
BUUAKK ...
BRUUGGHH ...
PRRAANGG ...
PLETAKK ...
Seorang pria tiba-tiba saja mulai menyerang Viollete dari arah belakang dengan memukul tengkuknya. Tubuh Viollete sedikit terkejut karena sebuah serangan tak terduga itu, namun Viollete masih bisa sedikit menghindarinya.
Ponsel Viollete terjatuh begitu saja dan seketika mati sebelum Viollete sempat mengatakan sepatah kata apapun untuk Roy.
Rupanya pria itu adalah pria penjaga bertubuh tambun yang tadi mengikat Viollete di gerbong belakang. Dan mungkin saja pria penjaga itu sudah menyadari dari tadi jika Viollete sudah berhasil melarikan diri, hingga akhirnya pria penjaga itu mulai mencari keberadaan Viollete.
"Kau!! Beraninya berusaha melarikan diri!" geram pria penjaga itu dengan wajah sangarnya yang begitu kelam.
Karena saat ini mereka berdua masih berada di dalam gerbong tepat di belakang gerbong sang pentholan dari penculikan ini berada, kini Viollete berusaha untuk segera menghindari pria penjaga itu dan mencari celah untuk segera keluar dari gerbong itu. Tak lupa gadis itu juga mulai memungut ponselnya sebelum meninggalkan tempat itu.
Pintu kereta api ini sebenarnya dibuka dan ditutup secara manual. Jika tak dikunci, pintu bisa terbuka sendiri karena efek akselerasi atau hantaman angin. Dan sangat kebetulan sekali saat ini pintu pada gerbong kedua ini rupanya sudah terbuka begitu saja.
Dengan pergerakan cepat Viollete segera bergerak cepat untuk segera meraih pintu itu. Dan lagi-lagi aksinya sungguh sangat memukau. Tepat saat Viollete berada di pintu, gadis genius itu segera berhalik kembali dan mulai mengankat kedua tangannya bergelantungan pada sebuah besi di atasnya.
Viollete mulai mengayunkan tubuhnya beberapa kali dengan kuat dan pada ayunan terakhir sukses menjejakkan kedua kakinya tepat mengenai perut pria penjaga itu, hingga pria penjaga itu terdorong ke belakang dan terajatuh terjungkal dan menabrak kursi penumpang yang sudah berderet dengan rapi.
Viollete yang masih bergelantungan, kini menurunkan tangan kirinya dan mulai memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah luar. Kini tangan kirinya mulai memegang kembali besi pegangan itu.
Lagi-lagi Viollete mengayunkan tubuhnya dengan cukup kuat hingga akhirnya mendarat dengan sempurna di luar kereta api dengan posisi jongkok.
Hhuupp ...
Sang pria penjaga rupanya sudah mulai bangkit kembali dan segera mengejar Viollete. Viollete yang sedikit memiringkan wajahnya dan melirik ke arah belakang kini menyadarinya. Dengan pergerakan yang begitu cepat, Viollete segera bangkit kembali dan berlari searah dengan jalan kereta api itu.
Kini Viollete sudah melewati kepala kereta api itu, dan melihat sesuatu jika sang masinis rupanya juga sudah disekap dan sudah tak sadarkan diri di tempatnya bekerja.
Viollete mulai sedikit berputar di depan kepala kereta api itu dan berusaha untuk menghidupkan ponselnya kembali. Wajah cantiknya yang sedikit memiliki luka lebam itu terlihat sudah begitu tak sabar menunggu ponselnya menyala kembali.
Setelah ponsel itu menyala, Viollete segera munghubungi Roy. Namun panggilannya sama sekali tidak diangkat oleh Roy. Hingga akhirnya Viollete mulai menghubungi Ryuga dengan mempercepat pergerakan jemarinya.
Mendengar ucapan dari Ryuga membuat Viollete bernafas sedikit lega, karena itu artinya para rekan kerjanya sudah mengetahui keberadaannya dan juga keberadaan Perdana Menteri Hiroyuki saat ini.
"Kereta ini berhenti di dekat sebuah hutan yang dipenuhi dengan pohon pinus, Senior. Tolong informasikan kepada stasiun-stasiun arah Sendai di Prefektur Miyagi untuk menunda atau membataklan semua keberangkatan ke Yokohama hari ini! Kereta api Shinkasen Hayabusa sudah diambil alih dan tidak akan bisa beroperasi saat ini. Jika tidak segera diinformasikan, ini akan sangat berbahaya, Senior Ryuga." ucap Viollete dengan cepat.
