The Goddess Of War

The Goddess Of War
Hanyalah Sebuah Rasa Nyaman?



Viollete mengangguk pelan menandakan jika ucapan dari Nickhun adalah benar.


"Ya, namanya adalah Lay Zhang. Dan dia begitu baik kepadaku."


DEGH ...


Mendengar ucapan dari Viollete sebenarnya cukup membuat Nickhun menjadi semakin resah, namun Nickhun bisa menutupinya dengan baik kembali.


"Syukurlah jika ada rekan kerjamu yang selalu baik kepadamu. Aku jadi merasa tenang, Vio." ucap Nickhun dengan seulas senyuman yang begitu hangat.


"Hhm. Iya. Kamu jangan mengkhawatirkan aku lagi. Aku pasti akan baik-baik saja di tempat kerjaku. Kamu tau kan, jika aku ini gadis yang keras, kuat dan tidak mudah ditindas?" sahut Viollete dengan senyum lebar.


Dan tiba-tiba saja Viollete mulai teringat dengan sesuatu. Sesuatu yang menurutnya adalah sebuah kesalahan karena sudah berani untuk berbohong kepada Nickhun beberapa saat yang lalu.


"Nick ... ada yang mau aku bicarakan padamu." ucap Viollete berniat untuk mulai meluruskan sebuah masalah, karena tak ingin Nickhun salah paham.


"Hhm? Ini sudah malam, Vio. Lebih baik katakan saja besok, Vio. Ayo ... busway berikutnya sudah datang. Kita naik dulu!" ucap Nickhun mulai menggandeng Viollete untuk memasuki busway itu, namun kali ini Viollete yang menahan Nickhun sehingga mereka berdua belum menaiki busway itu.


Dan sebenarnya Nickhun juga sedang menghindari untuk pembahasan pernyataan rasa suka itu, karena sebuah kebenaran yang akan diucapkan oleh Viollete mungkin saja akan cukup membuatnya merasa sakit jika semua itu hanya karena sebuah permainan truth or dare saja.


"Nick ... apa kamu sedang menghindariku?" Viollete mulai bertanya saat pemuda berdarah Thailand itu mulai berbalik menghadap dirinya lagi.


"Tidak kok. Aku tidak sedang menghindarimu, Vio. Dan mengapa aku harus menghindarimu?" ucap Nickhun masih dengan senyuman yang menghiasi wajah tampan itu.


"Itu ... aku ingin minta maaf padamu, Nick. Mengenai saat itu ... saat aku menelponmu saat itu ... aku sedang mendapatkan sebuah tantangan dari Lay Zhang. Dan aku disuruh menghubungi teman pria yang aku punya dan menyatakan perasaan padanya. Jadi aku memutuskan untuk menghubungimu, karena hanya kamu teman pria yang aku punya. Aku minta maaf, Nick." ucap Viollete sangat merasa tidak enak.


"Ya, lebih baik kamu memang menghubungiku saat mendapatkan tantangan itu. Karena aku sangat mengenalimu dengan baik, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah padaku, Vio. Aku sangat memahamimu kok. Tenang saja ..." ucap Nickhun masih saja memasang senyum hangat dan mengusap kepala Viollete dengan lembut, meskipun sebenarnya hatinya sedikit kecewa saat ini.


Ucapan dari Nickhun membuat Viollete merasa begitu lega dan tersenyum lebar kembali.


"Nickhun, terima kasih! Kamu memang yang paling memahamiku!! Dan kamu adalah yang terbaik!!" Viollete tersenyum lebar dan memukul pelan lengan Nickhun. "Aku jadi takut ... jika suatu saat nanti kamu sudah memiliki seorang kekasih, maka aku tak akan lagi bisa dekat denganmu seperti saat ini." imbuh Viollete mulai terlihat sedikit murung.


Mendengar ucapan dari Viollete reflek membuat Nickhun sedikit melebarkan sepasang matanya karenq Nickhun sama sekali tak pernah membayangkan hal seperti itu akan terjadi di dalam hidupnya.


"Kalau begitu aku akan lebih memilih untuk tak akan memiliki kekasih saja!" ucap Nickhun dengan cepat. "Karena aku mau selalu dekat denganmu, Vio!"


Viollete semakin tersenyum lebar mendengar ucapan dari Nickhun yang menurutnya cukup konyol itu. Seolah-olah hanya seperti sebuah lelucon saja unyuk Viollete.


