seorang gadis melangkah dengan langkahnya yang begitu riang seperti sedang menari-nari dengan balutan sebuah pakaian yang sedikit berbeda dari yang biasanya dia kenakan di setiap harinya.
Jika biasanya gadis yang tak lain adalah Viollete ini selalu mengenakan pakaian kasual yang begitu praktis dan selalu berwarna hitam. Namun kali ini Viollete mengenakan sebuah pakaian jumpsuit tak berlengan berwarna begitu cerah. Dan sebenarnya baju itu adalah pemberian dari Nickhun.
Dan pakaiannya kali ini membuatnya terlihat lebih ceria, energik dan sangat manis. Senyumnya mengembang dan dirinya terlihat begitu menikmati alam.
Tak jauh dari dirinya terlihat seorang pemuda dengan mengenakan sebuah T-shirt hitam, pakaian yang hampir memenuhi seisi lemarinya tentunya. Dan siapa lagi pemuda itu kalau bukan Nickhun.
Dan tentu saja ini membuat Nickhun semakin menyukai dan merasa nyaman saat bersama dengan Viollete. Seakan dunianya menjadi lebih berwarna dan begitu hangat karena ada Viollete.
"Vio ... kemarilah ..." Nickhun mulai duduk di sebuah bangku dan mulai merogoh sesuatu di dalam kantong pakaiannya.
Viollete mulai melenggang mendatangi Nickhun dan duduk di sampingnya.
"Ada apa?" sahutnya yang masih mendongak untuk melihat sekawanan burung yang sedang terbang di langit.
"Kamu sangat cantik dengan pakaian itu, Vio." ucap Nickhun dengan tulus.
"Benarkah? Pakaian ini memang sedikit lucu menurutku. Tapi aku tidak bisa berlatih atau berburu dengan menggunakan pakaian seperti ini, Nick. Aku tidak akan leluasa untuk bergerak. Jadi aku akan jarang sekali memakainya. Tapi terima kasih ya sudah memberikannya untukku." Viollete tersenyum menis menatap pemuda itu.
Rambutnya panjangnya yang tipis menari-nari di udara dan begitu indah. Perpaduan aroma argan creme dan juga esens alpukat memberikan aromanya yang begitu khas floral yang sangat disukai oleh Nickhun.
"Hhm. Kau sangat manis saat mengenakannya. Tidak masalah kok kalau kamu jarang memakainya. Pakailah pakaian yang membuatmu merasa nyaman. Kemarin saat aku pergi ke kota, aku melihat pakaian itu dan malah teringat olehmu, jadi aku membelinya untukmu." ucap Nickhun yang sesekali menghirup aroma khas dari shampo yang dikenakan oleh Viollete, karena rambut Viollete yang menari-nari sesekali mengenai wajah Nickhun.
"Oh ... maaf, Nick. Aku lupa membawa ikat rambut karena tadi aku baru saja keramas." ucap Viollete yang mulai menyibak rambutnya ke salah satu sisi samping agar rambutnya tidak berterbangan lagi dan mengenai Nickhun.
"Aku suka sekali aromanya ..." gumam Nickhun pelan dan menyipitkan sepasang matanya karena silau saat menatap sang mentari yang sedikit bersembunyi di balik awan. "Oh iya ... aku punya sesuatu untukmu. Dan maaf baru sempat memberikannya untukmu sekarang." Nickhun mulai mengeluarkan sebuah gelang berwarna hitam dan memiliki ukiran-ukiran dengan tulisan Thailand berwarna keemasan.
Gelang itu berbentuk seperti butiran-butiran yang memiliki ukuran yang lebih kecil dari ukuran kelereng, dan butiran-butiran itu saling terhubung satu sama lainnya dengan sebuah tali yang cukup kuat berwarna hitam.
Dan sebenarnya gelang itu adalah gelang yang mereka berdua lihat saat berada di Mayom Floating Market dan sangat diinginkan oleh Viollete saat itu. Saat itu Nickhun mengatakan kepada Viollete jika barang yang ingin dia beli saat itu sudah dibeli orang lain, ternyata itu adalah sebuah kebohongan.
Dan Nickhun ingin memberikan untuk Viollete tepat di hari ulang tahunnya, yaitu tepat hari ini. Nickhun mulai memakaikan gelang manis itu pada pergelangan tangan kiri Viollete. Seakan tak percaya dengan semua ini, Viollete hanya terdiam dan menatap semua itu begitu saja.
"S̄uk̄hs̄ạnt̒ wạn keid, Kin Rui. ( Selamat ulang tahun, Kin Rui)." ucap Nickhun tersenyum begitu manis.
Viollete terlihat begitu terharu dan membungkam mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Sungguh tak tau harus berkata apa lagi saat ini. Padahal Viollete saja sama sekali tak mengingatnya jika hari ini dia sedang berulang tahun.
Karena selama ini memang hal seperti tak pernah dia rayakan lagi selepas kepergian Amane. Dan saat itulah terkahir kali Viollete merayakan pesta ulang tahunnya bersama keluarga besarnya di Tokyo. Saat itu adalah ulang tahunnya yang ke-6 dan dihari itu adalah hari yang mempertemukan Viollete dengan Kagami Jiro.
Tanpa sadar sepasang manik-manik itu sudah menjadi sedikit berair karena mengingat sang mama dan kenangan terakhir bersama sang mama. Kini air mata hangat itu mulai membasahi pipinya yang putih dan melekat begitu saja.