
"Sudah, kalau begitu aku pilihkan saja! Grape smoothie tea saja!" ucap Viollete mulai memutuskan sendiri karena dari tadi Nickhun masih saja tertawa karena mendengarkan nama-nama minuman yang menurutnya begitu lucu. "Tunggu disini dulu! Aku akan memesan minuman itu!" imbuh Viollete lalu mulai meninggalkan Nickhun.
Viollete tak terbiasa memanggil dengan berteriak untuk membuat seseorang melakukan sesuatu untuknya. Maka dari itu Viollete memutuskan untuk langsung mendatangi pelayan cafe dan memesan minuman itu.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Viollete sudau datang kembali menghampiri Nickhun dengan segelas minuman berwarna keunguan dan ada cream putih di bagian atasnya.
"Nih ... cobain deh!!" Viollete mulai menyodorkan minuman itu untuk Nickhun dan Viollete mulai duduk kembali di kursinya.
Nickhun mulai meraih minuman berwarna keunguan dan memiliki cream putih di atasnya itu lalu mulai menikmatinya.
"Ini enak sekali, Vio ..." ucap Nickhun setelah mencoba minuman itu.
"Lain kali bertanya padaku saja jika ingin mencoba makanan dan minuman yang enak! Hehe ..." sahut Viollete dengan tawa kecilnya yang begitu manis.
Nickhun yang masih menikmati minumannya kini tak sengaja menangkap sosok pria berjubah yang menurutnya sedikit mencurigakan dan sepertinya Nickhun juga mulai menyadari jika mereka berdua sedang diawasi.
"Ehm ... pelayan!" kini Nickhun mulai mengangkat tangan kanannya ke atas untuk memanggil seorang pelayan yang kebetulan sedang lewat dan berada tak jauh dari mereka.
Setelah beberapa saat akhirnya pelayan itu mulai datang dan menghampiri meja Viollete dan Nickhun.
"Ya, Tuan? Ada yang bisa kami bantu?" tanya pelayan wanita itu dengan begitu ramah.
"Berapa total semuanya ya? Aku mau membayarnya." ucap Nickhun setelah seorang pelayan wanita itu datang.
"Silakan tunggu sebentar, Tuan. Aku akan mengambil bill dulu." ucap pelayan wanita itu dengan ramah lalu undur diri lagi meninggalkan mereka berdua.
"Nick, kamu bahkan belum menghabiskan makananmu? Mengapa terburu-buru mau pulang? Kamu bisa makan dulu, dan aku akan menunggumu kok. Santai saja." ucap Viollete yang sama sekali belum menyadari dengan apa yang terjadi saat ini, bahwa mereka beedua sedang diintai dan diawasi oleh seorang pria.
"Hhm? Tidak masalah kok. Aku juga sudah kenyang, Vio. Dan malam juga sudah semakin larut. Kamu juga harus segera pulang." sahut Nickhun apa adanya.
Tak bisa memolak lagi, akhirnya Viollete hanya menurut saja apa yang sudah dikatakan.
Setelah beberapa saat pelayan wanita itu sudah datang kembali dan memberikan tagihan untuk Nickhun. Nickhun segera membayar tagihan itu lalu mulai mengajak Viollete untuk meninggalkan kafe itu.
Mereka berdua mulai meninggalkan kafe itu dan terlihat sedikit terburu-buru. Dan sesekali Nickhun menoleh ke belakang untuk memastikan apakah pria berjubah itu masih mengikutinya atau tidak.
Dan sepertinya pria berjubah itu sudah kehilangan jejak Viollete dan Nickhun, karena Nickhun mengajak Viollete melewati beberapa jalan tikus hingga akhirnya mereka mulai sampai di gang rumah Viollete.
"Sebenarnya ada apa, Nick? Apakah ada yang sedang mengikuti kita?" tanya Violletw yang belum mengetahui apapun.
"Hhm. Tidak kok. Sepertinya hanya perasaanku saja." kilah Nickhun agar Viollete tak merasa kefikiran akan hal yang belum pasti itu. "Kamu pulang dan istirahatlah, Vio. Besok kamu harus bangun pagi. Jangan sampai terlambat lagi." ucap Nickhun mengusap pelan kepala Viollete.
