
Pintu elevator mulai terbuka saat di lantai 8. Dan seseorang melihat kejadian itu. Pemuda itu mulai salah tingkah sendiri saat melihat pemandangan Kenzou yang sedang bermesraan ( menurut pemikiran pemuda itu) bersama dengan Viollete di dalam elevator.
"Oh, maafkan aku. Aku akan menggunakan elevator lainnya saja, Tuan muda Kenzou." ucap pemuda itu merasa begitu kikuk dan tidak enak hingga akhirnya pintu elevator mulai tertutup kembali.
"Ckk ..." Kezou sedikit mendengus karena kesal dan mulai mundur kembali dan berdiri dengan tegap menghadap ke arah pintu elevator. "Jangan sampai aku melihatmu salah menggunakan elevator lagi!" imbuh Kenzou menandaskan kembali dengan tegas.
"Baiklah ..." sahut Viollete seadanya dan mulai berdiri menghadap ke arah pintu elevator itu lagi.
Tak ada percakapan lagi diantara mereka berdua. Hanya terdengar suara mesin elevator yang sedang mengalami pergerakan. Setelah beberapa saat, akhirnya pintu elevator itu kini mulai terbuka kembali dan kali ini angka di samping pintu elevator sudah menunjukkan angka 13 berwarna merah.
Setelah pintu elevator terbuka dengan sempurna, kini Kenzou mulai melenggang untuk segera meninggalkan elevator itu. Begitu juga dengan Viollete yang juga mulai melenggang untuk meninggalkan elevator itu. Kenzou masih melenggang tak jauh di depan Viollete.
Huft ... pemuda ini lebih muda dariku, namun sifatnya begitu dingin dan sok sekali! Mengapa dia tidak bisa sedikit saja berusaha untuk menghargai seseorang yang lebih tua dari dirinya? Memang kekayaan yang banyak dan melimpah sudah membuat orang menjadi buta dan merasa terbang di atas awan!! Cih ...
Sungut Viollete merasa begitu kesal yang masih memandangi punggung lebar Kenzou dari sisi belakangnya.
"Lupakan dia, Vio! Sekarang lebih baik pikirkan saja bagaimana caranya kamu meyakinkan tuan Wilson agar dia mau menerima alasanmu dan tetap bersedia untuk menerimu bergabung bersama Doragonshadou!" gumam Viollete berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.
Kini Viollete mulai menghentikan langkah kakinya dan sudah berdiri di depan sebuah ruangan. Viollete mulai mengambil nafas panjang lalu mulai mengeluarkannya dengan perlahan. Setelah itu Viollete mulai mengetuk pintu ruangan itu dengan ritme yang teratur namun sedikit tegas.
Tok ... tok ... tok ... tok ...
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya mulai terdengar jawaban dari dalam ruangan.
"Come ini please ..." titah sang pemilik ruangan dari dalam yang terdengar begitu jernih.
Kini Viollete mulai meraih gagang pintu itu dan mendorongnya, lalu Viollete mulai memasuki ruangan itu. Dan ternyata saat ini Wilson sudah berada sendirian di dalam ruangannya. Karena beberapa saat yang lalu, Wilson sedang menemui seorang klien di dalam ruangannya.
"Selamat pagi, Tuan Wilson!" sapa Viollete dengan nada bicara yang tegas namun masih begitu rendah.
Wilson yang sejak tadi masih fokus menatap layar laptop di hadapannya, kini mulai beralih menatap Viollete yang baru saja memasuki ruangannya.
Mendengar ucapan dari Wilson sebenarnya membuat Viollete merasa cukup lega, karena itu berarti Viollete masih memiliki sebuah kesempatan untuk bisa bergabung bersama Doragonshadou.
"Baiklah. Terima kasih, Tuan Wilson. Hari ini saat di dalam busway aku melihat ada seorang pemuda yang melakukan sebuah tindak kriminal terhadap seorang gadis. Pemuda itu mengambil beberapa potret kamera candid dari seorang gadis, beberapa foto yang tidak bermoral. Dan aku mengejar pemuda itu agar dia menghapus semua foto itu. Pada akhirnya aku malah terlambat untuk datang ke markas besar Doragonshadou. Maafkan aku, Tuan Wilson. Tapi aku tak bisa membiarkan semua itu terjadi dan aku tidak bisa berdiam diri saja saat itu."
