The Goddess Of War

The Goddess Of War
Kejujuran Viollete



"Katakan padaku. Aku janji aku tak akan mempersulitmu. Dan aku janji aku akan baik-baik saja. Percayalah padaku, Vio ..." ucap Nickhun dengan pelan dan menatap Viollete hangat.


"Nick ... aku ..." ucap Viollete yang masih terlihat sangat ragu-ragu.


"Percayalah padaku, Vio ..." ucap Viollete yang masih saja terlihat sangat ragu-ragu.


"Orang itu adalah ... Kagami Jiro, Nick." ucap Viollete akhirnya.


Seketika Nickhun terkejut bukan main setelah mendengarkan jawaban dari Viollete. Rasanya begitu tak percaya akan semua yang baru saja dia dengarkan dari Viollete.


"Tuan Kagami Jiro?" tanya Nickhun mengulang kembali pertanyaannya karena masih merasa kurang yakin dan kurang percaya.


Viollete mengangguk pelan dan wajah ayu itu terlihat begitu murung saat ini.


Bagaimana mungkin orang itu adalah tuan Kagami Jiro? Bagaimana mungkin tuan Kagami Jiro bisa membunuh orang yang setidaknya pernah sangat dekat dengannya? Bahkan wanita itu adalah ibu dari putrinya? Apakah benar sebenarnya tuan Kagami Jiro adalah orang yang sangat kejam? Namun mengapa auranya sangat berbeda? Dia terlihat memiliki hati yang lembut? Apa yang sebenarnya terjadi?


Batin Nickhun sangat kebingungan.


"Baiklah. Vio ... ya sudah, jangan pikirkan ini dulu. Sebaiknya kita naik yuk! Kita lihat keindahan kota Tokyo dari atas." ucap Nickhun berusaha untuk mengalihkan pembicaraan karena Viollete mulai terlihat murung saat membicarakan hal itu.


"Hhm. Yuk!" Viollete menyauti dengan begitu singkat dengan anggukan dan senyuma manisnya.


Mereka berdua mulai bangkit dari duduknya lalu mulai melenggang bersama dan memutuskan untuk naik ke dalam Tokyo Skytree dengan menggunakan elevator.


Viollete, bagaimana jika kamu mengetahui ... jika sebenarnya tuan Kagami Jiro adalah ayah biologismu? Ataukah sebenarnya kamu memang sudah mengetahuinya? Dan kamu masih saja melakukan rencanamu?


Batin Nickhun menatap sisi samping wajah Viollete ketika mereka sudah berada di lantai atas untuk menikmati gedung-gedung landmark kota Tokyo yang begitu menakjubkan itu.


"Vio, ada yang aku ingin tanyakan padamu."ucap Nickhun tiba-tiba.


"Ya? Katakan saja, Nick." ucap Viollete yang masih menikmati keindahan di hadapannya saat ini.


Angin yang berhembus dengan cukup kuat kala siang ini membuat rambut panjang Viollete yang indah sedikit menari-nari di udara. Sepasang mata dengan pupil kecoklatan itu juga terlihat menyipit karena hembusan angin yang kuat itu.


"Apakah kamu, mama dan papamu selalu bersama saat kamu kecil? Uhm ... mkasudku adalah ... apalah sebelumnya kalian pernah tidak tinggal bersama?" tanya Nickhun akhirnya.


"Sejak dari kecil, aku sudah tinggal bersama dengan mereka, Nick. Aku juga tinggal bersama dengan kakekku di rumah besar keluarga Kin. Kami tak pernah terpisah saat itu. Namun setelah mama meninggal, papa mengajak aku dan Cloud untuk meninggalkan Jepang. Dan kami mulai hidup dan tinggal di desa Wang Nam Khiao tanpa kakek." ucap Viollete menceritakan semuanya dengan jujur.


"Begitu ya. Hhm ..." gumam Nickhun pelan sambil mengusap dagunya.


Lalu apa yang terjadi saat itu? Mengapa tuan Buck Karimova malah mengajak Vio dan Cloud malah meninggalkan Jepang saat itu? Jika memang tujuan tuan Buck Karimova untuk menenangkan diri karena kematian dari sang istri, lalu mengapa kakek dari Vio tidak diajak ke Thailand saat itu? Dan ... lalu ... tuan Buck Karimova juga melatih Vio dengan sangat keras dan disiplin. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi diantara mereka di masa lalu. Aku harus membantu Vio untuk mengungkap semua ini. Aku harus membantu Vio untuk menyelesaikan masalahnya. Jangan sampai Vio mengambil keputusan yang salah dan malah melukai ayahnya sendiri.


