
Kagami Jiro menghalangi niat Viollete untuk meluncurkan amunisinya dengan menempelkan jemarinya pada ujung Glock Meyer 27 yang sudah sepenuhnya menjadi milik Viollete saat ini.
Hal itu membuat Viollete mulai mendongak dan menatap Kagami Jiro penuh dengan rasa bingung dan tidak mengerti. Sedangkan Kagami Jiro masih saja menatap nanar Viollete dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Jangan kotori tanganmu dengan hal seperti ini, Kin Rui. Dendam itu sangat tidak baik dan sangat melelahkan, Putriku. Aku tidak mau kamu hidup dalam bayang-bayang seperti kehidupan Kin Izumi selama ini. Aku sendiri yang akan menghukum dan menangkap Kin Izumi. Dan dia harus bertanggung jawab atas semua perbuatan yang telah dia perbuat selama ini." ucap Kagami Jiro tiba-tiba dengan lirih namun penuh dengan penekanan.
Jika dipikirkan dengan otak dan hati yang dingin serta kepala yang tenang, sebenarnya semua yang diucapkan oleh Kagami Jiro adalah benar. Namun tentu saja masih ada rasa mengganjal pada hati Viollete jika Viollete tidak menghukum Kin Izumi dengan tangannya sendiri.
"Tap-tapi ..." sela Viollete merasa sedikit keberatan.
"Serahkan semua ini pada ayah. Kali ini kamu harus hidup dengan wajar dan normal seperti seorang gadis muda lainnya yang seharusnya masih menikmati masa mudanya dengan hal-hal yang indah. Jangan lagi memikirkan tentang dendam ... percayakan saja semua ini pada ayah." ucap Kagami Jiro menatap hangat putri sulungnya dan mengusap lembut kepala Viollete.
Pandangan ayah dan anak itu saling bertemu selama beberapa saat dan saling menatap dengan haru. Hingga akhirnya Viollete mulai mengangguk pelan dan menyerahkan semuanya kepada Kagami Jiro.
Belum sempat terjadi berbincangan diantara Kagami Jiro dan Viollete lagi, tiba-tiba saja Kin Izumi sudah datang dan menyerang Kagami Jiro dengan bogemnya. Lalu Kin Izumi mulai menabrakkan dirinya pada tubuh Viollete hingga tubuh Viollete mulai terdorong dan menabrak dinding besi di belakangnya, tepat di dekat pintu belakang helikopter yang masih terbuka cukup lebar.
BRUUGGHH ...
"Anak tak tau diri!! Lebih baik kau mati saja dan segeralah pergi ke neraka!!" geram Kin Izumi berusaha untuk mencekik Violete dengan sekuat tenaga yang masih tersisa.
Viollete berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Kin Izumi karena Viollete sudah mulai kesulitan untuk bernafas. Namun cengkeraman itu sangat kuat dan melebihi kekuatan dari Viollete.
SSRRTT ...
BUAGGHH ...
Kagami Jiro merusaha untuk meraih leher dan tubuh Kin Izumi dengan tangan kanannya lalu mulai menariknya ke belakang hingga kedua pria paruh baya itu terjatuh bersama.
Sementara Viollete masih terbatuk-batuk dan memegangi lehernya yang sudah terlihat merah karena cekikan kuat dari Kin Izumi.
DUAAGGHH ...
Kin Izumi yang masih terbaring kini mulai menendang tubuh Kagami Jiro dan membuat tubuh Kagami Jiro terhempas kembali di dekat pintu helikopter.
Angin yang berhembus dengan sangat kuat melalui pintu yang terbuka itu menerbangkan rambut dan pakaian Kagami Jiro hingga menari-nari di udara.
"Hiathh ..." Kin Izumi menghentakkan kedua kakinya dan mulai berdiri dengan sempurna.
"Rasakan ini Kagami Jiro!! Pergilah ke neraka!! Hiathh ..." tubuh Kin Izumi semakin mendekati Kagami Jiro dan dengan cepat Kagami Jiro menghindarinya ke arah samping.
