The Goddess Of War

The Goddess Of War
Success Mission



Suara derap langkah kaki itu semakin mendekat, hingga akhirnya dua orang pria mulai terlihat dan memasuki ruangan ini. Namun langkah kakinya mulai terhenti ketika menyadari Viollete sudah menodongkan sebuah senjata api ke arah mereka berdua.


Namun Viollete menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan terlihat sedikit lega, karena kedua pria yang datang itu adalah Roy dan Ryuga, teman satu team Viollete pada misi penyelamatan kali ini.


Roy dan Ryuga itu mulai menurunkan masker hitamnya dan segera mendekati kedua preman yang sedang jongkok di pojok ruangan untuk segera mengikat kedua preman itu. Lalu Roy dan Ryuga mulai menggiring kedua preman itu untuk mereka bawa keluar dari tempat ini.


Ryuga yang sedang menggiring si pria botak hanya menatap sinis Viollete lalu mulai melewatinya begitu saja. Mungkin sebagai senior dari Viollete, Ryuga merasa kurang dihargai dan merasa kurang dihormati, karena Viollete yang sudah berani untuk bergerak sendirian melawan para preman itu.


Padahal sebelumnya Ryuga hanya memerintahkannya untuk menemukan lokasi sandera saja Dan Ryuga juga memerintahkan untuk segera menghubunginya jika sudah menemukan lokasi sandera. Namun Viollete malah bergerak sendiri begitu saja.


Roy yang sedang menggiring preman berambut hitam panjang dan dikuncir terlihat sedikit lebih ramah ketika berpapasan dengan Viollete.


"Vio, jaga dan bawa Yuri bersama denganmu! Beberapa team penolong akan segera sampai disini. Para preman lain juga sudah berhasil kita bereskan." ucap Roy yang berhenti sejenak di dekat Viollete.


"Baiklah, aku paham!" Viollete menyauti dengan datar dan mulai menyimpan kedua senjata api laras pendek itu kembali.


Setelah mengatakan hal itu, Roy mulai menggiring preman itu lagi untuk meninggalkan ruangan penyandraan ini. Viollete dan gadis bernama Yuri itu mulai melenggang mengikuti mereka semua.


Mereka menyusuri lorong gelap bawah tanah itu yang memiliki bau yang sedikit pengap. Setelah sampai di pertigaan lorong, kini mereka mulai mengambil belokan ke kiri dan mulai menaiki tangga yang menghubungkan ke atas permukaan tanah.


Seorang pria penjaga yang sudah berhasil dikalahkan oleh Viollete rupanya masih duduk bersandar di dinding dengan posisi yang sama, hanya saja kini sedikit miring. Karena Roy dan Ryuga sempat memeriksa pria itu sebelumnya, dan rupanya pria itu sudah meninggal dengan lehernya yang meninggalkan bekas kemerahan karena cekikan kaki Viollete yang cukup kuat.


Setelah menapaki tangga demi tangga, akhirnya mereka semua kini sampai di permukaan tanah. Beberapa mobil khusus dari Doragonshadou mulai datang untuk membawa para preman itu, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.


Gadis bernama Yuri itu kini mulai berlari meninggalkan Viollete dan malah mendatangi seorang pria paruh baya yang baru saja turun dari sebuah mobil Limusim yang begitu mewah berwarna hitam. Pria paruh baya itu mulai membuka kacamata hitamnya dan terlihat begitu terharu melihat Yuri dan sudah selamat dan kini sudah berada di hadapannya.


"Daddy ..." Yuri berteriak dan segera melempar dirinya ke dalam pelukan pria paruh baya itu.


"Yuri sayang ... kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan?" pria paruh baya itu mulai melepas pelukan putrinya lalu memegang kedua bahu Yuri dan melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala untuk memastikan jika Yuri sama sekali tidak terluka.


Gadia bernama Yuri itu menganggu dan tersenyum tipis, "Hhm. Aku baik-baik saja, Daddy. Hanya saja mereka terlalu kuat mengikat kedua tanganku hingga tanganku menjadi merah dan sakit seperti ini." ucap Yuri sambil memperlihatkan pergelangan tangannya yang sedikit merah karena bekas ikatan yang begitu kuat dan kencang.


