
Belum sempat menjawab ucapan dari Viollete, kini seorang pemuda mulai menghampiri mereka berdua. Seorang pemuda tampan dan memiliki tinggi dan tubuh yang cukup proporsional. Rambutnya berwarna hitam pekat dan sangat lurus dan lembut. Matanya berwarna coklat dan cukup tajam dan dingin.
Viollete dan pemuda itu sempat bertatapan selama beberapa saat karena merasa ada sesuatu, ataukah mungkin hanya sebatas rasa kagum.
"Terima kasih karena sudah membantu adikku!" ucap pemuda berwajah dingin itu dengan datar menatap Viollete.
"Sama-sama." sahut Viollete seadanya dan cukup datar.
"Kazuma, berhati-hatilah dan jangan berlari-lari seperti itu!" celutuk pemuda tampan itu mulai menceramahi adiknya.
"Iya, Kak Kenzou! Jangan ngomel-ngomel lagi deh!!" celutuk anak laki-laki itu sambil memegangi sikunya yang berdarah.
Viollete yang mengingat jika dirinya masih menyimpan sebuah plaster akhirnya mulai mengambilnya dari dalam tas kecilnya lalu memakaikannya pada siku anak laki-laki bernama Kazuma itu.
"Terima kasih kakak cantik!" ucap Kazuma dengan polosnya menatap Viollete dengan senyum lebar.
"Sama-sama." Viollete menyauti dengan ramah dan tersenyum menatap anak laki-laki itu.
"Ayo kembali! Mereka semua sudah menunggu kita. Bahkan bibi Christal sudah kebingungan karena kau menghilang begitu saja!" pemuda dingin itu mulai menarik lengan adik laki-lakinya dan segera meninggalkan Viollete.
"Kak Vio! Naik itu yuk!" kini Cloud yang sedari tadi masih duduk sambil menikmati es krimnya mulai menunjuk sebuah wahana yang terlihat seperti sebuah kereta yang panjang, namun memiliki jalan lintasan di udara, dan itu adalah roller coaster.
"Boleh! Sepertinya seru!" sahut Viollete yang juga menatap wahan yang memiliki jalur lintasan begitu besar itu.
Viollete dan Cloud mulai mengantri untuk membeli tiket. Antrian cukup panjang. Dan sebenarnya itu cukup membuat Viollete dan Cloud merasa bosan. Hingga akhirnya Cloud memutuskan untuk membeli beberapa cemilan, sedangkan Viollete mengantri seorang diri.
Namun tiba-tiba sebuah rombongan pria dan gadis dengan pakaian yang begitu modis mulai memotong antrian demi antrian dengan begitu angkuhnya. Hingga kali ini mereka berusaha untuk memotong antrian Viollete dan Cloud dengan tingkahnya yang begitu sombong dan menyebalkan.
"Kalian cepat minggir!!" seorang gadis dengan penampilannya yang begitu modis dan trendi mulai mendekati Viollete.
"Jika mau membeli tiket tolong antri dengan benar!" ucap Viollete menandaskan.
"Apa kau bilang?! Apa kau tidak tau siapa aku hingga kau berani berkata seperti ini padaku?" celutuk gadia itu membelalakkan matanya menatap Viollete.
Saking melototnya malah terlihat seakan kedua bola matanya mau melompat keluar dari tempatnya.
"Maaf, tapi aku tidak mengenalmu. Dan setauku jika mau mendapatkan tiket, maka kamu harus mengantri sama seperti yang lainnya juga." jawab Viollete dengan entengnya.
"Dasar gadis bodoh ini! Vincent kau beri pelajaran padanya, Sayang!" ucap gadis itu mulai memerintah seorang pria, yang mungkin adalah kekasihnya.
Kini seorang pemuda dengan gaya rambut yang sedikit gondrong mulai menghadang jalan Viollete dengan gaya angkuhnya. Sementara Viollete masih terlihat begitu santai saja.
"Kau minggirlah! Kekasihku yang cantik sedang terburu-buru saat ini. Jadi kamu harus mengalah kepadanya, Nona manis." ucap pemuda itu masih dengan ramah.
"Aku tidak mau! Bukan hanya kekasihmu yang sedang terburu-buru! Mengantrilah dengan benar dan seperti yang lainnya." sahut Viollete cuek.
"Dasar gadis jaalang ini!! Aku sudah mengingatkanmu dengan cara halus, namun nampaknya kau harus diberi pelajaran agar tau diri ya." geram pemuda itu mulai meraih dagu Viollete dan mendongakkan padanya.
