
Seorang gadis terlihat sedang bersiap di depan sebuah cermin riasnya. Setelan blazer berwarna hitam terlihat sudah membalut tubuh rampingnya dengan begitu rapi. Rambut lurusnya yang indah kali ini digulungnya ke belakang dengan simpel, menjadikannya terlihat fresh and young.
Gadis ini hanya mengenakan make up natural untuk sedikit memoles wajahnya, agar terlihat sedikit lebih segar dan memberikan kesan good looking saat hari pertamanya bekerja. Setidaknya agar mereka tidak memandang buruk tentangnya hanya karena gadis ini datang dari sebuah desa terpencil dari Thailand.
Yeap, hari ini gadis itu akan bekerja untuk pertama kalinya di dalam sebuah perusahaan yang sangat besar yang bergerak di bidang keamanan di Jepang.
Doragonshadou, pada umumnya Doragonshadou memang hampir memiliki kesamaan dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Hanya saja Doragonshadou bergerak pada bidang keamanan dan lebih memiliki fungsi dasar melakukan deteksi dini terhadap berbagai macam ancaman sehingga dapat melakukan pengamanan maksimal terhadap negara dan penduduknya.
Dan sistem dari Doragonshadou adalah untuk memperkuat keamanan negara, di mana sumber-sumber masalah dapat dideteksi sedini mungkin dengan valid dan dapat diantisipasi sebelum menjadi masalah. Dan tentu akan menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakatnya.
Setidaknya, gejolak yang akan timbul dari sumber masalah dapat diredam sekecil dan sedini mungkin demi keselamatan bangsa dan negara. Doragonshadou memiliki tiga aktivitas utama, yaitu mengumpulkan informasi seputar pemerintah asing, perusahaan, dan individu.
Doragonshadou juga akan menganalisis informasi-informasi tersebut beserta hasil intelijen dari para klannya yang sudah menyebar di seantero Jepang maupun di luar Jepang.
Dan aktifitas yang lainnya adalah untuk menghasilkan penilaian intelijen keamanan nasional yang diajukan kepada para pembuat kebijakan senior Jepang dan melaksanakan atau mengawasi aktivitas tertutup dan beberapa operasi taktis oleh karyawannya sendiri, anggota militer Jepang, atau rekan lainnya atas permintaan kekaisaran Jepang.
Doragonshadou juga bisa memiliki pengaruh politik luar negeri melalui divisi-divisi taktisnya analisis intelijen, masalah hak asasi manusia, investigasi luar negeri dan pengungkapan dokumen yang akan memengaruhi opini publik dan penegak hukum.
Doragonshadou juga akan menangani penyelundupan obat-obatan terlarang dan masih banyak lagi yang dilakukannya untuk memperkuat keamanan negara.
Bukan hanya itu saja, sebenarnya Doragonshadou juga cukup terkenal begitu kejam dan bengis saat menghadapi para penjahat dari kelas teri hingga kelas kakap seperti Death Eyes yang pernah dipimpin oleh Kin Izumi. Mereka tak akan segan-segan melakukan pembantaian hingga berakhir melakukan pembunuhan untuk para kriminal, atau paling tidak Doragonshadou hanya akan membuat cacat seumur hidup.
Gadis yang tak lain adalah Viollete itu mengambil nafas panjang dan mulai menghembuskannya ke udara perlahan. Beberapa self camera mulai diambilnya beberapa kali untuk mengurangi rasa gugupnya saat di depan cermin rias itu dengan menggunakan sebuah ponsel yang cukuo fenomenal dengan simbol sebuah buah apel yang memiliki bentuk tidak utuh.
Dan betapa kurang kerjaannya Cloud, karena pagi-pagi sekali Cloud bangun pagi untuk membantu Viollete merias diri agar sang kakak terlihat cantik dan menarik. Cloud bahkan memakaikan sebuah kuku pasangan berwarna putih yang begitu cantik dan lucu untuk Viollete.
"Cloud. Kakak bekerja di Doragonshadou dan akan selalu berhubungan dengan para penjahat, pertarungan, atau misi-misi rahasia! Lalu mengapa kakak harus berdandan sedikit feminim seperti ini?" celutuk Viollete tak mengerti. "Dan kuku-kuku cantik ini untuk apa?" imbuh Viollete sambil membolak-balikkan jemarinya dengan kening yang sudah berkerut.