"Tidak ada. Tidak ada gadis cantik disana." jawab Nickhun dengan jujur, karena semua rekan kerjanya saat ini adalah pria. "Dan aku tidak akan mudah untuk jatuh cinta, Vio."


"Hhm?Apa?Jadi kamu memutuskan untuk hidup sendiri seumur hidup?" celutuk Viollete yang terdengar cukup konyol untuk Nickhun.


"Tentu saja tidak, Vio. Aku ... sudah lupakan saja tentangku. Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu juga mulai menyukai seorang pria?" ucap Nickhun mengalihkan pembicaraan.


"Menyukai? Tidak ada. Hanya saja ... di tempat kerjaku ada senior Roy yang selalu baik dan ramah kepadaku. Dan juga ada Lay Zhang yang juga tak kalah ramah dan selalu membantuku. Mungkin kelak aku akan menyukai mereka sama seperti aku menyukaimu."


"Vio ... dengarkan aku ..." kali ini Nickhun mulai menunduk dan meraih kedua bahu Viollete. "Kamu tidak boleh semudah itu mempercayai orang yang baru saja kamu kenal. Kamu belum mengenal dengan baik seperti apa mereka."


"Ahaha ... aku hanya bercanda kok, Nick! Tenang saja! Tak ada yang bisa menggantikan kamu di hatiku. Kamu adalah yang terbaik dan yang paling memahamiku!! Kamu adalah sahabat terbaikku yang paling aku sukai! Ayo!! Busway selanjutnya sudah datang. Kita tidak boleh melewatkannya lagi, Nick!" kali ini Viollete melenggang begitu saja dan mulai memasuki busway itu.


Nickhun yang melihat tingkah dari Viollete hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali karena merasa cukup pusing untuk menghadapi Viollete. Dan Nickhun juga tidak mengerti harus berbuat dan berkata seperti apa lagi.


Bagi Nickhun asalkan sudah bisa bersama dengan Viollete saja, sudah membuatnya merasa bahagia dan nyaman. Meskipun Viollete tak mengetahui perasaan dan hati Nickhun yang sebenarnya.


Nickhun mulai melangkah cepat dan menyusul Viollete yang sudah duduk di sebuah tempat duduk. Mereka duduk bersama dan susana hati Viollete kini sudah terlihat semakin membaik saat mengatakan kejujuran itu kepada Nickhun. Yeap, sangat terlihat dari raut wajahnya yang selalu tersenyum berseri.


Hanya dengan melihat teman kecilnya bahagia seperti ini saja, sebenarnya sudah membuat Nickhun cukup merasa bahagia dan ikut tersenyun bersama dengannya.


Aku tak pernah tau, apakah selamanya akan terus seperti ini? Apakah aku hanya bisa menemanimu selalu sebagai seorang sahabat? Tapi, hanya melihatmu tersenyum dan bahagia seperti ini saja, rasanya sudah sangat membuatku begitu bahagia dan lega. Kin Rui ... atau Viollete Karimova ... aku tidak peduli siapapun kamu. Aku hanya ingin selalu bersama denganmu dan melihatmu bahagia.


Batin Nickhun yang tak pernah bosan untuk menatap gadis yang sedang duduk tepat di sampingnya. Senyuman hangat juga masih terukir dengan manis di wajah pemuda berdarah Thailand itu yang kebanyakan dari mereka mengatakan jika dia memang mirip dengan salah satu idol korea yang memiliki nama sama persis dengannya ( Dilarang protes, ini kehaluan author saja ya. Hehe ... ).


Sesekali Viollete juga memergoki Nickhun yang masih saja memandanginya. Namun hal itu tak membuat Viollete mencurigai apapun, karena selama ini Nickhun memang sering melakukan hal seperti ini.


"Hoaam ..." Viollete menguap menutupi mulutnya dengan kedua jemarinya.


"Tidur dan bersandarlah padaku ... aku akan membangunkanmu saat kita sudah sampai." ucap Nickhun masih dengan nada bicara seperti biasanya. Selalu hangat dan menenangkan.


Viollete tersenyum lebar dan mulai bersandar pada bahu Nickhun dan perlahan mulai memejamkan sepasang matanya.


Rasanya nyaman sekali saat bersama dengan Nickhun. Semenjak dia datang ke Tokyo, rasanya aku menjadi semakin tenang. Bahkan aku lebih bersemangat untuk menjalani hari-hariku. Aku harap aku tak akan pernah berpisah dengan Nickhun lagi ...


Batin Viollete masih dengan mata yang terpejam namun wajah ayu itu terlihat sedang tersenyum begitu manis.