Semua pergerakan dari Kagami Jiro yang begitu cepat membuat Kin Izumi tak bisa mengurangi kecepatannya atau menghentikan pergerakannya dan malah membuat tubuhnya terhempas keluar dari helikopter begitu saja.
Tubuh Kin Izumi mulai terjatuh ke bawah tanpa memakai sebuah pengaman seperti parasut. Dan saat ini di bawah adalah hutan Wild Kaazaane. Sebuah hutan rimba yang tak terjangkau oleh masyarakat sekitar dan masih dipenuhi dengan hewan-hewan buas.
"Papa!!" teriak Viollete begitu histeris dan segera mendekati pintu helikopter untuk melihat ke bawah. Namun sudah tak telihat apapun lagi kecuali hutan hijau yang sangat rimbun itu.
Meskipun sebenci dan sekecewa apapun Viollete kepada Kin Izumi, namun melihat Kin Izumi yang bernasib tragis dan terjatuh dari ketinggian super seperti ini cukup membuat dadanya merasa sesak.
Masih ada rasa tak tega dan kasihan dari dalam lubuk hati Viollete yang paling dalam.apagi jika mengingat jika hutan Wild Kaazaane adalah hutan yang masih cukup berbahaya untuk dijangkau manusia.
Tubuh Viollete terduduk dan terasa begitu lemas seketika menyaksikan nasib naas yang menimpa Kin Izumi saat ini. Air mata hangat juga mulai membasahi pipinya kembali.
Kagami Jiro mulai duduk bersimpuh dan memeluk Viollete dengan hangat. Tentu saja perasaan Viollete sudah berkecamuk menjadi satu saat ini.
Entah bagaimana nasib Kin Izumi saat ini. Namun sudah bisa dipastikan 90% dia sudah berakhir!
"Kin Rui ... tenanglah. Ayah akan memerintahkan beberapa tim dari Doragonshadou untuk memeriksa hutan Wild Kaazaane. Sekarang kita fokus untuk Cloud dulu." ucap Kagami Jiro berusaha untuk menenangkan putri sulungnya.
Dekapan dan pelukan yang diberikan oleh Kagami Jiro terasa lebih hangat dan menenangkan hati Viollete. Bahkan rasa itu sangat mirip ketika Viollete mendapatkan pelukan dari sang mama saat dirinya masih seorang gadis kecil.
Viollete mulai mengusap air matanya kembali karena kembali teringat dengan Cloud. Dengan cepat Viollete dan Kagami Jiro mulai mendatangi Cloud yang masih bersama dengan Roy.
Rupanya Roy sedang berusaha untuk melakukan sesuatu dengan memakai alat seadanya dan dilakukan oleh seorang diri.
"Bantuan sedikit terlambat untuk datang. Sedangkan peluru yang Death Eyes gunakan sangat berbahaya. Jadi aku memutuskan untuk melakukan oprasi kecil sendiri untuk mengeluarkan peluru panas itu. Jika tidak Cloud akan berada dalam bahaya." jelas Roy yang sudah hampir menyelesaikan semua itu.
Sementara Cloud sudah terlihat semakin pucat namun masih saja tersadar. Viollete mulai duduk bersimpuh di dekat Cloud dan meraih jemari sang adik. Rasa sesak kembali menyelimuti diri Viollete saat ini dan kembali mengkhawatirkan adiknya.
"Cloud!! Bertahanlah! Kakak berjanji padamu akan selalu menuruti apa pintamu tanpa memprotesnya lagi. Tapi kakak mohon padamu ... kamu harus bisa bertahan! Kamu harus tetap kuat ... kamu adalah salah satu alasan kakak untuk kakak tetap kuat menjani hidup selama ini. Jangan pergi dan jangan tinggalkan kakak, Cloud ... kakak mohon padamu ... hiks ..."
Viollete kembali terisak dan tidak kuasa untuk menahan semua air mata itu. Namun Cloud hanya tersenyum tipis menatap Viollete, dan perlahan sepasang mata Cloud mulai menyipit, hingga akhirnya mulai terpejam.
"Cloud ... tidak ... jangan seperti ini ..." Viollete menggeleng pelan dalam isak tangisnya dan mengusap lembut sisi samping wajah sang adik.