Batin Nickhun menerka-nerka dan memikirkan ke arah sana.


Lalu ... dengan Kazuma saat itu ... apakah Viollete yang juga mencelakai Kazuma? Oh tidak ...


Batin Nickhun mulai memijat keningnya sendiri karena terlalu bingun.


"Tidak, Vio. Aku baik-baik saja." Nickhun menyauti dengan pelan. "Vio, aku ingin menanyakan sesuatu padamu lagi."


"Hhm. Katakan saja padaku, Nick." sahut Viollete dengan santai.


"Sebenarnya aku berada di Queen's Square Mall saat akhir pekan lalu. Dan aku melihat saat kamu bersama dengan Kazuma ..." ucap Nickhun dengan sangat hati-hati.


Viollete yang mendengarkan ucapan dari Nickhun seketika membekukan senyumannya dan mulai terlihat sedikit kaku.


"Kamu melihat aku bersama dengan Kazuma?" tanya Viollete dengan hati-hati.


"Ya, Vio. Aku melihatnya."


"Lalu ... apa lagi yang kamu lihat?" tanya Viollete mulai menatap Nickhun serius.


"Aku melihatmu dan Kazuma bersama saja. Hanya itu .. "


"Apa ada orang lain yang mengetahui semua ini? Apa ada orang lain yang sudah kamu beri tau akan hal ini, Nick?" tanya Viollete mulai terlihat gelisah.


"Tidak ada, Viollete." jawab Nickhun dengan jujur.


"Huftt ..." Viollete mulai menhembuskan nafas kasarnya ke udara dan terlihat sedikit lega setelah mendengarkan jawaban dari Nickhun.


"Vio. Apa yang terjadi sebelumnya? Apa kecakaam yang menimpa Kazuma ada hubungannya denganmu? Mengapa kamu begitu khawatir jika ada orang lain yang mengetahui jika sebelum kejadian itu kalian sempat bersama?" selidik Nickhun memelankan suaranya, meskipun sebenarnya tempat ini saat ini sangat sepi dan hanya ada mereka berdua saja.


"Uhm ... tid-tidak, Nick! Kazuma tertabrak sebuah mobil saat mau menyebrang dengan terburu-buru. Karena aku sangat ketakutan saat itu, aku malah meninggalkannya begitu saja. Aku sangat ketakutan untuk berurusan dengan Doragonshadou dalam hal ini. Aku khawatir mereka malah akan mengetahui identitas rahasiaku jika menyelidikiku." ucap Viollete berkilah dan berharap Nickhun tidak mencurigainya kembali.


"Padahal jika memang kamu tidak melalukan hal yang salah, seharusnya kamu tidak perlu merasa takut, Vio. Namun alasanmu sedikit masuk akal sih. Jika mereka menyelidikimu, maka tidak menutup kemungkinan jika mereka akan mengorek semua tentang kamu." ucap Nickhun menyetujui pemikiran Viollete.


"Hhm. Iya, Nick ... makanya aku sedikit khawatir dan malah melarikan diri seperti itu. Kasihan sekali Kazuma." ucap Viollete.


"Ya sudah. Aku tidak akan memberitahukan kepada siapun akan hal ini." ucap Nickhun akhirnya.


"Terima kasih, Nick." ucap Viollete dengan senyum lebar.


"Sama-sama, Vio. Kamu mau sesuatu? Smoothie yang manis dan lembut? Atau makanan lainnya? Aku akan membelikannya sebentar untukmu jika kamu mau." ucap Nickhun menawari.


"Tidak perlu, Nick. Lebih baik kita beli bersama saja yuk!" Viollete menyauti dengan senyum lebar dan mulai menarik lengan kuat Nickhun untuk segera mencari sebuah kafe untuk membeli minuman maupun makanan.


Nickhun tersenyum lebar dan menurut saja.


Entah mengapa, aku merasa jika Viollete masih tidak jujur padaku. Apakah dia masih tidak memercayaiku seutuhnya? Mengapa tidak sepenuhnya jujur padaku, Vio?


Batin Nickhun yang masih menatap sisi samping wajah Viollete yang begitu cantik.