The Goddess Of War

The Goddess Of War
A Truth Like A Dream



Nickhun masih terlihat duduk di kursi samping Viollete yang masih belum sadarkan diri. Pemuda itu terlihat tak pernah bosan menatap wajah Viollete yang sudah satu bulan ini tak bertemu dengannya.


Hingga akhirnya setelah beberapa saat Viollete mulai berusaha untuk membuka sepasang matanya meskipun masih terasa sedikit berat olenya. Jemarinya memijit pelan keningnya yang masih dirasakan sedikit pusing. Viollete mulai memperhatikan tempat yang menurutnya sangat asing ini dan membuatnya sedikit terkejut dan kembali waspada.


Dimana ini? Dan apa yang sudah terjadi? Sial gara-gara para preman itu aku kembali tak sadarkan diri!! Lain kali aku harus lebih baik dan berhati-hati menghadapi hal semacam ini!!


Batin Viollete yang masih belum menyadari keberadaan Nickhun dan malah asyik sendiri memperhatikan sisi ruangan lainnya.


"Vio, kamu sudah sadar?" suara itu terdengar begitu familiar di indra pendengaran Viollete dan membuat gadis itu mulai beralih menatap sisi lainnya untuk melihat sang pemilik suara.


Seakan masih tak percaya dengan apa yang Viollete lihat saat ini, berulang kali Viollete menfokuskan penglihatannya dan sesekali mengkucek matanya pelan untuk memastikan jika ini memang bukan mimpi.


Tetap sama! Sepasang netra bening namun masih berpenglihatan sedikit buram itu masih menangkap sosok seorang pemuda yang selama ini menjadi sahabatnya sejak kecil, Nikhun.


"Ah ... mimpi ini rupanya masih berkepanjangan saja. Apa karena aku yang terlalu merindukannya? Hhmm ..." Viollete tersenyum tipis dan mulai menarik selimutnya lagi dan memejamkan matanya kembali.


Mendengar ucapan dan melihat tingkah lucu Viollete membuat Nickhun tersenyum lebar dan menahan tawanya agar tidak pecah.


"Padahal naik pesawat itu menyenangkan lo, Nick! Andai kamu bisa datang bersama ke Jepang juga, pasti aku akan merasa lebih baik." gumam Viollete masih dengan mata yang terpejam.


Nickhun mulai mendekati Viollete dan mengatakan sesuatu di dekat daun telinga Viollete.


"Vio, kamu tidak sedang bermimpi. Aku memang sudah berada di Jepang. Dan ini adalah benat-benar aku ..." ucap Nickhun setengah berbisik.


"Tidak-tidak ... kamu berbohong padaku, Nick. Kamu masih di desa Wang Nam Khiao. Karena Nickhun takut baik pesawat."


"Ya sudah kalau kamu tidak percaya kepadaku, lebih baik aku pergi saja cari makanan ..." sahut Nickhun lalu bangkit dan memang mau mencari sesuatu di dapur.


"Jangan ... aku mohon jangan pergi lagi, Nick!" dengan cepat Viollete menarik tangan Nickhun dan membuat Nickhun tertahan.


"Vio ..." Nickhun mulai duduk di pinggiran pembaringan di sebelah Viollete yang juga sudah terduduk. "Mulai saat ini, aku akan selalu ada bersamamu dan aku tak akan pernah meninggalkanmu. Kemanapun kamu melangkah, aku akan selalu ada bersamamu." imbuh Nickhun menatap lekat Viollete dengan begitu dalam.


"Jadi ... ini memang bukan mimpi? Ini benar-benar kamu, Nick?" ucap Viollete menatap lekat Nickhun dan mengusap pelan sisi kiri wajah Nickhun.


Nickhun tersenyum dan mulai mengangguk pelan, "Iya, ini adalah aku. Meskipun desa Wang Nam Khiao adalah tempat paling nyaman untukku, namun jika kamu tak ada disana semua terasa sangat berbeda. Apalagi ibuku juga sudah tiada ... jadi aku memutuskan untuk menyusulmu, Vio."


Rasanya begitu terharu dan bahagia luar biasa karena bisa bertemu dengan Nickhun kembali, hingga membuat Viollete langsung memeluk pemuda berdarah Thailand itu saking bahagianya.