"Cckkk, sudah berani memerintahku sekarang ya? Hebat!! Kamu pikir aku orang yang bodoh ya? Tentu saja aku sudah melakukannya sejak dari awal!" ucap Ryuga menandaskan dengan nada bicara tidak suka dan sangat kesal.
Belum sempat menjawab ucapan dari Ryuga, kini pria berbadan tambun itu sudah berhasil menyusul Viollete dan melayangkan serangannya kembali. Viollete menunduk dan menghindari serangan dari pria penjaga itu, namun lagi-lagi ponsel Viollete terjatuh kembali.
Belum sempat memungutnya kembali, pria itu masih saja berusaha melayangkan serangan demi serangan untuk melukai Viollete. Viollete menahan serangannya dengan kedua tangannya. Namun kekuatan pria itu sungguh cukup kuat dan berhasil mendorong tubuh Viollete dan menguncinya mentok pada bagian depan kereta api peluru itu.
Duel yang cukup menguras energi karena duel itu terjadi cukup lama. Dan sepertinya ronbongan penculik itu belum menyadari kehadiran Viollete saat ini dan hanya si pria penjaga ini yang masih menyadarinya.
Sementara itu ...
"Aku tetap pada pilihanku! Aku tak bisa membiarkan perbuatan salahmu ini begitu saja, Fumio! Aku tak bisa menyerahkan negeri ini padamu!" Perdana Menteri Hiroyuki berkata dengan tegas dan penuh dengan keyakinan atas sebuah pilihan yang sudah dipilihnya.
Bahkan disaat terdesak seperti ini saja, Perdana Menteri Hiroyuki masih mengesampingkan putrinya yang saat ini juga sedang dalam bahaya dan menjadi salah salah satu sandera di antara para penumlang itu.
Benar-benar seorang pemimpin yang memiliki berkepribadian baik dan pantas untuk dicontoh. Tidak egois dan tidak menomor satukan dirinya serta keluarganya. Namun dia masih bisa mengemban dan menjaga negerinya dari seorang sampah seperti Fumio.
"Ccckk ... baiklah jika memang itu adalah pilihanmu!" sahut Fumio dengan sangat tidak sopan dan memukul kepala Hiroyuki. "Yoshihiko! Segera siapkan Agusta Westland dan kita akan segera meninggalkan tempat yang akan segera kita hancurkan ini!" titak Fumio kepada salah satu kaki tangannya.
"Baik, Tuan Fumio. Agusta Westland sudah kami persiapkan di luar. Dan kita hanya tinggal menaikinya saja, Tuan Fumio!" sahut kaki tangan bernama Yoshihiko itu.
Fumio mulai menyeringai menatap Hiroyuki dan segera memberikan salam perpisahan.
"Sebentar lagi kalian semua akan menjadi manusia panggang. Selamat tinggal Perdana Menteri Hiroyuki yang begitu terhormat dan berjiwa besar!" seringai yang terlihat begitu kelam itu kini mulai menghiasi wajah Fumio. "Ahh ... sebaiknya aku segera kembali untuk mempersiapkan pemakamanmu. Dan aku juga harus mempersiapkan diri untuk pelantikanku. Selamat tinggal, Kawan!" Fumio menepuk-nepuk pipi kiri Hiroyuki masih dengan senyuman miring lalu mulai meninggalkan kereta api.
Sebuah Agusta Westland berwarna putih bersih terlihat sudah menantikan Fumio dan berada tak jauh dari kereta api itu. Keadaan mesinnya masih hidup dengan baling-baling yang masih berputar dengan cepat dan ritme teratur.
Fumio mulai memasuki capung besi berwarna putih itu dan diikuti oleh beberapa anak buahnya. Setelah beberapa saat, capung besi itu mulai terbang kembali, dan berhenti di atas tak jauh dari tempat itu.
Fumio masih dengan senyuman sengitnya menatap ke bawah, tepatnya dia sedang menatap kereta peluru yang akan segera meledak karena sebuah alat peledak itu.
Sebuah tombol berwarna merah pada sebuah remot kontrol yang berukuran kecil, kini mulai ditekannya dengan seringai menakutkan.