The Goddess Of War

The Goddess Of War
Perang Udara



Viollete mendatangi kediaman Buck Karimova, namun rupanya rumah itu saat ini rumah itu sudah kosong dan sudah sangat sepi.bahkan Cloud juga tidak ada lagidi rumah ini.


Padahal beberapa saat yang lalu Cloud masih menyibukkan dirinya di kamarnya dan mengerjakan tugas kuliahnya.


"Cloud!!" berulang kali Viollete mencoba untuk memanggil Cloud, namun tetap saja Viollete tak menemukan keberadaan Cloud.


Bahkan berulang kali Viollete mencoba untuk menghubungi sang adik namun panggilan itu juga tak terhubung sama sekali. Dan tentu saja semua itu membuat Viollete merasa sangat cemas.


Kali ini ponsel Viollete tiba-tiba saja berdering, dan rupanya panggilan itu berasal dari Nickhun. Viollete mulai menggeser tombol hijau itu ke samping dan mengangkat panggilan itu.


"Halo. Ada apa, Nick?!" tanya Viollete to the point.


"Vio! Keluarlah dan pergilah ke halaman belakang kontrakanku. Aku sudah menunggumu dan mari kita bersama untuk mengejar tuan Buck Karimova dan Cloud. Karena saat ini mereka berniat untuk meninggalkan Jepang lagi. Cepatlah datang kemari!" tandas Nickhun dengan cepat.


"Baik, Nick! Aku akan segera datang kesana!" sahut Viollete segera mematikan panggilan itu dan mulai bergegas untuk menuju tempat itu.


Viollete berlari dengan cepat dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencapai tempat itu. Hingga akhirnya mulai terlihat sebuah Airbus H225 Super Puma berwarna putih sudah berada di halaman belakang kontrakan Nickhun yang meliliki lahan cukup luas.


Baling-baling dari capung besi berwarna putih itu terlihat sudah menyala dan bersiap untuk segera melakukan sebuah perjalanan. Dari arah pintu kini mulai terlihat Nickhun yang melambaikan tangannya ke arah Viollete.


"Vio!! Kemarilah!!" teriak Nickhun dari dalam capung besi itu.


Viollete mengangguk pelan lalu mulai berlari untuk bergabung bersama Nickhun tanpa pikir panjang. Nickhun mengulurkan tangannya untuk membantu Viollete menaiki capung besi milik dari Doragonshadou ini.


Dan rupanya di dalam sudah ada Kagami Jiro, Roy, serta seorang pilot khusus yang dipekerjakan di dalam Doragonshadou dan wakil pilot.


Kini capung besi berwarna putih itu mulai mengudara dan mulai terbang menuju ke suatu tempat. Nickhun mulai menuntun Viollete dan duduk bersama dengan Kagami Jiro dan Roy.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa karena rupanya mereka semua sudah mengetahui semua ini dan melarikan diri kembali lagi." ucap Nickhun masih menatap lekat Viollete yang hanya menunduk dan masih mengkhawatirkan Cloud, sang adik.


"Tapi Cloud ikut bersama dengan mereka ... bagaimana jika dia melukai Cloud? Bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap Cloud?" ucap Viollete yang terdengar begitu lirih dan bergetar.


Dadanya menjadi sesak karena sangat mengkhawatirkan Cloud saat ini. Viollete masih menunduk dan memejamkan sepasang matanya. Bahkan air mata hangat itu sudah jatuh membasahi pipinya.


"Kin Rui, Putriku ..." ucap Kagami Jiro dengan hangat. "Tenang saja. Kin Izumi tak akan menyakiti Cloud, karena Cloud adalah putranya yang sangat disayanginya. Dia bahkan akan selalu mempertaruhkan nyawanya untuk selalu melindungi putranya. Kamu jangan khawatir. Cloud akan baik-baik saja." imbuh Kagami Jiro mengusap pelan bahu Viollete.


Roy dan Nickhun yang menyaksikan semua ini hanya terdiam dan sebenarnya kedua pemuda itu merasa cukup terharu saat ini. Karena mereka sedang menyaksikan seorang ayah yang sudah menemukan kembali putrinya yang sudah hilang selama 18 tahun. Sangat mengharukan!