Sementara sang gadis mulai tertawa mengejek dan begitu meremehkan Viollete.
"Jangan menyentuhku sembarangan!!" geram Viollete sembari melayangkan bogemnya dan mengenai dagu pemuda itu.
Pemuda itu sedikit terhentak ke belakang dan melepaskan Viollete.
"Gadis sialan ini!! Beraninya melakukan hal itu kepadaku. Jangan mengira karena kamu seorang gadis maka aku akan mengampunimu!!" pemuda itu melajangkan tinju lurus tanpa ada rasa ragu sedikitpun.
Viollete dengan cepat segera menunduk dan dan mulai melayangkan tinjunya dengan serangan dari bawah ke atas, dan kali ini mengenai ulu hati pemuda itu. Pemuda itu terhentak ke belakang dan memegangi bagian yang baru saja terkena tendangan dari Viollete. Bahkan pemuda itu kuga terbatuk-batuk karena tinju dari Viollete.
Sang gadis mulai menghampiri pemuda itu dan terlihat begitu kesal saat menatap Viollete. Kini seorang pemuda lainnya mulai melenggang dan mendekati Viollete. Pemuda itu menyeringai menatap Viollete dan mulai menarik rambut Viollete begitu saja.
"Beraninya kamu melawan kami!!" pemuda itu kini semakin menjambak rambut Viollete dendan kuat.
Viollete mulai mengayunkan tangannya dan mulai menyerang wajah pemuda itu dengan menggunakan siku kanannya hingga membuat hidung pemuda itu mengeluarkan darah segar.
BUAGGHH ...
"Gadis sialan!!"
Belum sempat pemuda itu mendekati Viollete, Viollete segera melakukan tendangan putar dan mengenai sisi samping wajah kiri pria itu. Pemuda itu ambruk di atas lantai dan Viollete mulai melenggang mendekatknya dan menginjak dada pemuda itu.
Senyuman miring dan begitu merehkan mulai terukir pada wajah ayu Viollete.
"Lain kali jangan meremehkan seseorang hanya karena dia seorang gadis!" ucap Viollete dengan tegas.
Namun tiba-tiba dari arah belakang seorang gadis yang merupakan salah satu dari mereka mulai berniat untuk menyerang Viollete dengan mengayunkan sebuah kayu.
"Mampus kau jaalang sialan!!! Hiatthh ..." teriaknya sambil mengayunkan tongkat itu
GREEPP ...
Seorang pria tiba-tiba datang dan menangkap serangan itu, sehingga serangan itu berhasil digagaglkan.
"Apa kalian sadar apa yang sudah kalian lakukan? Jika kalian membuat kericuhan disini aku tak akan segan-segan meminta keamanan untuk menyeret kalian keluar dari tempat ini!! Jika tidak mau antri, maka buat saja taman bermain sendiri!!" tandas seorang pria yang sudah menyelamatkan Viollete.
Karena merasa bersalah dan ketakutan sendiri akhirnya rombongan anak muda itu mulai meninggalkan tempat itu. Para pengunjung yang sedari tadi hanya diam menonton dan tak berusaha untuk membantu Viollete kini kembali mengantri.
"Apa kau baik-baik saja?" pemuda yang kira-kira berusia 20 tahun itu menatap Viollete yang terlihat begitu berantakan.
Karena rambut Viollete sempat ditarik dan dijambak oleh pemuda menyebalkan itu dan membuatnya terlihat berantakan.
"Aku baik-baik saja. Makasih! sahut Viollete begitu cuek dan mulai mendongak menatap pemuda yang baru saja menolongnya.
Namun kali ini Viollete mulai mengerutkan keningnya saat menatap pemuda yang memiliki paras dan postur tubuh seperti pemuda bernama Kenzou yang baru saja ditemuinya beberapa saat lalu. Hanya saja penampilan dan pakaian yang dipakainya sangat berbeda.
Jika Kenzou yang dijumpainya beberapa saat lalu mengenakan sebuah kemeja kebiruan dan memakai coat berwarna hitam. Namun pemuda yang sedang berdiri di hadapannya saat ini sedang mengenakan sebuah setelan jas dengan kemeja di dalamnya putih, jaz berwarna abu-abu gelap. Lalu memakai sebuah coat berwarna caramel.
Mengapa bisa berganti pakaian secepat ini??
Batin Viollete sangat kebingungan.