
Di dalam kamarnya, Viollete termenung memandangi sebuah amplop berukuran sedang berwarna putih yang telah diberikan oleh kakeknya, Kin Makoto tadi pagi.
Setelah cukup lama menimang-nimangnya, akhirnya jemari kanana Viollete mulai meraih pembuka amplop itu dan berusaha untuk segera membukanya tanpa merobeknya.
Sebuah ujung kertas yang berbahan sedikit licin dan tajam mulai diraihnya dari dalam amplop putih itu, namun tiba-tiba mulai terdengar ritme teratur yang berasal dari arah pintu. Dan seseorang mulai memanggil nama Viollete dari luar kamarnya.
"Kak Vio!! Bolehkah aku masuk?" rupanya Cloud yang sedang memanggil Viollete dari luar kamarnya.
"Oh ... tunggu sebentar, Cloud! Kakak sedang ganti baju!" Viollete menyauti dengan sebuah kebohongan kecil, karena Viollete harus segera menyembunyikan amplop pemberian dari sang kakek lagi di suatu tempat.
Viollete mulai melihat sekelilingnya, hingga akhirnya Viollete mulai memutuskan untuk menyembunyikannya di bawah pembaringannya.
"Masuklah, Cloud!" perintah Viollete dengan suara yang sesantai mungkin.
"Baik, Kak! Aku masuk!" ucap Cloud lalu mulai membuka pintu kamar Viollete.
CEKLEEKK ...
Cloud mulai memasuki kamar Viollete dan memperhatikan sekelilingnya dengan takjub. Kamar ini dipenuhi dengan nuansa putih dan dusty pink yang manis dan lembut.
Sebenarnya sangat tidak cocok dengan larakter Viollete yang saat ini. Dan mungkin saja, saat itu Amane-lah yang merancang dan memilihkan semua desain untuk kamar dari putrinya. Karena seorang putri, maka Amane memberikan nuansa girly yang manis dan lembut untuk kamar Kin Rui kecil saat itu.
"Jadi inikah kamar kakak saat kecil? Wah ... manis sekali ya. Pasti mama yang memilihkan semua ini untuk kakak." celutuk Cloud yang masih mengamati kamar Viollete dengan sangat takjub.
Mendengar ucapan dari sang adik, membuat Viollete tersenyum tipis dan mulai merundukan Amane lagi.
"Hhm. Sepertinya memang begitu, Cloud. Karena seingat kakak, kamar ini tak pernah berubah sedikitpun saat itu. Jadi itu artinya kamar ini memang sudah seperti ini semenjak kakak dilahirkan." ucap Viollete terdengar begitu sedih karena kembali merindukan sang mama.
"Cloud ... kakak rindu sekali dengan mama." ucap Viollete lagi begitu lirih dan mulai meremas seprei berwarna putih itu dengan kedua jemarinya.
Sepasang mata dengan pupil kecoklatan itu terlihat sudah berkaca-kaca tanpa Viollete sadari. Viollete, seorang gadis yang selalu terlihat begitu tegar dan tak pernah menangis serta tak pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan orang lain, kini terlihat begitu rapuh saat mengingat sang mama.
Cloud yang menyadari semua itu kini mulai melenggang mendekati Viollete dan duduk di samping Viollete. Rasanya tak tega saat melihat kakak kesayangannya bersedih seperti itu. Karena tak biasanya Viollete seperti itu.
Viollete di mata Cloud adalah sosok seorang kakak yang selalu tegar, kuat, paling keren dan tak terkalahkan! Namun kali ini ... tiba-tiba saja Cloud seakan melihat sosok lain di dalam diri Viollete saat ini.
"Kak Vio ... jangan bersedih dan menangis seperti ini ..." ucap Cloud berusaha untuk menghibur Viollete yang malah sudah meneteskan air matanya.
