
Seorang pria yang terlihat berusia kira-kira 35 tahun itu berpenampilan begitu rapi dan terlihat begitu berwibawa, namun rupanya sangat berbeda dengan kepribadiannya yang begitu licik.
Karena saat ini pria dengan setelan jas super mewah itu sedang berusaha untuk melakukan sesuatu yang licik untuk membuat Perdana Menteri Hiroyuki mundur dari kepemimpinannya saat ini.
"Cepat putuskan pilihanmu saat ini juga, Hiroyuki!" ucap pria itu menandaskan kembali dengan cukup tegas. "Nasib para penumpang dan juga putri kesayanganmu ada berada di tanganmu saat ini! Dan jika sampai aku meledakkan alat peledak ini, bukan hanya mereka yang akan berakhir, namun kamu juga akan berakhir bersama dengan mereka." imbuhnya masih dengan penuh keyakinan jika Perdana Menteri Hiroyuki akan memutuskan untuk mengundurkan diri.
Namun di luar dugaan. Jawaban dari Perdana Menteri Hiroyuki sungguh sangat jauh dari dugaan pria tersebut.
"Aku akan merasa sangat bersalah jika mengundurkan diri dan memenuhi keinginanmu, Fumio! Bahkan seharusnya orang sepertimu tak pantas untuk menjabat sebagai seorang kabinet negara ini! Kamu sangat busuk, licik dan egois!" ucap Perdana Menteri Hiroyuki yang rupanya menentang mentah-mentah negosiasi itu. "Aku tidak akan mundur! Aku tak bisa menyerahkan tanggung jawab besar ini untuk orang sepertimu!"
PLLAAKK ...
Sebuah tamparan yang cukup keras mulai dilayangkan oleh Fumio dan mengenai Hiroyuki.
"Jaga bicaramu dan jangan melampaui batasanmu, Hiroyuki! Saat ini akulah yang berkuasa disini! Ingat itu baik-baik, Pria tua sialan!" hardik Fumio dengan wajahnya yang sudah menjadi merah karena kesal mendengar ucapan dari Hiroyuki.
Setelah berkata dengan cukup tegas, Fumio mulai merapikan kembali jasnya yang menjadi sedikit kusut karena melalukan sebuah tamparan untuk Hiroyuki.
Sementara itu Viollete yang berada di gerbong belakang mereka masih berdiri membelakangi arah mereka dan masih berusaha untuk mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
Cihh ... sial! Aku harus segera menemukan alat peledak itu sebelum terlambat! Dan semoga pria bodoh itu juga tidak menyadari jika aku sudah meloloskan diri. Jika aku terlambat sedikit saja, semua akan dalam bahaya. Tuan Hiroyuki dan seluruh penumpang akan sangat berada dalam bahaya.
Batin Viollete mulai bergerak untuk mencari alat peledak itu.
Pria bernama Fumio itu mengatakan jika dia sudah memasang sebuah alat peledak di gerbong kedua. Dan gerbong kedua adalah gerbong yang saat ini sedang aku tempati. Itu berarti alat peledak itu berada di sekitar sini. Aku harus segera menemukannya dan menghentikan sistemnya agar alat peledak itu tidak berfungsi! Benar sekali! Lakukan dengan cepat dan hati-hati, Vio!
Batin Viollete mulai menyisiri semua tempat di dalam gerbong ini. Namun Viollete masih saja tidak menemukannya meskipun di setiap sudut dan di setiap titik Viollete sudah memeriksanya dengan teliti.
Viollete masih terus berusaha untuk mencari alat peledak itu, di dalam sebuah kereta api yang memiliki desain yang sangat nyaman ini. Kursi penumpang perpaduan warna biru dan cream tertata dengan rapi.
Pada beberapa kereta terdapat stop kontak standard Jepang yang bisa digunakan oleh penumpang. Entah untuk sekedar charging smartphone, atau untuk menyalakan laptop.
"Cih ... dimana mereka meletakkan alat peledak itu?" Viollete mulai mendengus dan menatap kembali seisi gerbong ini.
