
Cloud hanya tersenyum tipis menatap Viollete dengan penuh damai. Dan perlahan sepasang mata Cloud mulai menyipit, hingga akhirnya mulai terpejam begitu saja.
"Cloud ... tidak ... jangan seperti ini ..." Viollete menggeleng pelan dalam isak tangisnya dan mengusap lembut sisi samping wajah sang adik. "Tidak ... jangan pergi adikku ... hiks ..."
"Vio, Cloud baik-baik saja kok. Obat bius yang aku gunakan sepertinya membuatnya mengantuk dan tertidur. Kamu tenang saja. Adikmu akan baik-baik saja." ucap Roy yang membuat Viollete merasa sedikit lega.
"Syukurlah jika Cloud baik-baik saja. Terima kasih, Senior Roy." ucap Viollete dengan tulus dan perasaannya menjadi sedikit lega saat ini.
"Sama-sama, Vio." sahut Roy yang juga merasa cukup lega karena merasa bisa berguna untuk seseorang yang sangat berarti untuk Viollete saat ini, meskipun Roy belum pernah mengenal Cloud sebelumnya.
Namun rasanya ada rasa bahagia karena bisa menolong Cloud. Bahkan Roy juga tak sadar mulai sering menatap Viollete dengan wajahnya yang selalu terukir dengan sebuah senyuman. Perasaan kagum terhadap Viollete kini semakin dirasakan oleh Roy.
Terlebih rupanya Viollete adalah sosok putri yang sudah selalu dicari oleh Kagami Jiro. Dan merupakan putri sulung dari seorang petinggi dari Doragonshadou.
Setelah beberapa saat akhirnya team penyelamat datang dan mulai membantu mereka hingga mengantarkannya menuju ke markas khusus Doragonshadou. Bahkan Cloud juga masih mendapatkan perawatan intensif di markas besar itu dengan dokter khusus.
...⚜⚜⚜...
Beberapa saat yang lalu ...
Di dalam rimbunnya Hutan Wild Kaazaane , tiba-tiba saja telah terjatuh sorang pria paruh baya dan menabrak beberapa ranting pepohonan hingga akhirnya masuk ke dalam sebuah rawa dengan airnya yang berwarna kehijauan, berlumut dan sedikit amis.
BRAKK ...
BRUGH ...
KRASAKK ...
BYURR ...
"Argghhh ..."
Suara teriakan menahan rasa sakit dan suara gemericik air yang cukup besar terjadi ketika tubuh pria paruh baya itu memasuk rawa di dalam hutan Wild Kaazaane.
Pria itu terlihat berusaha untuk segera berenang dengan mengarahkan seluruh tenaganya yang tersisa agar bisa segera mencapa daratan.
Karena bau amis yang terendus oleh indra penciumannya yang tentunya sudah sangat dia pahami jika saat ini rawa ini sedang tidak aman untuk dirinya, membuatnya untuk segera berusaha agar segera keluar dari rawa itu.
"Sial!! Aku harus segera keluar dari perairan ini!" gumam pria yang sudah dipenuhi dengan cukup banyak luka itu.
Dan dia adalah Kin Izumi yang baru saja terjatuh dari capung besinya sendiri. Namun belum sempat Kin Izumi mencapai daratan, tiba-tiba saja ada sesuatu yang melukai kakinya hingga berdarah lalu segera menariknya untuk semakin ke tengah danah dan kembali menyelam.
Sial!! Aku terlambat!! Aku sudah kehabisan cukup banyak tenaga! Bagaimana aku bisa mengalahkan buaya ini?! Arghh ...
Cih ... sebenarnya mengalahkan hewan ini sangatlah mudah! Buaya memiliki lipatan jaringan di belakang lidah yang menutupi tenggorokannya ketika buaya tenggelam dalam air. Aku hanya perlu membuat buaya ini membuka tenggorokannya!
Batin Kin Izumi mulai menggunakan kaki kirinya yang masih tersangkut di dalam mulut buaya itu untuk bisa mencungkil bagian katup itu. Hingga akhirnya air mulai mengalir ke tenggorokan buaya,.
Bravo!! Buaya itu kini mulai melepaskan Kin Izumi begitu saja. Dan Kin Izumi segera memanfaatkan kesempatan ini untuk segera berenang kembali untuk mencapai ke permukaan rawa berwarna kehijauan itu.