"Sayang sekali aku tak bisa mengingat apapun ya, Kak. Rasanya aku juga ingin sekali bertemu dengan mama." Cloud menyauti dengan pelan, dan terlihat mulai murung.
Namun dengan cepat Cloud segera tersenyum kembali untuk menutupi kesedihannya, agar Viollete tidak semakin bersedih karena mengingat Amane.
"Tapi tidak masalah. Asal mama sudah tenang dan bahagia disana, maka aku sudah merasa sangat lega kok." ucap Cloud lagi lalu beralih menatap Viollete.
"Ya, Cloud. Kamu benar sekali." sahut Viollete berusaha untuk mulai tersenyum kembali. "Cloud ..."
"Ya, Kak?" tanya Cloud.
"Saat itu Kagami Jiro juga datang kesini untuk menghadiri pesta ulang tahun kakak." ucap Viollete mulai bercerita kembali.
"Tuan Kagami Jiro? Orang yang membunuh mama itu, Kak?" tanya Cloud sangat terkejut.
"Hhm." sahut Viollete disertai dengan sebuah anggukan pelan. "Kakak juga tidak tau sebenarnya apa hubungan Kagami Jiro dengan mama dan papa. Namun yang kakak lihat saat itu, mereka semua baik-baik saja. Terlihat saling akrab satu sama lain. Seperti tak ada masalah apapun." ucap Viollete menerawang jauh karena mengingat kejadian 18 tahun lebih yang lalu itu.
"Apakah sebenarnya mereka memiliki ikatan yang dekat di masa lalu?" ceputuk Cloud.
"Kakak tidak tau, Cloud. Kakak sudah sering mencari data-data dan beberapa informasi tentang hal itu, namun kakak tak pernah menemukan apapun. Bahkan kakak sudah berusaha untuk mencari putra sulung Kagami Jiro yang selama ini disembunyikan dari publik, namun kakak juga tak menemukan apapun." ucap Viollete lagi dengan lirih.
"Putra sulung Kagami Jiro?" tanya Cloud dengan kening yang sudah berkerut menatap Viollete.
"Hhm. Dia memiliki seorang putra lagi sebelum Kenzi dan Kenzou. Dan putra sulungnya itu disembunyikannya dari publik, bahkan tak tertulis di dalam anggota keluarganya. Namun putra sulungnya itu sudah dilarikan oleh seseorang selama belasan tahun. Dan hingga saat ini belum ditemukan." ucap Viollete lagi.
"Seorang putra? Tunggu dulu, Kak!" ucap Cloud tiba-tiba. "Selama ini aku tak pernah mengetahuinya. Kakak tau darimana berita itu?"
"Dari kedua putra kembarnya sendiri. Saat itu Kenzi mengatakannya saat kita bermain truth or dare. Cckk ... seharusnya kakak mengorek informasi secara lebih lagi saat itu dengan memanfaatkan permainan bodoh itu!" celutuk Viollete yang terlihat mulai menyesal.
"Aku akan mencoba mencari info juga, Kak. Siapa tau aku bisa membantu kakak."
"Tidak perlu, Cloud. Kamu jangan terlibat sedikitpun! Ini sangat berbahaya." ucap Viollete dengan cepat.
Kazuma sudah berhasil dijatuhkan, meskipun bukan dari tanganku sendiri. Mungkin selanjutnya adalah Igor ... atau Wilson ... atau Kenzi ... atau Kenzou ... atau Yuna ... atau Kagami Gumi. Kita lihat saja permainan ini. Satu persatu orang yang disayanginya akan meninggalkan Kagami Jiro. Dan Kagami Jiro akan merasakan bagaimana rasanya sesak dan sedih karena kehilangan orang yang sangat dicintainya. Hati harus dibayar dengan hati! Jantung harus dibayar dengan jantung! Dan nyawa harus dibayar dengan nyawa!!
Batin Viollete mengepalkan kedua tangannya dengan tatapannya yang begitu tajam menatap lurus ke depan.