
Viollete mulai menghadang sebuah taxi untuk Cloud pulang ke rumah, namun dia tak ikut pulang kali ini karena Viollete memutuskan untuk pergi ke pelabuhan Pier 10 untuk mencari sapu tangannya yang hilang.
"Cloud, kamu pulang saja dulu. Ada sesuatu yang harus kakak kerjakan sekarang. Kakak akan segera pulang." ucap Viollete sebelum Cloud memasuki taxy berwarna putih itu.
"Kak Vio mau kemana? Bolehkah aku ikut saja?" tanya Cloud yang malah ingin ikut bersama dengan Viollete.
"Tidak, kakak hanya ingin mengambil barang kakak saja kok. Barang belanjaan kamu sangat banyak, sebaiknya kamu pulang dulu. Kakak hanya sebentar kok." ucap Viollete mulai mendorong tubuh Cloud untuk memasuki taxi berwarna putih itu.
Hingga akhirnya dengan terpaksa dan memasang wajah cemberut, Cloud menuruti perintah dari kakaknya begitu saja.
"Baiklah. Kak Vio hati-hati ya! Jangan percaya terhadap pria tampan manapun kecuali aku! Hanya aku pria tampan yang baik hati dan tulus dengan kakak!!" ucap Cloud yang malah membuat Viollete tertawaa lebar.
"Okay!!" sahut Viollete sambil menutup pintu taxi itu dan mulai melambaikan tangannya untuk sang adik, hingga akhirnya taxi itu mulai melaju dan meninggalkan dirinya begitu saja.
Kini Viollete mulai menghadang sebuah taxi lagi untuk dirinya sendiri.
"Antar aku ke pelabuhan Pier 10, Pak!" titah Viollete kepada supir taxi itu setelah Viollete mulai memasuki taxi itu.
"Baik, Nona." sahut supir taxi itu lalu mulai mengemudikan taxi itu menuju ke sebuah tempat yang sudah diperintahkan oleh Viollete.
Viollete hanya mengamati jalanan dan gedung-gedung megah yang sudah dilaluinya di sepanjang perjalanan. Kota yang menjadi tanah kelahirannya ini, sungguh terasa hambar dan tidak ada kehangatan untuknya sama sekali.
Bahkan sebenarnya Viollete lebih menyukai kehidupan di desa Wang Nam Khiao.
"Apakah karena disana ada Nick? Hingga membuatku merasa nyaman? Ya ... aku merasa nyaman disana karena selalu ada keluarga Vihokratana yang begitu hangat, bahkan lebih hangat dari keluargaku sendiri. Bibi Anne, mama ... aku rindu kalian ..." gumam Viollete lirih dan masih menatap kosong ke arah sisi jendela sampingnya.
TRINGG ...
Angan Viollete mulai buyar kembali setelah mendengar sebuah notifikasi yang berasal dari ponselnya itu. Viollete mulai mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya dan membaca pesan itu.
Sebuah pesan yang berasal dari seseorang yang jauh di seberang sana, namun pesan itu bisa membuat Viollete merasa begitu lega dan lebih tenang. Bahkan senyumnya mulai menghiasi wajah ayunya dan menjadikannya terlihat semakin manis.
Selamat siang, Sahabatku yang cantik. Jangan ragu dalam setiap melangkah, karena aku akan selalu bersama denganmu. Nickhun.
Sebuah pesan itu terlihat sedikit aneh, namun bagi Viollete pesan itu seakan malah menenangkan hatinya dan memberinya semangat dalam setiap Viollete melangkah.
Belum sempat Viollete membalas pesan dari Nickhun, kini supir taxi mulai menyampaikan sesuatu jika mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Nona, kita sudah sampai di pelabuhan Pier 10." ucap sopir taxi itu yang sudah menepikan taxinya di depan sebuah pelabuhan.
"Oh, iya ..." Viollete segera mengunci dan menyimpan ponselnya kembali lalu mulai memberikan beberapa lembar uang untuk sopir taxi itu.