Namun rupanya setelah beberapa saat buaya itu sudah terlihat kembali ke permukaan air dan mulai mendekati Kin Izumi lagi. Bahkan kali ini juga ada seekor buaya dari sisi lainnya lagi.
Dengan gesitnya kedua buaya itu mendekati Kin Izumi. Kin Izumi masih berusaha untuk memukul salah satu mata dari buaya itu dengan sebuah kayu. Namun buaya lainya segera mengerang dan menggigit bagian bahu dan leher Kin Izumi.
"Argghh ..." erang Kin Izumi berusaha untuk menusuk-menusuk salah satu mata buaya yang sedang menyerangnya dengan kayu itu hingga berdarah.
Namun buaya lainnya kini mulai menggigit dan menarik bagian perut Kin Izumi dan menyebabkan luka yang cukup dalam hingga robek. Kedua buaya itu mulai membawa tubuh Kin Izumi memasuki perairan itu kembali dan terlhat genangan darah di antara air rawa itu.
...⚜⚜⚜...
Seorang pria mulai memasuki sebuah ruangan kerja Kagami Jiro untuk melaporkan sesuatu. Dan kebetulan di ruangan itu masih ada Viollete yang memang sedang menunggu sebuah kabar dari anak buah Kagami Jiro.
"Tuan Kagami Jiro. Kami sudah memeriksa hutan Wild Kaazaane dan berusaha untuk mencari Kin Izumi, namun kamu tidak menemukannya. Kami hanya menemukan sobekan dari pakaiannya pada beberapa pohon dan ranting. Dan kami juga menemukan sebuah jam tangan yang terjatuh di dekat rawa di dalam hutan Wild Kaazaane. Dan kami juga menemukan sobekan pakaiannya yang terkena darah di atas permukaan perairan rawa itu." ucap pria itu melaporkan sambil memberikan sebuah jam tangan mewah berwarna keemasan yang sudah dimasukkan di dalam sebuah kantong plastik berwarna bening.
Kagami Jiro mulai menerima jam tangan itu dan menimang-nimangnya. Viollete yang melihat jam tangan itu segera mendekati Kagami Jiro dan masih merasa begitu risau karena mengkhawatirkan Kin Izumi.
"Itu adalah jam tangan pria itu! Dan jam tangan itu adalah pemberian dari mama." ucap Viollete terdengar begitu lirih dan memilukan.
Kagami Jiro melirik Viollete dengan kening berkerut. Tatapannya terlihat begitu nanar dan seakan masih ada yang sedang dipikirkan oleh Kagami Jiro saat ini
"Jadi apakah itu artinya Kin Izumi ... sudah tiada?" ucap Kagami Jiro menatap pria di hadapannya itu lagi.
"Kemungkinan besar seperti itu, Tuan. Di dalam rawa itu masih begitu banyak buaya di dalamnya. Selain itu beberapa hewan buas lainnya juga masih ada di dalam hutan Wild Kaazaane. Sangat kecil kemungkinan tuan Kin Izumi untuk bisa meloloskan diri kali ini. Karena yang sedang dia hadapi saat ini adalah alam rimba. Apalagi kondisi tubuh dan kesehatan tuan Kin Izumi sudah tidak memungkinkan untuk bertarung setelah dia terjatuh dari helikopternya sendiri." jelas anak buah Kagami Jiro itu lagi.
BBRUUGGHH ...
Tubuh Viollete terjatuh dan terduduk di atas lantai begitu saja. Rasanya seluruh kekuatannya tiba-tiba saja menghilang dan tubuhnya menjadi tak bertenaga.
Kenangan-kenangan bersama sang papa di masa lalu kembali terlintas dengan cukup nyata pada angannya saat ini. Seburuk apapun Kin Izumi, tetapi dialah yang sudah merawat Viollete selama ini.
Ada rasa sesak di dalam hatinya saat mendengar semua kejadian naas yang menimpa sang papa. Andai saja masih ada sebuah kesempatan untuk memperbaiki semuanya, andai saja Kin Izumi mau menerima semua konsekuensi dan bertanggung jawab atas semua perpbuatannya ... serta Kin Izumi bisa berubah, maka tak menutup kemungkinan untuk Viollete bisa memaafkannya.
"Papa ..." ucapnya begitu lirih dan sangat memilukan.