"Hhm. Okay, waktumu sudah habis!" ucap Wilson menandaskan. "Biar aku tegaskan sekali lagi padamu, Viollete! Di hari pertamamu yang seharusnya kamu pergunakan untuk memperlihatkan perilaku, kinerja dan kedisiplinanmu yang baik terhadap atasanmu, namun kamu malah terlambat seperti ini dan kamu terlihat terlalu mempermudah semuanya. Doragonshadou sangat besar dan tidak sembarangan saat merekrut orang. Jika kamu tidak bisa menghargai waktu lalu bagaimana kamu bisa bekerja dengan kredibilitas yang baik kelak?" ucap Wilson yang terlihat begitu kecewa kepada Viollete karena dinilai terlalu mempermudah semuanya.
Viollete hanya terdiam saja mendengarkan Wilson yang sedang menceramahinya sekaligus seakan sudah menolaknya. Dan seakan Viollete sudah kehilangan kesempatan terakhirnya untuk bergabung bersama dengan Dorangonshadou.
Harapannya pupus seketika, dan entah apa yang akan dilakukan oleh Buck Karimova saat sudah mengetahui semua ini? Dan mungkin saja Viollete akan menerima hukuman yang sangat berat karena sudah menghilangkan sebuah kesempatan ini.
Padahal 18 tahun sudah dipersiapkan oleh Buck Karimova hanya untuk memasukkan Viollete ke dalam Doragonshadou untuk sebuah balas dendam. Namun kini Viollete sudah gagal unyuk menyelinap dan bergabung bersama dengan Doragonshadou.
"Perlu kamu ketahui, Viollete. Di dalam bekerja di dalam team dari Doragonshadou, bukan hanya kekuatan maupun keahlian dalam ilmu bela diri saja yang kita butuhkan. Namun kita juga membutuhkan kredibilitas. Sedangkan kredibilitas akan sulit untuk dibangun oleh orang-orang yang tidak bisa mengatur waktu mereka dengan baik. Logikanya, bagaimana kita bisa menepati janji dengan orang lain, jika diri kita tidak bisa mengatur waktu dengan baik? Pengaturan waktu yang buruk akan menimbulkan rasa tidak percaya pada rekan-rekan kerja, bos dan klien terhadap kinerja kita. Oleh karena itu, untuk membangun kredibilitas yang baik kita perlu memiliki manajemen waktu yang baik dan teratur. Selesaikan tugas-tugas kerja dengan tepat waktu, selalu menepati janji, meningkatkan produktivitas, dan lain sebagainya." jelas Wilson kembali dan masih menatap lekat Viollete.
Tak bisa berkata-kata lagi. Viollete terlihat sudah begitu berputus asa seakan tak memiliki sebuah semangat dan harapan lagi. 18 tahun kini menjadi begitu sia-sia begitu saja hanya karena sebuah kecerobohan Viollete yang tidak bisa datang sesuai dengam waktu yang telah diputuskan eh Wilson dan saat itu Viollete malah sibuk untuk mengejar seorang pria mesum itu hanya untuk menghalus beberapa foto itu.
Bagaimana ini? Aku sudah gagal begitu saja? Bodohnya aku!! Papa pasti akan sangat kecewa dan marah padaku.
Batin Viollete mulai memejamkan matanya dan mulai terbayang oleh sosok Buck Karimova.
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi, Tuan Wilson." ucap Viollete yang terdengar begitu tidak bersemangat lalu mulai berbalik dan mulai untuk melenggang.
Langkah kakinya terasa begitu berat untuk meninggalkan ruangan ini, seperti memiliki bebat beribu-ribu ton saja.
Wilson menautkan kedua jemarinya dan masih menatap kepergian Viollete. Namun tiba-tiba saja pintu ruangan ini terbuka, seorang gadis mulai terlihat berlari memasuki ruangan ini.
"Tunggu! Jangan pergi, Kak Vio!" ucap gadis itu menahan Viollete.