Oh, astaga ... bagaimana mungkin aku bisa berfikir akan menemukan sapu tangan itu di tempat seluas ini? Dan lagi ... andai sapu tanganku memang terjatuh saat itu, pasti seseorang akan membuangnya begitu saja. Bagaimana ini? Maafkan aku bibi Anne, maafkan aku Nick karena tidak bisa menyimpan sapu tangan itu dengan baik.
Batin Viollete mulai terlihat putus asa dan terus melenggang begitu saja tanpa tau harus mencari sapu tangan itu kemana.
PPUUKK ...
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Viollete dari arah belakang, dan hal ini membuat Viollete mulai siaga kembali dan mulai meraih tangan itu dan sudah berniat untuk menghempaskannya dengan membanting tubuh itu ke depan.
Namun tiba-tiba ada suara seorang pria yang sangat familirar dan menghentikan niat Viollete untuk melakukan semua itu.
"Hei ... hei ... hei ... apa yang sudah kau lakukan?!" ucap pria itu dengan nada dingin dan tak suka.
Kini Viollete mulai melepaskan tangan pada bahunya dan segera memutar tubuhnya untuk melihat pria itu.
"Se-senior Ryuga ... mengapa senior ada disini?" tanya Viollete sangat kebingungan.
"Kau pikir ini hanya tempatmu dan hanya kamu yang bisa datang di tempat ini saja?" ucapan itu disampaikan oleh Ryuga dan terdengar begitu dingin dan sedikit kasar.
Pria ini sungguh sangat kasar sekali! Aku malas sekali jika harus selalu berperilaku ramah terhadapnya. Sebaiknya aku tak menanggapinya dan pergi saja!
Batin Viollete sedikit menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan mulai berbalik dan melenggang beberapa langkah meninggalkan Ryuga. Namun perbuatan cuek dari Viollete seperti ini sepertinya lebih membuat Ryuga merasa lebih kesal dan menilainya sangat tidak menghargai dan menghormatinya.
Hingga akhirnya pemuda pemilik rambut ikal berwarna hitam pekat dan sedikit bergelombang itu mulai berjalan cepat dan kembali menghadang Viollete. Raut wajahnya terlihat lebih kesal dibanding biasanya.
"Viollete!!" tandasnya dengan penuh penekanan.
"Maaf, Senior. Tapi aku sedang terburu-buru. Lagipula ini sedang berada di luar. Jadi lebih baik pura-pura saja tidak saling kenal." ucap Viollete begitu datar.
"Gadis desa ini benar-benar keterlaluan sekali!! Masih berani bersikap sombong seperti ini di hadapanku seolah tidak memiliki salah terhadapku setelah apa terjadi malam itu? Bagus sekali!! Kau sungguh bermuka tebal!!" Ryuga tersenyum miring dan mulai berkacak pinggang.
Sangat terlihat dari raut wajahnya, jika pemuda itu sedang merasa begitu kesal dan murka terhadap Viollete. Namun Viollete hanya mengkerutkan keningnya dengan sepasang mata kecoklatannya yang mulai menyipit menatap Ryuga yang sudah seperti kebakaran jenggot.
Malam itu? Memang apa yang sudah terjadi malam itu? Apakah aku melakukan sebuah kesalahan malam itu? Apa yang terjadi sebelum aku tak sadarkan diri? Jika memang terjadi sesuatu, mengapa senior Roy tidak memberitahukan apapun padaku?
Batin Viollete mulai kebingungan dan menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuknya masih dengan kening yang berkerut.
"Apa maksud senior Ryuga? Memang apa yang terjadi malam itu?" ucap Viollete memberanikan diri untuk bertanya, karena Viollete masih belum berhasil mengingat apapun.
"Kau sungguh lupa atau pura-pura lupa? Apa kau pikir kau bisa membayar ganti rugi sepatuku yang super mahal yang malam itu sedang aku pakai karena sudah terkena muntahanmu begitu saja?!" kali ini ucapan senior Ryuga terdengar begitu melengking dan sukses membuat Viollete mematung cukup lama.