"Baiklah. Nanti akan diobati dokter saat sampai di rumah." sahut pria paruh baya itu mengusap kepala putrinya dengan lembut.


Buck Karimova memang pernah begitu hangat seperti itu saat Viollete masih kecil, namun kini semua itu tak pernah terlihat lagi. Kehangatan sang papa sudah lenyap seiring dengan bertumbuhnya Viollete yang semakin menjadi seorang gadis dewasa.


Karena setelah Viollete tumbuh menjadi seorang gadis dewasa, hanya ada latihan keras, kedisiplinan tingkat tinggi, bahkan hukuman-hukuman berat yang akan Buck Karimova berikan tanpa memikirkan perasaan Viollete saat itu.


Kehidupannya menjadi semakin dingin dan tertutup. Jalan hidupnya yang begitu keras menjadikannya tumbuh menjadi wanita yang tangguh, kuat dan dingin.


"Aku baik-baik saja, Daddy! Kakak cantik itu yang sudah menyelamatkanku dengan sangat keren. Ayo!!" Yuri mulai menarik tangan ayahnya dan mulai mendekati Viollete yang masih termenung.


"Kakak cantik ini yang sudah menyelamatkan aku, Daddy." ucap Yuri menjelaskannya lagi kepada ayahnya dengan bersemangat.


"Nona, terima kasih karena sudah menyelamatkan putriku. Dia adalah satu-satunya harta paling berharga untukku. Terimalah ini ..." pria paruh baya itu mulai mengambil sesuatu dari saku jaz hitamnya.


Sebuah kartu kredit berwarna keemasan mulai diberikan untuk Viollete oleh pria paruh baya itu sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkan Yuri.


"Kartu ini adalah VIP card untuk berbelanja di toko kami. Kartu ini tak memiliki limit. Hanya ini yang bisa aku berikan sebagai ucapan terima kasih untuk nona." ucap pria paruh baya itu dengan tulus. Sangat terlihat jika pria paruh baya itu begitu menyayangi putrinya hingga rela memberikan apapun untuk keselamatan sang putri.


"Tidak perlu, Tuan. Aku melakukan semua ini karena ini adalah memang tugasku. Lebih baik tuan menyimpan hadiah ini. Ini sangat mahal dan aku tidak layak mendapatkannya." tolak Viollete dengan ramah dan sedikit mendorong dengan kedua telapak tangannya.


"Tidak, kamu harus menerima ini. Jika kamu menolaknya, maka aku akan sangat merasa berhutang budi padamu, Nona. Aku paling tidak suka merasa berhutang budi dengan orang lain. Terimalah." pria itu tersenyum ramah dan menarik tangan kanan Viollete lalu memberikan kartu VIP berwarna keemasan itu pada jemari kanan Viollete.


Setelah memberikan kartu itu pria paruh baya itu mulai menggandeng Yuri dan mulai meninggalkan Viollete lalu berbincang sebentar dengan seseorang pemimpin klan Yokohama dari Doragonshadou.


Viollete masih terdiam menatap sebuah kartu VIP berwarna keemasan itu dan tak tau mau digunakan untuk apa. Karena selama ini Viollete tidak memiliki hobi berbelanja apapun. Dia hanya akan pergi untuk membeli sesuatu yang benar-benar sedang dibutuhkannya.


"Viollete! Segera masuk ke mobil. Kita akan pergi ke markas besar sekarang juga!" titah seorang pria yang terdengar begitu dingin dan tegas.


Setelah mendongak menatap pria itu, rupanya dia adalah Ryuga, seniornya. Ryuga mulai berbalik dan memasuki sebuah mobil BMW berwarna hitam. Viollete segera menyimpan kartu VIP keemasan itu di dalam saku pakaiannya lalu mulai mengikuti seniornya untuk memasuki mobil itu.


...⚜⚜⚜...