Nickhun mulai membalas pelukan Viollete dan mengusap lembut kepala Viollete. Senyumnya menghiasi wajah tampan itu, dan terlihat begitu bahagia karena telah bertemu dengan Viollete kembali.


"Hhm. Ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan kok. Lain kali bagaimana jika kita naik bersama?" sahut Nickhun penuh harapan.


"Hhm. Tentu saja lain kali kita harus naik bersama." sahut Viollete memejamkan sepasang matanya dan tersenyum lebar dan masih berada dalam pelukan Nickhun.


"Oh iya, Vio. Aku sudah membuatkan teh hangat manis untukmu. Minumlah dulu ..." Nickhun mulai melepaskan pelukannya dan mengambil secangkir teh manis yang masih hangat di atas nakas lalu memberikannya untuk Viollete.


"Terima kasih, Nick." Viollete mulai menerima teh manis hangat itu lalu mulai meminumnya beberapa teguk.


"Habiskan, Vio. Teh manis sangat baik untuk meningkatkan gula darah dan mengembalikan energi yang diperlukan untuk tubuhmu saat ini." ucap Nickhundengan hangat.


Tanpa menjawab Viollete mulai meneguknya lagi dan menghabiskan teh manis hangat buatan Nickhun itu. Nickhun segera meletakkan kembali cangkir yang sudah kosong itu di atas nakas.


"Kapan kamu sampai di Tokyo, Nick? Dan mengapa kamu tidak memberitahuku jika kamu akan datang ke Tokyo?" tanya Viollete sangat ingin tau dan masih menatap lekat sahabatnya itu.


"Tiga hari yang lalu, Vio. Aku ingin memberikan kejutan untukmu. Makanya aku tidak mengatakannya kepadamu. Maaf ya ..." ucap Nickhun meringis menatap Viollete.


"Jahat ..." sungut Viollete sambil mengerucutkan bibirnya dan meninju pelan lengan Nickhun.


Nickhun tertawa lepas melihat Viollete yang menurutnya begitu menggemaskan, sedangkan Viollete masih saja terlihat cemberut menatap pemuda itu.


"Oh iya, Vio. Kalau boleh tau apa yang sedang kamu lakukan di tempat karaoke itu? Kau terlihat sedang mencari sesuatu? Benar begitu?" tanya Nickhun sangat ingin tau.


Karena selama ini Viollete tak pernah mengenal tempat seperti itu, apalagi memasukinya. Viollete sama sekali belum pernah pergi ke tempat seperti itu dan dunia malam lainnya.


"Aku sedang mencari sesuatu, Nick. Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan tugas dari under bos Doragonshadou di pelabuhan Pier 10. Dan lokasi utama adalah tempat karaoke yang tadi aku datangi. Kami satu team ditugaskan untuk menangkap seorang bandar obat-obatan terlarang dan sekaligus dia adalah seorang buronan dan produsen utama dari obat-obatan itu. Namun aku menjatuhkan sesuatu ... sesuatu yang sangat berharga ..." ucap Viollete berusaha untuk menjelaskan, namun tiba-tiba Viollete terlihat begitu murung karena teringat dengan sapu tangan itu.


"Kalau boleh tau benda apa itu, Vio?" tanya Nickhun sangat ingin tau.


Karena Viollete terlihat begitu sedih saat kehilangan benda itu. Dan Nickhun sempat menduga itu adalah benda pemberian dari seseorang ... misalnya ... Ryuga. Karena baru pertama kali ini Nickhun bertemu dengan Ryuga, namun Ryuga terlihat begitu mengkhawatirkan Viollete hingga mengikuti Viollete sampai di kontrakan Nickhun.


"Apakah benda itu sangat berharga?" tanya Nickhun lagi, dan entah mengapa nada bicaranya sedikit berubah. Padahal Nickhun masih mengatakannya dengan senyuman.


"Hhm? Tentu saja benda itu sangat berharga untukku, Nick!" sahut Viollete yang masih terlihat murung.


Apakah benda itu dari seorang pria? Dan mengapa kamu sampai nekat untuk pergi ke tempat yang tidak kamu sukai hanya untuk mencari benda itu? Apakah pria itu sangat berharga untukmu, Vio?


Batin Nickhun yang mulai teringat dengan sosok Ryuga, dan sebenarnya hal itu cukup membuat Nickhun sedikit kecewa.