Dan tak sengaja Viollete mulai menatap sebuah ruangan kecil yang berada di paling ujung, ruangan itu adalah merupakan ruangan seperti bordes yang sudah dilengkapi dengan sebuah telpon duduk berwarna kehijauan. Dan biasanya ruangan kecil ini akan digunakan orang untuk menelepon atau menerima telepon ketika di dalam kereta peluru ini.
Viollete mulai mencari alat peledak itu di dalam ruangan ini, tepatnya di bawah meja. Hingga akhirnya gadis pemberani ini mulai menemukan sesuatu yang sedang dia cari saat ini. Sebuah benda berukuran sedang dan memiliki beberapa kabel warna-warni.
"Mereka menggunakan tipe peledak high explosive rupanya." gumam Viollete pelan sambil menyeringai manis dan mulai jongkok untuk mengamati alat peledak itu. "Kekuatan ledak tipe ini adalah cukup tinggi dan ledakannya akan spontan. Dengan dipicu oleh detonator seperti TNT, RDX atau yang lainnya lagi. Aku harus cepat menonaktifkan fungsi dari peledak ini sebelum semuanya terlambat!" gumam Viollete lalu mulai mengambil sebuah pisau lipat yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi, dan selalu menyimpannya pada lengan pakaiannya.
"Aku hanya perlu memotong aliran listrik dari pemicu ke detonator. Pria sampah yang licik itu tak akan bisa meledakkannya meskipun menekan remot kontrol itu berkali-kali. Ckk ... beres!!" ucap Viollete yang sudah berhasil memutuskan salah satu kabel dari alat peledak itu. "Untuk selanjutnya hanya tinggal mengalahkan para pria sampah itu dan menyelamatkan Perdana Menteri Hiroyuki!" gumam Viollete mulai bangkit dan berdiri kembali lalu melenggang meninggalkan ruangan bordes itu.
Namun tiba-tiba saja Viollete mulai teringat dengan keempat rekan kerjanya yang sudah dia tinggalkan di stasiun Yokohama / Yokohama-eki. Viollete memejamkan matanya dan menepuk keningnya karena sedikit kesal kepada dirinya sendiri.
"Kali ini aku akan mendapat masalah lagi karena meninggalkan mereka begitu saja. Aku harus menghubungi senior Roy ..." gumam Viollete lalu mulai mengambil ponselnya dan berniat untuk segera menghubungi Roy.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya panggilan itu mulai diangkat oleh Roy, namun disaat itu juga seseorang mulai memergoki Viollete dari arah belakang dan mulai menyerang Viollete.
Bersambung ...
Part saat senior Roy yang sedang mendapatkan sebuah panggilan dari Viollete.
Di sela-sela keterburuannya saat berusaha untuk segera Viollete, kini Roy menyempatkan diri untuk mengangkat sebuah panggilan yang berasal dari Viollete. Dan tentu saja Roy juga sangat mengkhawatirkan Viollete.
"Hallo, Viollete!!" sapa Roy setelah mengangkat panghilan itu masih dengan nada bicara dan nafas yang kurang teratur, karena saat ini Roy masih berusaha untuk mengejar Viollete.
BUUAKK ...
BRUUGGHH ...
PRRAANGG ...
PLETAKK ...
Bukan sebuah jawaban dan suara dari Viollete yang Roy dengarkan saat ini. Namun sebuah serangan tak terduga yang mungkin saja preman itu lakukan terhadap Viollete dan mengakibatkan ponsel Viollete terjatuh begitu saja.
Roy yang mendengarkan semua itu tentu saja menjadi semakin khawatir terhadap Viollete. Terlebih Viollete adalah seorang gadis yang bahkan baru bergabung di dalam timnya, dan kali ini Viollete malah pergi seorang diri untuk mengejar dan melawan para penculik Perdana Menteri Hiroyuki.
Meskipun Roy pernah melihat bela diri Viollete yang begitu menakjubkan secara langsung, namun itu semua belum cukup untuk membuatnya merasa lebih tenang. Pikiran buruk dan kekhawatiran masih saja menyelimuti angannya saat ini.
"Vio!! Jawab aku!! Apa kamu baik-baik saja? Vio!!" panggilan dengan nada tinggi itu mulai dilontarkan oleh Roy dan berharap Viollete akan segera menjawabnya kembali.