
Setelah melacak keberadaan Ryuga melalui sebuah teknologi GPS yang sudah dipasang pada sepatu Ryuga, akhirnya Roy mulai mendapatkan sebuah titik koordinat itu. Dan rupanya keberadaan Ryuga masih berada di dalam gedung ini.
Akhirnya Roy segera bergegas untuk mendatangi tempat itu sesegera mungkin. Karena waktu yang tersisa saat ini hanya tersisa beberapa menit saja. Bahkan sudah tidak genap 5 menit lagi!
Tetap tenang dan fokus untuk mencari Ryuga, Roy! Lakukan dengan cepat dan tetap dengan tenang! Jika kamu panik, semua tidak akan baik dan malah akan membuat ruwet hingga konsentrasi malah hilang dan semua akan menjadi semakin kacau!
Batin Roy menginstruksi dirinya sendiri dan mukai mendatangi sebuah ruangan yang berada di lantai 3. Setelah mencari di sekitar tempat itu akhirnya Roy mulai menemukan Ryuga yang rupanya tubuh Ryuga sedang tertimpa dengan sebuah barang yang cukup berat hingga membuat tubuh Ryuga tak bisa bergerak.
Roy yang melihat semua itu, kini segera mendekati Ryuga untuk membantunya agar bisa segera terbebas dari himpitan benda yang cukup berat itu.
Sementara itu ...
Viollete, Lay Zhang dan Aya kini sudah berhasil keluar dari gedung tua itu dan segera menaiki bukit yang berada tak jauh dari gedung tua itu.
Detik demi detik terus saja berlalu dan terasa begitu cepat, namun sampai saat ini masih belum terlihat tanda-tanda kehadiran dari Ryuga dan Roy yang terlihat sedang meninggalkan gedung tua itu.
Perasaan resah, gelisah dan khawatir tentu saja mulai bersemayam pada diri Lay Zhang dan Aya. Dan sebenarnya perasaan itu juga mulai dirasakan oleh Viollete. Karena pada dasarnya jiwa dan hati Viollete sebenarnya adalah lembut.
Pandangan mereka bertiga tak pernah terlepas mengawasi gedung tua dan sekitarnya. Nerharap jika kedua senior mereka akan segera keluar dari gedung tua itu dan mulai menyusul mereka bertiga.
Setelah beberapa saat sebuah ledakan yang begitu hebat tiba-tiba saja terjadi di hadapan mereka bertiga. Bangunan tua di hadapan mereka itu seketika hancur dan menjadi puing-puing kecil yang beterbangan di udara seperti hujan dan masih menyisakan kobaran api yang cukup besar.
Tak bisa berkata-kata lagi. Viollete, Lay Zhang, dan Aya terdiam terpaku dan membeku begitu saja menyaksikan sebuah ledakan yang begitu fantastis itu. Bahkan Aya sampai terjatuh dengan kedua lututnya sebagai tumpuan di atas tanah.
Seakan menjadi lemas begitu saja saat memikirkan jika Roy dan Ryuga masih di dalam bangunan itu dan mejadi korban saat penghancuran salah satu markas dari Death Eyes.
"Senior Roy ... senior Ryuga ... bagaimana mungkin kalian tidak kembali lagi?" ucap Aya begitu bergerar bahkan sepasang mata beningnya sudah mulai terlihat berkaca-kaca dengan rahangnya yang dikeraskannya.
Viollete juga terlihat masih membungkam mulutnya sendiri dengan salah satu jemarinya seakan masih sulit untuk mempercayai semua ini. Sementara pandangannya masih menatap kobaran api dan puing-puing di hadapannya itu. Viollete berharap mereka akan menampakkan diri mereka kembali.
Lay Zhang juga masih saja mengawasi di sekitar sisa puing-puing itu, hingga akhirnya Lay Zhang mulai menangkap sosok di balik kepulan asap yang cukup pekat, hingga akhirnya mulai terlihat seorang pemuda yang sedang memapah pemuda lainnya.
Ada rasa lega dalam diri Lay Zhang dan Viollete yang melihat Roy dan Ryuga rupanya masih selamat dan hidup dari ledakan luar biasa itu.
