The Goddess Of War

The Goddess Of War
Viollete Dilema



Tokyo Skytree, 11 Am.


Terlihat seorang pemuda tampan dengan pakaiannya yang terlihat begitu rapi sedang duduk di depan gedung Tokyo Skytree.


Pemuda itu mengenakan sebuah T-shirt press body berwarna abu-abu terang dan membalutnya dengan sebuah blazer berwarna hijau tosca. Sebuah celana jeans berwarna terang juga dipadankannya untuk menyempurnakan penampilannya kali ini


Sebenarnya penampilannya kali ini sangatlah berbeda dengan style pakaian yang biada dikenakannya di setiap harinya. Namun mungkin karena hari ini dia ingin menemui seorang gadis yang sangat berarti untuknya, dia sedikit merubah penampilannya.


Pemuda yang tak lain adalah Nickhun itu terlihat sangat berbeda dan juga semakin tampan dan mempesona dengan penampilannya yang rapi itu. Terlihat semakin dewasa dan juga elegan.



Sebuah jam tangan yang merupakan hadiah dari seseorang yang begitu berarti untuknya juga sudah melingkar dengan manis pada pergelangan tangan kirinya.


Namun tiba-tiba saja ponsel yang kebetulan sedang berada pada genggaman tangannya kini mulai berdering dan dengan cepat Nickhun mulai mengangkat itu dengan sangat bersemangat.


"Hallo, Vio ..." sapanta dengan wajah yang begitu berbinar.


"Nick, kamu dimana? Aku baru saja sampai dan turun dari Taxi." ucap Viollete dari seberang panggilan.


"Aku berada di depan gedung Tokyo Skytree kok. Aku duduk di sebuah bangku di halaman tamannya." sahut Nickhun mulai mengedarkan pandangannya ke arah jalan untuk mencari sosok Viollete.


Hingga akhirnya Nickhun mulai menemukan sosok Viollete yang sedang berjalan memasuki halaman depan Tokyo Skytree. Nickhun yang melihat Viollete mulai berdiri agar Viollete juga melihatnya.


"Vio, lihatlah ke arah jam 2. Aku disana." ucap Nickhun mulai melambalikan tangan kanannya setelah Viollete melihatnya.


Dengan langkah yang dipercepat, kini Viollete mulai melenggang mendekati Nickhun.


"Maaf aku sangat terlambat, Nick. Ini semua gara-gara Cloud yang bersikeras untuk meriasku." celutuk Viollete mulai duduk di bangku dan sedikit beristirahat.


"Hhm. Tidak masalah kok." jawab Nickhun tanpa ada rasa kesal terukir pada wajah tampan itu.


Padahal sudah hampir 1 jam Viollete terlambat untuk datang ke tempat ini. Namun bagi pemuda berdarah Thailand ini, hanya bisa bertemu kembali dengan gadis yang sudah 18 tahun dikenalinya itu sudah lebih dari cukup.


Sepasang netra Nickhun terus saja menatap Viollete tanpa ada rasa bosan. Wajahnya terlihat semakin berbinar dan dihiasi dengan senyuman yang begitu manis.


Sudah beberapa hari mereka tak bisa saling bertemu. Bahkan mereka berdua tak bisa untuk menghubungi satu sama lain. Tentu saja bisa bertemu saat ini sangatlah membuat Nickhun merasa bahagia.


Ditambah lagi melihat Viollete dengan riasannya yang sedikitt berbeda hari ini dan juga begitu manis, tentu saja membuat Nickhun semakin tak bisa terlepas untuk tidak menatap Viollete saat ini.


"Bagaimana keadaan kakekmu, Vio?" tanya Nickhun yang kini juga sudah duduk di samping Viollete.


"Sudah sedikit membaik, Nick. Namun kakek masih belum pulih sepenuhnya." jawab Viollete dengan senyum tipis. "Tapi kakek bisa memanggil namaku saat itu ..."


"Kin Rui?" tanya Nickhun mencoba menerka-nerka.


Sepasang mata kecoklatan yang begitu bening itu terlihat begitu indah dimata Nickhun. Hangat dan tak memiliki kebencian. Namun satu hal yang yang tidak dimengerti oleh Nickhun saat ini, mengapa Viollete sampai mengimpan dendam selama 18 tahun.


