
Viollete dan pria penjaga itu masih saling berusaha untuk menyerang satu sama lain, hingga akhirnya tubuh pria itu berhasil membuat Viollete terbaring tepat di atas sambungan antara gerbong satu dengan gerbong lainnya.
Sementara di bawahnya sudah terlihat begitu nyata tanah dan beberapa landasan rel kereta api yang dilalui dengan cukup kencang. Dan tentu saja semua hal ini sangat membuat jantung berdesir dan sangat menguji adrenalin.
Pria penjaga yang memiliki tubuh cukup kekar namun sedikit tambun itu masih berusaha mencekik dan sedikit mendorong tubuh Viollete agar Viollete benar-benar terjatuh dari atas kereta api.
Tak berhenti sampai disitu saja, Viollete masih saja berusaha untuk melepaskan dirinya dari pria penjaga itu dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Segala kekuatannya yang masih tersisa dia kerahkan seluruhnya dengan menghantam wajah pria penjaga itu dengan tangan kanannya.
Tak berhenti dengan serangan itu saja, Viollete juga dengan cepat mengangkat lutut kanannya dan memberikan sedikit pukulan pada suatu titik yang masih bisa dijangkaunya.
Setelah cekikan dari pria itu sedikit melonggar kembali, Viollete mulai menghantam kembali pria penjaga itu beberapa kali dengan tinjunya dan terakhir dengn tendangan kedua kakinya dan sukses membuat pria penjaga itu melepaskan Viollete karena tubuh pria penjaga itu sedikit terhentak ke belakang dan menabrak pintu di belakangnya.
Viollete yang masih terbaring dengan posisi searah laju kereta api itu, kini menghentakkan kakinya dengan cukup kuat dan sukses membuat tubuh rampingnya kembali berdiri dengan sempurna.
Namun Viollete masih memegangi lehernya dan sedikit terbatuk-batuk karena cekikan kuat dari pria penjaga itu yang membuat leher Viollete menjadi merah dan nafasnya menjadi sedikit terengah-engah.
Pria penjaga itu mulai mendatangi Viollete lagi yang sedikit berdiri membelakangi pria penjaga itu. Dan kali ini pria penjaga itu mencoba mengunci tubuh Viollete dari sisi belakang disaat Viollete belum mendapatkan sepenuh tenaganya kembali.
Viollete masih berusaha menahan kedua tangan pria penjaga itu yang kembali berusaha untuk mencekik lehernya. Sungguh kekuatan pria penjaga itu cukup besar, namun tentu saja latihan Viollete selama 18 tahun tak akan semudah itu dikalahkan oleh sembarangan orang. Terutama hanya seorang pria penjaga yang kemungkinan besar hanya memiliki kelebihan pada kekuatan saja.
Di tengah asyiknya berduel, kini tiba-tiba saja kereta api itu mulai berhenti dengan mendadak dan tidak sesuai dengan rute dan tujuan pemberhentian. Dan sekarang mereka malah berada di antara pepohonan yang cukup luas dan jauh dari pemukiman warga.
Pria penjaga itu sedikit keheranan karena kereta itu mulai berhenti begitu saja. Kini pria penjaga itu memutuskan untuk mulai mengikat Viollete dengan sebuah tali yang cukup besar dan kuat. Viollete diikatkan pada sebuah besi dan berada di gerbong terpisah dengan penumpang lainnya.
"Gadis sialan! Kamu disini dulu!! Aku akan memeriksa sesuatu!!" ucap pria penjaga itu menatap tajam Viollete lalu mulai melenggang meninggalkan Viollete seorang diri.
Viollete hanya menatap tajam kepergian pria penjaga itu yang semakin menjauh dari dirinya.
"Dasar bodoh!" umpat Viollete masih menatap tajam punggung pria penjaga itu yang kini sudah benar-benar menghilang dari pelupuk matanya. "Hanya dengan ikatan tali seperti ini saja mana bisa menahanku untuk tetap berdiam diri dan tetap berada disini?! Cckk ..." gumam Viollete menyeringai manis dan mulai melepaskan ikatan tali itu dengan sangat mudah, dengan sebuah pisau lipat yang selalu dibawanya daan sudah dipersiapkannya pada bagian lengan pakaiannya.
