
Seperti biasanya, sore ini Nickhun sudah menunggu Viollete di halte untuk pulang bersama. Namun sebelum menaiki busway, mereka berdua berniat untuk makan bersama dulu di sebuah kafe yang tak jauh dari markas utama Doragonshadou.
Mereka berdua mulai memesan makanan dan juga minuman. Dan untuk mengusir kejenuhan saat menunggu, akhirnya mereka mulai berbincang kembali. Dan sebenarnya Nickhun tak pernah merasa bosan sih jika sedang berada bersama Viollete.
Namun disela-sela perbincangannya, tiba-tiba saja Nickhun merasa jika lengan kanan Viollete sedikit berbeda dari biasanya. Viollete tak terlalu banyak menggerak-gerakkannya dan terkadang Viollete juga sedikit mengusapnya dengan jemari kirinya.
Nickhun yang begitu peka dan sangat menangkap perubahan itu, akhirnya mulai menanyakannya secara langsung kepada Viollete.
"Vio, ada apa dengan lengan kananmu? Apa kamu terluka?" tanya Nickhun yang masih mengamati lengan kanan Yuna.
Jujur saja Viollete merasa sedikit terkejut karena Nickhun langsung saja menyadari akan hal itu, padahal saat ini Viollete sedang mengenakan kemeja lengan panjang dan masih dibalut dengan sebuah blazer hitam lengan panjang.
"Vio ... siapa yang melukaimu?" tanya Nickhun lagi karena Viollete hanya terdiam saja dan tidak menjawab pertanyaan dari Nickhun.
"Tidak kok. Ini hanya luka ringan biasa saja, Nick." sahut Viollete tersenyum lebar menatap pemuda berdarah Thailand itu dan memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Bohong!" potong Nickhun seketika. "Aku sudah mengenalimu cukup lama, Viollete. Dan aku begitu memahamimu. Dan kebiasaanmu seperti ini adalah menunjukkan jik kamu sedang berbohong.
Senyuman lebar dari gadis pemilik sepasang mata kecoklatan itu kini mulai memudar begitu saja ketika mendengarkan ucapan dari Nickhun. Seakan dirinya tak akan bisa berbohong di hadapan pemuda yang selama 18 tahun ini sudah menjadi sahabatnya.
"Uhm ... itu ... aku terkena sebuah tembak tiga hari yang lalu. Awalnya aku begitu menyepelekannya, dan tidak merawat lukaku dengan baik. Aku masih saja melakukan beberapa olahraga keras disaat di rumah. Dan jahitan luka pada lenganku mulai terbuka kembali. Maka dari itu aku tidak berani untuk bergerak terlau banyak lagi. Sebenarnya tidak begitu terasa sakitnya, hanya saja lukanya tidak cepat sembuh dan mengering." jelas Viollete dengan jujur.
"Siapa yang menembakmu? Apakah itu adalah anak buah dari Death Eyes saat kalian berada di desa Aiko Iyashi No Sato ?" selidik Nickhun.
"Uhm ... iya ... aku begitu ceroboh bukan? Bahkan untuk menghadapi para berandalan itu saja aku sampai terkena dengan seenjata api mereka dan terluka seperti ini." celutuk Viollete.
Sebenarnya Nickhun sama sekali tidak mengetahui siapa itu pemimpin utama dari Death Eyes. Bahkan Nickhun juga tidak mengetahui, jika target utama balas dendam Viollete saat ini adalah Kagami Jiro, pimpinannya sendiri.
Yang Nickhun tau adalah Viollete memang kembali ke Jepang untuk melakukan balas dendam. Namun Viollete tak pernah menceritakannya kepada Nickhun dengan detail.
"Tidak kok. Mungkin saat itu kamu sedang lengah. Dan itu adalah hal yangbsangat wajar kok. Karena sesempurna apapun seseorang, pasti dia juga pernah berada di posisi itu. Dan tentu saja jika hal itu sampai terjadi, maka mereka akan dengan mudah menyerang dan melukai kita. Jadi untuk ke depannya kamu harus tetap selalu waspada dan tanggap dengan sekitarmu, Vio." ucap Nickhun memberikan saran tanpa mengecilkan hati Viollete.