Bahkan Viollete sudah mempersiapkan dirinya selama 18 tahun hanya untuk sebuah dendam. Terkadang Nickhun sangat ingin mengetahui siapa sebenarnya orang yang sudah diincar oleh Viollete. Orang yang selama ini sudah membunuh mama dari Viollete ... Nickhun sangat ingin mengetahuinya.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" tanya Nickhun balik bertanya dan masih menatap lekat sahabatnya itu.


"Aku juga sangat baik kok." jawab Viollete seadanya.


"Vio. Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Nickhun dengan sangat hati-hati.


"Hhm, katakan saja padaku, Nick!" sahut Viollete dengan santai dan membuka sekaleng minuman dinginnya lalu meneguknya.


"Seberapa kamu percaya padaku?" tanya Nickhun tiba-tiba.


Mendengar pertanyaan dari Nickhun, membuat Viollete tersenyum lebar dan membuatnya terlihat begitu cantik.


"Tentu saja aku sangat mempercayaimu. Kamu dan Cloud adalah dua orang yang paling dekat denganku dan sangat aku percayai!" jawab Viollete dengan jujur.


"Uhm ... begini ... aku tau kamu datang ke Jepang adalah untuk mencari pembunuh dari mamamu. Dan kamu juga ingin melakukan balas dendam itu." ucap Nickhun dengam hati-hati. "Jika boleh tau siapa orang itu? Mungkin saja aku bisa membantumu ... dan tentu saja aku juga tak akan membiarkan kamu berada dalam bahaya seorang diri. Aku akan selalu ada bersamamu ... jadi ... jangan melakukannya seorang diri, Vio. Katakan padaku!" ucap Nickhun begitu pelan dan semakin menatap dalam Viollete


Kali ini ucapan dari Nickhun sempat membuat Viollete terdiam selama beberapa saat dan seketika membekukan senyuman indahnya.


"Nick ... soal ini aku tidak ingin kamu terlibat di dalamnya. Aku tidak mau membahayakanmu. Cukup aku saja ... bahkan aku sangat melarang Cloud untuk terlibat." ucap Viollete mulai mengkhawatirkan Nickhun.


"Vio ..." kali ini Nickhun meraih kedua jemari Viollete yang terasa sedikit dingin karena baru saja Viollete memegang kaleng minuman dingin. "Tolong katakan padaku ... aku tak akan tenang jika kamu sendirian berada dalam bahaya. Setidaknya jika aku tau targetmu, maka aku juga akan sedikit bisa membantu dan melindungimu." imbuh Nickhun meyakinkan Viollete.


"Tapi, Nick ..." ucap Viollete terlihat begitu ragu dan mulai gelisah.


"Katakan padaku. Jika kamu memang percaya padaku dan menganggap aku adalah temanmu ..." ucap Nickhun kembali dengan sabar dan pelan.


Pandangan mereka berdua bertemu cukup lama dan Viollete masih saja terlihat begitu kebingungan. Sementara Nickhun memperlihatkan raut wajah penuh harap dengan harapan Viollete akan mengatakannya kali ini.


"Orang itu ... kamu sangat mengenalinya, Nick!" ucap Viollete dengan suara bergetar.


Bahkan sepasang mata dengan pupil kecoklatan itu terlihat sudah mulai berkaca-kaca begitu saja. Entah, mengapa setiap kali Viollete mengingat Kagami Jiro, hanya ada perasaan sesak dan sakit. Selalu saja membuatnya berdebar dan membuatnya ingin menangis.


"Katakan padaku. Aku janji aku tak akan mempersulitmu. Dan aku janji aku akan baik-baik saja. Percayalah padaku, Vio ..." ucap Nickhun dengan pelan dan menatap Viollete hangat.


Viollete mulai mengalihkan pandangannya dan sedikit menghembuskan nafas kasarnya ke udara. Sebenarnya Viollete masih cukup ragu untuk melibatkan Nickhun dalam hal balas dendam ini.


Namun sepertinya tak ada pilihan lain untuk Viollete saat ini. Selain Viollete yang tentunya sangat mengkhawatirkan Nickhun, namun Viollete juga tak ingin Nickhun meninggalkannya karena sudah menganggapnya bukan teman dan tidak mempercayainya.