Cloud tertawa renyah mendengarkan ekspresi dari kakak tersayangnya dan dengan santainya mulai menjawab.
"Tentu saja agar kakakku terlihat cantik dan terlihat seperti seorang gadis. Ahaha ..." sahut Cloud yang masih saja tertawa renyah.
"Ckk ... kamu sama saja dengan Nick. Berkata seolah-olah kakak ini bukan seorang gadis." Viollete berdecit dan menghembuskan nafas kasarnya ke udara.
Cloud masih saja tertawa renyah dan tak menjawab ucapan dari Viollete untuk beberapa saat.
Viollete hanya melirik Cloud dan tersenyum tipis saja, namun Viollete tak mengatakan kebenaran jika sebenarnya Nickhun sudah berada di Jepang beberapa hari yang lalu. Dan malah hari ini Nickhun sudah mendapatkan sebuah pekerjaan di Negeri Sakura ini.
Sebuah ransel kecil berwarna hitam mulai diraih oleh Viollete dan mulai digantungkannya pada bahu kanannya saja.
"Cloud, kakak berangkat ya." ucap Viollete sembari melangkahkan kakinya dan meninggalkan kamarnya.
"Apa kakak tidak sarapan dulu? Bibi Inoe sudah memasak masakan yang enak lo. Kakak akan menyesal jika melewatkannya begitu saja." ucap Cloud yang mulai mengekori Viollete dan melenggang bersama.
"Kakak akan lebih menyesal jika hari ini kakak sampai terlambat kerja lagi, Cloud. Hari ini adalah hari pertama kakak bekerja. Dan kakak harus memberikan kesan yang baik untuk mereka." ucap Viollete sambil melirik pemuda berusia 21 tahun yang memiliki rambut keemasan itu.
"Jadi kakak tidak akan sarapan?" tanya Cloud mengerutkan keningnya menatap Viollete.
"Seperti biasa, kakak akan memakannya saat berada di dalam busway. Hehe ..." sahut Viollete lalu tersenyum lebar dan mulai mengambil sepotong roti sandwich dan mulai meninggkan rumah. "Bye, Cloud!!"
Gadis itu mulai sedikit berlari untuk segera mencapai halte. Terlihat sebuah busway yang kebetulan sedang berhenti di halte. Dengan cepat Viollete segera naik ke dalam busway itu dan mulai duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
Setelah duduk, Viollete mulai memakai sepasang headset pada telinganya dan mulai memutar sebuah lagu yang berasal dari ponselnya. Sambil melihat pemandangan disisi luar dari jendela, kini Viollete mulai menikmati roti sandwitch miliknya.
Tiba-tiba ada seorang penumpang yang mulai duduk di sebelah Viollete. Seorang pemuda yang sudah berpakaian dengan sangat rapi dengan setelan kemeja putih dipadankan dengan blazer hitam dan juga memakai celana drill berwarna hitam. Selain rapi, pemuda itu juga begitu harum.
Tanpa melihat penumpang itu, Viollete sedikit bergeser semakin mendekati kaca jendela sambil menikmati roti sandwich miliknya dengan iringan sebuah lagu yang memiliki musik yang begitu menenangkan hati melalui headset yang sedang dia kenakan saat ini.
"Vio ..." pemuda itu mulai memanggil Viollete, namun Viollete masih terlihat cukup cuek dan tak menghiraukannya sama sekali.
Karena sebenarnya Viollete tidak mendengar panggilan dari pemuda itu sama sekali, karena musik yang sedang Viollete dengarkan saat ini melalui headset miliknya cukup kencang.
"Vio ..." kali ini pemuda itu semakin mengeraskan suaranya, namun tetap saja Viollete tak mendengarnya dan masih asyik menikmatinsarapan paginya sambil melihat beberapa gedung tinggi di sisi sampingnya.
Pemuda itu sepertinya mulai sedikit kesal, karena Viollete tak menanggapinya sama sekali. Hingga akhirnya kini pemuda itu mulai melepaskan salah satu headset Viollete begitu saja.