"Hhm. Kau benar, Nick!" sahut Viollete tersenyum tipis.
"Besok akhir pekan kamu ada acara, Vio? Bagaimana kalau kita jalan-jalan melihat taman atau tempat lainnya? Uhm ... aku belum begitu mengenal daerah sini, jadi aku ingin sekali melihat-lihat." ucap Nickhun tiba-tiba mengajak Viollete.
"Akhir pekan ya?" gumam Viollete sambil mengingat-ingat sesuatu, hingga akhirnya Viollete berhasil mengingatnya, jika dia sudah ada janji bersama dengan Kazuma untuk menemani Kazuma membeli sebuah hadiah untuk Zie.
"Ya, Nick. Aku sudah ada janji bersama seseorang. Dan aku harus menepatinya." ucap Viollete dengan jujur.
"Oh begitu ya." sahut Nickhun yang masih saja memasang senyumnya, namun sebenarnya Nickhun merasa sedikit kecewa dan mengira Viollete akan pergi bersama pemuda lain.
"Aku angkat sebentar ya!" ucap Viollete kepada Nickhun.
Nickhun hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis menanggapinya.
"Hallo, Kazuma." sapa Viollete saat menggeser sebuah tombol hijau pada layar ponselnya.
"Halo, Kak Vio. Apa kakak sedang sibuk?" sahut Kazuma dari seberang line.
"Tidak kok. Ada apa ya?"
"Aku hanya ingin mengingatkan kakak saja kok. Besok jangan lupa temani aku ya, Kak. Kita bertemu di Queen square mall jam 10 Am ya." ucap Kazuma yang terdengar begitu bersemangat.
"Oh okay. Terima kasih karena sudah mengingatkan padaku, Kazuma. Kalau begitu sampai jumpa besok!"
"Okay! Bye, Kak Viollete cantik!"
Mendengar ucapan dari Kazuma membuat Viollete tersenyum tipis, "Bye ..."
Panggilan itu kini berakhir begitu saja dan sudah membuat Nickhun kembali salah paham, karena mengira esok Viollete akan pergi berkencan bersama dengan Kazuma di akhir pekan.
Kazuma? Jadi Vio akan pergi di akhir pekan bersama pemuda bersama Kazuma ya? Aku tidak pernah mendengar namanya sebelumnya. Apakah Kazuma juga bekerja di markas besar Doragonshadou? Rupanya begitu mudahnya Viollete akrab dengan orang lain. Sepertinya selama ini hanya aku yang begitu bergantung pada Vio, dan aku hanya ingin selalu menjadi satu-satunnya teman terdekatnya. Aku benar-benar sangat menyedihkan.
Batin Nickhun yang mulai terlihat murung dan menunduk menatap meja di hadapannya.
"Nick! Kapan-kapan saja ya kita jalan-jalan bersama! Aku akan mentraktirmu saat itu!" ucap Viollete tanpa menjelaskan apapun kepada Nickhun mengenai Kazuma, karena Nickhun juga tidak menanyakannya sih.
"Hhm. Iya. Tidak masalah kok. Jika kamu sudah memiliki janji bersama orang lain, maka kita bisa pergi lain kali." jawab Nickhun dengan tenang dan bijak.
"Hhm. Terima kasih sudah mengerti." ucap Viollete dengan tulus.
"2 smoothie strawberry, dan 2 ramen uddon. Silakan ..." seorang gadis pelayan mulai datang dan membawakan makanan dan minuman pesanan mereka berdua lalu meletakkannya di atas meja.
"Terima kasih." ucap Nickhun begitu ramah dan membuat gadis itu menjadi salah tingkah dan tak sengaja malah menyenggol smoothie strawberry milik Nickhun dan seketika tumpah begitu saja mengenai blazer Nickhun.
"Ahh ... maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja. Sungguh aku tidak sengaja." ucap waitress itu terlihat begitu merasa bersalah kepada Nickhun dan berusaha untuk membersihkan blazer Nickhun dengan sebuah sapu tangan.
"Jangan panggil aku tuan. Panggil saja aku Nick." ucap Nick yang merasa tak terbiasa dengan panggilan tuan dan Nick juga merasa tak pantas akan panggilan itu.