
Tak jauh dari kereta api itu, terlihat sebuah capung besi Agusta Westland berwarna putih bersih terlihat sudah menantikan Fumio dan berada tak jauh dari kereta api itu. Keadaan mesinnya masih hidup dengan baling-baling yang masih berputar dengan cepat dengan ritme yang masih teratur.
Kini Fumio mulai melenggang dan memasuki capung besi berwarna putih itu dan diikuti oleh beberapa anak buahnya. Setelah beberapa saat, capung besi itu mulai terbang kembali, dan berhenti di atas tak jauh dari tempat itu.
Fumio masih dengan senyuman sengitnya menatap ke arah bawah, tepatnya dia sedang menatap kereta peluru yang akan segera meledak karena sebuah alat peledak yang sudah dia pasang di dalam kereta api peluru itu.
Sebuah tombol berwarna merah pada sebuah remot kontrol yang berukuran kecil dan berwarna hitam, kini mulai ditekannya dengan seringai yang cukup menakutkan.
Setelah beberapa saat ... suasana masih begitu hening dan tak terjadi apapun hingga saat ini. Ledakan? Tidak ada satupun ledakan dasyat seperti yang sudah dibayangkan oleh kabinet Fumio. Bahkan Fumio mulai menekan-nekan kembali tombol merah itu saking kesalnya.
Dan hal ini tentu saja membuat Fumio merasa begitu bingung namun juga tak mengerti dengan apa yang sudah terjadi saat ini. Padahal sebelum meletakkan bom itu di ruangan bordes, Fumio juga melihatnya secara langsung dan memastikan jika peledak itu memang berfungsi dengan baik.
Lalu mengapa saat ini peledak itu tiba-tiba saja menjadi tidak berfungsi? Apakah ada yang mematikannya? Atau memang alat peledak itu rusak?
Mungkin seperti itulah yang memenuhi pikiran Fumio saat ini, hingga akhirnya Fumio masih berusaha untuk menekan tombol itu kembali beberapa kali dan menggunakan full power.
"Sialan!! Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa alat peledak itu tidak berfungsi?!" geram Fumio yang terlihat begitu menakutkan dan masih menatap kereta api peluru itu dari atas capung besi.
"Kami juga tidak mengerti, Tuan. Namun sepertinya ada yang sudah berhasil menonaktifkannya. Apa perlu kita memeriksanya kembali, Tuan?" ucap salah satu kaki tangan Fumio.
"Ya!! Periksalah dengan benar!" tandas Fumio dengan tegas.
Salah satu dari mereka mulai terjun begitu saja dan mengenakan parasut berwarna hitam dan segera memeriksa alat peledak di ruangan bordes di gerbong kedua.
Fumio masih mengawasi dari atas, dan kini pria berpenampilan rapi itu mulai menangkap sosok Viollete yang sedang berduel dengan seorang pria tambun yang tak lain adalah salah satu dari kaki tangannya sendiri. Viollete dan pria itu masih berduel tepat di depan kereta api dan di pintasannya.
Kening Fumio kini mulai berkerut karena mencoba mengawasi gadis yang sedang bertarung dengan cukup tangguh itu.
"Siapa gadis itu?" gumam Fumio yang masih berdiri di dekat pintu dari capung besi berwarna putih itu.
"Sepertinya gadis itu adalah salah satu pengawal yang ditugaskan untuk menjaga tuan Hiroyuki, Tuan Fumio. Dan dia mengejar kereta peluru itu dari Yokohama." jelas seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam.
"Hhm? Dia mengejar dari Yokohama?"
"Menurut rekaman seperti itu, Tuan."
"Hancurkan seluruh rekaman yang memperlihatkan tentang diri kita, sebelum mereka mengetahuinya!" titah Fumio yang masih mengamati duel antara Viollete dan salah satu anak buahnya.
"Siap laksanakan, Tuan!" sahut kaki tangan Fumio dengan patuh.
Sementara itu ...
