
Setelah beberapa saat akhirnya kereta api itu mulai keluar dari terowongan yang cukup panjang dan sangat gelap itu. Hingga akhirnya Viollete mulai melanjutkan aksinya kembali untuk memasuki kereta api itu melewati salah satu jendela yang terbuka sedikit.
Kedua tangan Viollete mulai berpegangan pada sebuah besi dan perlahan Viollete mulai menurunkan badannya hingga bergelantungan di sisi samping dari kereta api itu.
Kedua kakinya yang sudah menempel pada sisi luar dari kereta api itu mulai digunakannya untuk membuka lebih lebar lagi jendela itu untuk digunakannya sebagai jalan masuk tubuhnya memasuki kereta api itu.
Setelah kaca jendela itu terbuka semakin lebar, kini Viollete mulai memasukinya dengan kedua kakinya terlebih dahulu lalu diikuti oleh tubuhnya yang lain. Tidak terlalu sulit, bahkan Viollete bisa melakukannya dengan baik dan sempurna. Begitu gesit dan lincah.
"Hupp ..." Viollete mulai menghempaskan tubuhnya ke dalam kereta api dengan posisi seperti orang yang sedang melakukan kayang, dan berakhir dengan pendaratan yang sempurna, dengan sedikit membungkukkan badannya dengan kedua tangannya yang sudah memasang kuda-kuda.
Sepi dan hening ... tak ada satu orangpun di dalam gerbong ini. Sepertinya para penculik itu memang sengaja menyabotase kereta ini, atau mungkin sudah memindahkan para penumpang ke gerbong lainnya laigi. Entahlah, Viollete belum mengetahuinya dengan pasti. Namun jika melihat kondisi, seharusnya memang masih ada penumpang lain.
Kini Viollete mulai melenggang ke depan dan berniat untuk menyisiri dan mencapai gerbong demi gerbong dengan harapan segera menemukan Perdana Menteri Hiroyuki yang menurut Viollete adalah 99,99% masih berada di dalam kereta api ini bersama dengan para penculik itu.
CEKLEKK ...
Sebuah pintu yang menghubungkan ke gerbong depannya lagi mulai dibuka oleh Viollete masih dengan begitu hati-hati. Lagi-lagi gerbong ini juga kosong dan tak ada seorangpun penumpang di dalamnya.
"Dimana mereka semua? Mengapa hampir semua gerbong yang aku lalui kosong dan tidak ada orang?" gumam Viollete yang masih berjalan dengan mengendap-endap dan mengawasi sekelilingnya dengan waspada. Namun tetal saja Viollete tak menemukan apapun.
Tak menyerah sampai disini saja, kini Viollete masih terus berpindah dari gerbong satu ke gerbong yang lainnya, hingga akhirnya Viollete mulai menemukan dan mengintip dari sebuah pintu yang memiliki desain pada bagian atasnya bening dan tranparan, sehingga bisa melihat ruangan seberang.
Pada gerbong di depannya, terlihat para penumpang di dalamnya dan cukup ramai dan sesak. Sementara terlihat 2 orang pria penjaga yang mengenakan pakaian serba hitam dengan mengenakan masker dan membawa senjata laras panjang.
Kedua pria penjaga itu berada di dekat pintu bagian depan, yang menghubungkan ke gerbong berikutnya lagi. Sementara para penumpang bergerombol dan berdesak-desakan.
Mereka semua terlihat begitu ketakutan dan tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ada sebagian dari para penumpang wanita menangis saking takutnya.
Sedangkan Viollete masih berdiri dan bersembunyi di balik pintu antara gerbongnya dan gerbong para penumpang itu. Dan sepertinya Viollete sedang memikirkan sebuah rencana saat ini. Raut wajahnya terlihat begitu serius dan tetal selalu waspada dengan sekitarnya.
Bagaimana caranya agar aku bisa mencapai dan memasuki gerbong itu dengan aman? Aku harus memikirkan sesuatu!
Batin Viollete mulai memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya setelah beberapa saat Viollete mulai tersenyum tipis dan mulai menemukan sebuah ide untuk memancing kedua pria penjaga itu.