Setelah berhasil melepaskan ikatan tali itu, kini Viollete mulai melenggang dengan sangat berhati dan mulai memasuki gerbong depan yang berisikan dengan para penumpang yang dikumpulkan menjadi satu dan berdesak-desakan di dalam gerbong itu.
"Apa kalian melihat Perdana Menteri Hiroyuki?" tanya Viollete sembari menatap bergantian beberapa penumpang itu dan berharap salah satu dari mereka mengetahui keberadaannya.
"Aku melihatnya!" ucap seorang bocah laki-laki yang masih lengkap mengenakan sebuah seragam almamater SMU, dan sepertinya anak itu menaiki kereta ini dari pulang sekolah untuk menuju ke rumahnya. "Aku melihat beberapa pria berpakaian serba hitam membawa Perdana Menteri Hiroyuki ke gerbong depan, Kak."
Viollete tersenyum tipis menatap anak laki-laki itu dan mulai bersiap untuk segera berpindah ke gerbong demi gerbong, "Terima kasih, Dek. Semuanya, kalian tetaplah berada di sini. Jika aku sudah berhasil menyelamatkan Perdana Menteri Hiroyuki, maka aku akan segera datang kembali."
Para penumpang itu hanya mengangguk pelan dan sebuah rasa lega mulai menghiasi wajah mereka, meskipun hanya sedikit saja. Namun mereka sudah merasa sedikit tenang karena menyadari telah ada seorang gadis sehebat Viollete yang akan menyelamatkan mereka semua.
Viollete mulai melenggang kembali dengan langkahnya yang begitu tegas dan penuh percaya diri. Sepasang netra dengan pupil kecoklatan itu fokus menatap tajam ke depan.
Sebuah gerbong mulai dimasuki oleh Viollete kembali. Sebuah Glock Meyer 27 yang masih berisikan dengan 15 peluru lengkap, mulai dikeluarkannya dan diarahkannya ke depan untuk antisipasi.
Gerbong ini rupanya kosong dan tak ada seorangpun di dalamnya. Namun di gerbong depannya lagi, Viollete melihat ada 2 pria penjaga yang menjaga pintu.
Viollete memutuskan untuk mengintai dan berjalan mengendap-endap dan mulai memikirkan sebuah cara untuk menyerang mereka tanpa diketahui oleh komplotannya.
Namun belum sempat Viollete menjalankan rencananya kini mereka berdua mulai menuruni gerbong itu begitu saja setelah mendapatkan sebuah panggilan dari handy talky.
Sebuah kesempatan yang cukup bagus tanpa bersusah payah, kini Viollete mulai memasuki gerbong di hadapannya dan terus berjalan dengan mengendap-endap dan sangat berhati-hati.
Gerbong demi gerbong sudah dilaluinya dengan tanpa diketahui oleh para penculik itu. Dan kini Viollete sudah melihat sosok Perdana Menteri Hiroyuki di gerbong paling depan dengan keadaan terduduk dan kedua tangannya yang terikat.
Beberapa pria penjaga bertubuh kekar dan berwajah sangar juga terlihat berada di gerbong itu dan berjaga. Seorang pria dengan setelan jas yang begitu rapi dan necis terlihat berkacak pinggang di hadapan sang Perdana Menteri.
"Aku ingin kamu mengundurkan diri Hiroyuki! Karena akulah yang lebih pantas memimpin negeri ini!!" ucap pria dengan setelan pakaian yang rapi itu. "Jika kamu mengundurkan diri, maka aku akan membebaskan seluruh penumpang di dalam kereta api ini. Dan aku juga akan menjamin keselamatan untuk para penumpang, serta aku tak akan meledakkan bom waktu ini!" pria itu memperlihatkan sebuah remot kecil yang hanya memiliki ssebuah tombol berwarna merah di tengah-tengahnya.
"Aku sudah memasang sebuah alat peledak tepat di gerbong kedua. Jika kamu tak mengundurkan diri, maka bukan hanya kamu yang akan berakhir disini, namun mereka semua juga akan berakhir! Pikirkan itu baik-baik, Hiroyuki!! Ada banyak nyawa yang harus dikorbankan jika kamu tak melakukan semua perintahku!! Dan putrimu juga berada dalam gerbong itu bersama dengan mereka!!"