"Semoga saja seperti itu ..." ucap Viollete lirih dan masih menunduk.


Sementara kedua jemarinya meremas celana jeans warna gelap yang sedang dikenakannya saat ini dan tetap berusaha untuk selalu tegar dan kuat.


Seperti apa Kin Izumi membesarkan Kin Rui selama 18 tahun ini? Bahkan Kin Rui juga terlihat sangat kuat, disaat aku melakukan sebuah operasi kecil pengambilan peluru tanpa bius saat itu, putri sulungku juga tak terlihat merasakan sakit saat itu. Argh ... apakah Kin Izumi selalu memperlakukanmu dengan buruk dan kasar selama 18 tahun ini, Sayang? Maafkan ayah karena tak bisa menjaga dan menemukanmu saat itu, Sayang. Maafkan ayah ...


Batin Kagami Jiro merasa sesak sendiri jika membayangkan nasib putrinya selama 18 tahun bersama dengan Kin Izumi.


Kagami Jiro masih mengusap bahu Viollete dan perlahan Kagami Jiro mulai meraih dan memeluk putri sulungnya yang sangat dirindukan.


"Target sudah ditemukan, Tuan. Mereka melakukan penerbangan dan hampir melewati hutan Wild Kaazaane." ucap wakil pilota melaporkan.


TAR ...


TAR ...


TAR ...


Belum sempat Kagami Jiro memberikan sebuah perintah dan instruksi kepada anak buahnya, tiba-tiba saja mulai terdengar beberapa suara tembakan yang mengenai capung besi Airbus H225 Super Puma berwarna putih itu.


Roy dan Nickhun dengan cepat mulai siaga untuk menghadapi Death Eyes yang rupanya malah sudah lebih dulu menyerang. Mereka semua saling berperang jarak jauh dengan menggunakan senjata api.


Viollete mulai mendongak dan memutuskan untuj ikut berperang jarak jauh bersama Roy, Nickhun dan Kagami Jiro. Tembakan demi tembakan sudah diluncurkan oleh kedua kubu itu dan terdengar saling bersahutan.


Satu persatu anak buah dari Death Eyes sudah berhasil dijatuhkan. Namun rupanya mereka tidak hanya menggunakan sebuah capung besi. Mereka menggunakan beberapa capung besi dan kali ini sudah mengepung Airbus H225 Super Puma berwarna putih milik dari Doragonshadou itu.


Nickhun, Roy dan Kagami Jiro masih berperang udara melawan Death Eyes, sedangkan Viollete masih terlihat mengawasi sekelilingnya untuk mencari tau dimana sang papa berada.


Dan tentu saja Viollete pastinya akan lebih memahami tentang Buck Karimova dan cara bertarungnya.


Diantara mereka hanya ada satu capung besi yang tidak melakukan penyerangan. Dan tentu saja hal itu akan membuat tim Doragonshadou kurang untuk memperhatikannya. Sudah bisa dipastikan ... dan aku juga merasa sangat yakin jika papa dan Cloud berada di dalam capung besi berwarna hitam itu.


Batin Viollete membuat sebuah kesimpulan setelah melakukan pertimbangan sebelumnya. Pandangannya kini hanya menatap lurus ke arah sebuah capung besi berwarna hitam yang saat imi masih mengudara di sisi belakang capung besi milik Doragonshadou.


Papa ... aku akan menjalankan dan melakukan semua yang telah kamu ajarkan padaku! Kali ini aku sendiri yang akan mengakhirimu!!


Batin Viollete masih menatap tajam capung besi berwarna hitam yang masih mengudara dengan sangat tenang tanpa melakukan penyerangan. Kini Viollete mulai mencari sebuah teropong jarak jauh untuk mengintai isi di dalamnya.


Setelah melakukan melakukan pengintaian selama beberapa saat, akhirnya Viollete mulai menangkap sosok Buck Karimova yang sedang duduk di belakang bersebelahan dengan Cloud.


"Papa ... kamu harus menebus semua dosa-dosamu ..." gumam Viollete pelan namun sangat tajam, dan pandangannya masih mengekori mereka.