Dengan sengaja Viollete mulai menabrakkan dirinya pada pintu itu dengan cukup keras agar kedua pria penjaga itu melihat Viollete yang berada di gerbong belakang.
Setelah sukses menarik perhatian dari kedua pria penjaga itu dan membuat kedua pria penjaga itu mulai melenggang untuk mendatangi gerbong dimana Viollete berada, Viollete mulai berakting ketakutan dan berusaha untuk meloloskan diri dari gerbong itu.
Namun dengan cepat kedua pria penjaga itu kini semakin mendekati Viollete. Dan sebenarnya kedua pria penjaga itu sedikit merasa ada yang aneh mengapa bisa melewatkan seorang penumpang gadis.
Batin salah satu pria penjaga itu yang sudah berhasil mencengkeram tangan kanan Viollete. Sementara sang pria penjaga satunya sudah mencengkeram tangan kiri Viollete.
Voollete tak melakukan perlawanan sama sekali, hingga akhirnya kedua pria penjaga itu mulai berniat untuk membawa Viollete ke gerbong dimana para penumpang dikumpulkan dan disandera.
Namun, tepat saat mereka bertiga mau melewati pintu dan penghubung antara gerbong, Viollete yang berada di antara cengkeraman mereka berdua mulai beraksi dengan cepat dan gesit.
Viollete mulai mengangkat tangan kanannya yang masih di cengkeram oleh pria penjaga itu. Siku kanannya mulai diayunkan ke udara dan dihantamkannya denga cukup keras mengenai wajah dari pria penjaga itu.
Setelah cengkeraman pria penjaga itu sedikit longgar, Viollete mulai menendang kuat tubuh pria penjaga itu dengan kaki kanannya, hingga pria penjaga itu terhempas begitu saja dan jatuh dari atas kereta api.
WUUSHH ...
BBRRAKK ...
Belum sempat membereskan pria penjaga satunya lagi, kini pria itu sudah lebih dulu menyerang Viollete.
"Gadis kecil sialan ini!! Berani sekali kau melakukan hal itu kepada rekan kerjaku hingga membuatnya entah masih hidup atau sudah mati!! Siapa kamu sebenarnya, ******* kecil?!" ucap pria penjaga itu dengan suaranya yang begitu menggelegar.
Pria penjaga itu dengan cepat segera mendorong tubuh Viollete hingga menabrak sebuah dinding kereta api. Tak hanya itu, pria penjaga itu juga berusaha untuk mencekik leher Viollete.
Viollete masih berusaha untuk segera melepaskan dirinya dari cekikan itu, dan mulai mengangkat lutut kanannya ke udara hingga berhasil menghantam perut pria penjaga itu.
BUAKK ...
Setelah cekikan dari sang pria penjaga itu menjadi semakin longgar, kini Viollete mulai menyerang kembali dengan menarik kerah pakaian sang pria penjaga dan menghantamkannya di dinding yang berlawanan arah.
Namun pria penjaga itu malah menghantamkan kepalanya pada kening Viollete dan membuat kening Viollete sedikit berdarah.
BUAGGHH ...
Disaat Viollete mulai sedikit kehilangan kekuatannya saat menyerang, kini pria itu mulai meraih kerah baju Viollete dan menghantamkannya pada dinding lainnya lagi.
Mereka berdua saling berusaha untuk menyerang satu sama lain, hingga akhirnya tubuh pria itu berhasil membuat Viollete terbaring tepat di atas sambungan antara gerbong satu dengan gerbong lainnya.
Sungguh keadaan saat ini tentunya akan cukup menguji adrenalin siapapun yang melihatnya, terutama yang sedang mengalaminya. Para penumpang yang melihat dari gerbong depan menatap Viollete begitu tegang dan sangat khawatir. Namun mereka semuanya tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Viollete.
"Gadis yang malang ..." begitulah salah satu ucapan dari penumpang kereta api itu yang sangat berputus asa karena mengira Viollete akan segera berakhir dengan tragis.