"Senior Roy dan senior Ryuga ..." gumam Lay Zhang pelan lalu segera memerosotkan dirinya kembali untuk menuruni bukit itu dan segera menghampiri mereka berdua dan tentu saja untuk membantu Roy memapah Ryuga yang sepertinya mengalami cedera kaki.
Begitu juga dengan Viollete yang sebenarnya juga merasa lega karena mengetahui jika Roy dan Ryuga selamat.
...⚜⚜⚜...
Tim Ryuga segera kembali ke Yokohama dengan dijemput oleh sebuah capung besi berwarna putih milik Doragonshadou. Ryuga mengalami sedikit luka pada kakinya karena tertimpa oleh benda berat itu dan masih dirawat di klinik khusus di dalam markas utama Doragonshadou, karena saat ini Ryuga masih cukup kesulitan saat berjalan.
Roy masih menemani Ryuga, sementara Viollete, Lay Zhang dan Aya mulai bersiap untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Dan mereka semua mendapatkan tambahan libur selama 2 hari ke depan untuk memulihkan kembali kesehatan dan stamina setelah menyelesaikan tugas itu.
Meskipun tugas khusus itu tidak bisa dikatakan berhasil, namun tim Ryuga berhasilmendapatkan sebuah informasi yang sangat penting! Bahwa pimpinan utama dari Death Eyes Kin Izumi, kini sudah kembali ke Jepang!! Dan tentu saja informasi itu cukup berguna untuk Doragonshadou.
Viollete mulai melenggang sendirian menuju ke sebuah halte. Suasana sore ini entah mengapa sedikit sepi. Angin yang berhembus di kala sore ini terasa begitu dingin. Viollete yang merasakan sedikit dingin, kini mulai menarik resleting jaket kulit berwarna sweet caramel itu hingga mencapai bawah tulang selangkanya.
Namun tiba-tiba saja ada sebuah mobil BMW hitam metalik dengan plat yang cukup asing untuk Viollete mulai berhenti tak jauh dari Viollete. Beberapa orang dengan pakaian serba hitam, bahkan ada yang mengenakan setelan jas rapi, dengan kacamata lensa hitam yang sudah bertengger manis pada masing-masing tulang hidung mereka, kini mulai melenggang mendekati Viollete.
"Siapa kalian?!" ucap Viollete mulai waspada dan menatap keempat pria itu secara bergantian.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Viollete, kini salah satu dari mereka mulai mengangkat tangan kanannya untuk memberikan instruksi kepada anak buahnya untuk segera menangkap Viollete.
Viollete yang tanggap, jika mereka akan menyerang atau memaksa Viollete untuk ikut bersama dengan mereka akhirnya mulai melakukan perlawanan.
Dua orang pria mulai mendetai Viollete, Viollete mulai mundur beberapa langkah lalu mulai melangkah cepat ke depan kembali dan menjejakkan kakinya satu persatu dengan cepat dan mengenai bagian dada kedua pria itu hingga kedua pria itu terjatuh.
Seorang pria kini mulai mendekati Viollete dan sudah melayangkan tinjunya. Viollete dengan cepat menunduk dan segera menyerang ulu hati pria itu yang saat ini berada tepat di hadapannya. Pria itu hanya sedikit terhentak mundur.
Pria terakhir kini mulai melakukan kick dan Viollete menahannya dengan kedua tangannya yang saling disilangkannya di depan wajahnya. Namun tiba-tiba saja terdengar sebuah bunyi tembakan yang mengudara dan mengenai Viollete.
TAR ...
Peluru panas itu meluncur dan mengenai lengan kanan Viollete begitu saja, dan Viollete sempat melihat seorang pria yang masih berada di dalam sebuah mobil, seorang pria yang masih memegang senjata api dan menodongkan ke arahnya. Dan pria itu adalah salah satu kaki tangan dari Buck Karimova.
Perasaan Viollete mulai berkecamuk menjadi satu, bergejolak dan tak tau apa yang harus dia lakukan saat ini. Perasaan sedih, kecewa sesak, menyesal, merasa bersalah ... semua perasaan itu cukup sulit untuk digambarkan untuk saat ini.