Hingga setelah beberapa saat,dari arah berlawanan yang memiliki landasan rel kereta api sedikit berbelok dan ditutupi pepohonan, mulai terlihat sebuah kereta api berwarna putih yang melaju ke arah mereka berdua.
Meskipun kecepatan laju dari kereta tersebut saat ini sudah sedikit berkurang, namun sebenarnya itu masih cukup kencang. Dan sepertinya sang masinis sudah mendapatkan informasi dari stasiun pusat, hanya saja agak sedikit terlambat saat mengurangi laju kecepatan dari kereta api tersebut.
Viollete dan pria penjaga yang masih saling menyerang, bahkan posisi mereka saat ini adalah Viollete yang sudah terbaring di atas jalur kereta api dengan bantalan rel tersebut. Tubuhnya terkunci oleh pria penjaga itu, dan Viollete juga masih menahan serangan demi serangan dari pria penjaga itu.
Sebuah klakson dari kereta api yang sedang melaju ke arah mulai terdengar dan membuat mereka berdua mulai beralih ke arah samping. Pria penjaga itu sedikit membelalak karena menyadari jika dari arah depan sudah ada sebuah kereta api yang hanya memiliki jarak kurang lebih 20 meter saja dari mereka berdua.
Sementara Viollete yang masih terbaring di bawah pria prnjaga itu sedikit memicingkan sepasang matanya karena lampu pengereman terlihat begitu menyilaukan.
Seakan telah membatu, mereka berdua terdiam selama beberapa saat karena masih shock dan panik. Namun akhirnya si pria penjaga itu mulai bangkit dan secepat mungkin meninggalkan Viollete begitu saja. Dan kini hanya tertinggal Viollete yang sudah semakin dekat dengan kereta api itu yang sebenarnya sudah cukup memelankan kecepatan lajunya.
Sementara itu ...
Seorang pria berpakaian serba hitam mulai mendatangi gerbong kedua dan memasuki ruangan bordes untuk memeriksa sesuatu. Sebuah kotak kecil berwarna kehitaman dan memiliki beberapa kabel warna-warni yang berada di bawah meja mulai diamatinya untuk memeriksa benda tersebut.
"Cih ... sial!! Pantas saja tidak terjadi apa-apa saat tuan Fumio mengaktifkan alat peledak ini melalui remotnya. Rupanya seseorang sudah menjinakkan alat peledak ini! Tapi siapa?" gumam pria itu yang masih menimang-nimang alat peledak yang saat ini sudah tidak berfungsi ini.
"Tuan Fumio pasti akan sangat murka jika mengetahui semua ini. Sebaiknya dia segera meninggalkan tempat ini secepat mungkin." ucap pria itu lagi lalu meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya panggilan itu mulai diangkat dari seberang.
"Hallo, bagaimana? Apa yang terjadi? Mengapa alat peledak itu tidak berfungsi?" tanya seorang pria dari seberang dan terdengar sudah sangat tidak sabaran.
"Tuan Fumio. Seseorang sudah berhasil menjinakkan alat peledak ini. Dan sekarang alat peledak ini sudah tidak berfungsi lagi. Sebaiknya tuan Fumio segera meninggalkan tempat ini. Aku akan segera menyusul."
"Cih!! Tak berguna!! Kalian semua tidak berguna!! Bodoh!! Idiot!! Jika sampai mereka menangkap kalian, awas saja jika berani menyebut namaku!! Nasib keluargamu ada berada di dalam tanganku!! Jadi jangan berani membuka mulut!! Ingat itu baik-baik!! Jika perlu habisi Hiroyuki sekarang juga!! Karena hanya dia yang sudah melihatku!!"
BBRRAAKKKKKK ...
SSSRRRTT ...
Belum sempat pria itu menjawab ucapan dari Fumio, tiba-tiba saja terdengar suara hantaman yang sangat keras. Getaran hebat terjadi seakan bumi sudah berguncang, dan kereta api peluru itu mulai sedikit bergerak mundur.
Bersambung ...