"Hhm. Kamu juga pulang dan istirahatlah! Dan terima kasih malam ini kamu sudah mentraktirku." ucap Viollete dengan tulus.
Sebenarnya Viollete cukup merasa sedikit bingung entah apa lagi yang akan pemuda itu lakukan padanya? Namun Viollete diam saja menatal pemuda berdarah Thailand yang mulai mendekatinya.
"Jangan dekat-dekat, atau nanti kamu bisa jatuh cinta padaku!" ucap Viollete sengaja menggoda Nickhun.
Namun Nickhun tak terlalu menanggapi ucapan dari Viollete dan terus saja meneruskan niatnya, hingga akhirnya Nickhun mulai meraih dan menyatukan seluruh rambut indah Viollete dan mulai mengikatnya kembali dengan ikat rambut Viollete yang tadi sempat diambil oleh Nickhun.
"Nah, aku sudah mengembalikannya untukmu. Aku khawatir jika aku tak mengembalikannya kepadamu, kamu akan mengejar-ngejarku hingga sampai ke dalam mimpi." canda Nickhun mulai menggoda Violletw kembali.
"Ishhh ... apaan sih!!" sungut Viollete menyibak beberapa helai rambutnya yang tidak terikat dengan sempurna.
Lagi-lagi Nickhun tertawa renyah karena melihat ekspresi kesal dari sahabat kecilnya.
"Pulang dan istirahatlah, Vio! Semoga tidurmu nyenyak. Sleep well and have a nice dream!" ucap Nickhun yang terdengar begitu lembut.
"Lumayan bahasa inggrismu!" ucap Viollete memuji dengan tulus dan mulai mundur beberapa langkah dan melambaikan tangannya.
Viollete mulai melenggang dan menyusuri gang itu hingga akhirnya Viollete mulai memasuki halaman rumahnya. Dan Nickhun sengaja tidak mengantar Viollete sampai dekat agar tidak diketahui Buck Karimova dan anak buahnya.
Viollete mulai memasuki rumahnya dengan berhati-hati dan berjalan dengan mengendap-endap agar tidakmengganggu istirahat papanya dan Cloud.
Namun rupanya Buck Karimova masih saja berada di ruangan tengah dan terlihat sedang menikmati beberapa puntung rokok. Pada asbak terlihat sudah ada bekas beberapa puntung rokok dan sepertinya Buck Karimova memang sedang menunggu Viollete.
"Papa? Papa belum tidur dan beristirahat?" ucap Viollete yang sebenarnya cukup terkejut saat melihat sang papa yang seolah memang sedang menunggu Viollete.
"Papa belum mengantuk." jawab Buck Karimova begitu dingin. "Vio! Kamu makan malam bersama siapa? Dan mengapa begitu lama?" imbuh pria paruh baya itu semakin memicingkan sepasang matanya menatap putri sulungnya.
"Hmm? Tentu saja aku sendirian, Papa. Aku belum banyak mengenal orang di Tokyo, Papa. Dan aku juga belum memiliki seorang teman baru di kota ini." jawab Viollete mencoba untuk tidak memberitahukan soal Nickhun kepada sang papa.
"Hhm. Jadi seperti itu ya. Baiklah papa juga akan segera tidur dan istirahat. Kamu juga tidur dan istirahatlah, Vio. Besok kamu harus bangun pagi." titah Buck Karimova begiru saja dengan mudahnya.
"Baik, Papa. Selamat malam ..." Viollete mulai melenggang dan meninggalkan Buck Karimova begitu saja untuk segera sampai ke kamarnya.
Sementara Buck Karimova terlihat masih menatap punggung Viollete yang berjalan semakin menjauhinya dengan tatapan yang sulit untuk digambarkan.
Sebuah seringai menakutkan yang begitu kelam itu mulai menghiasi wajah yang sudah dipenuhi oleh guratan-guratan halus itu.
Viollete ... jadi kamu sudah berani berbohong kepadaku ya?Hmm. Kita lihat saja seberapa jauh kamu berani bertindak sendirian di belakangku? Dan seberapa jauh pemuda itu berani berkorban untukmu?
Batin Buck Karimova masih dengan seringai yang begitu kelam. Buck Karimova mulai meninggalkan ruangan tengah itu dan segeera melenggang menuju ke kamarnya
...⚜⚜⚜...