
Setelah si bos berhasil dijatuhkan oleh Viollete, kini anak buahnya mulai tak berani untuk berkutik lagi. Ryuga dan Roy mulai mencekal beberapa pria yang tersisa, hingga akhirnya beberapa bantuan mulai datang dan membawa beberapa berandalan itu, baik yang masih sadar atau yang masih pingsan.
Sang bos yang merupakan seorang buronan yang memproduksi dan terus saja menciptakan beberapa obat-obatan terlarang dengan harga selangit, kini juga berhasil ditangkap. Dan semua itu adalah karena kerja sama Viollete dan para seniornya.
Karena selama ini begitu sulit untuk menemukan mereka. Karena mereka sering berpindah-pindah markas maupun berpindah tempat berkumpulnya. Dan entah mengapa malam ini secara kebetulan sekali, Viollete bisa bertemu dengannya pada misi keduanya.
"Ini sudah sangat larut, kalian sebaiknya segera pulang!" ucap Ryuga saat mereka sudah keluar dari tempat karaoke itu.
"Baiklah, Ryuga. Kamu juga pulanglah. Aku akan mengantar Viollete pulang. Kasihan jika Violletw pulang sendiri. Ini sudah dini hari. Aku khawatir ..." sahut Roy mulai menaikkan resleting jaketnya sedikit naik, karena udara begitu terasa dingin dan akan membuat membeku.
Mendengar ucapan dari Roy yang terlihat mengkhawatirkan Viollete, membuat Ryuga tersenyum tak enak.
"Cih ... apa yang membuatmu mengkhawatirkan gadis seperti dia? Kau lihat sendiri bukan, sekuat apa dia tadi? Dia akan baik-baik saja jika pulang sendiri!" ucap Ryuga tak memiliki simpati sama sekali terhadap Viollete.
"Senior maaf menyela." ucap Viollete yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan dari kedua seniornya, kini mulai ikut berbicara. "Tapi senior Ryuga memang benar. Lebih baik aku pulang sendiri. Sampai jumpa ..." Viollete sedikit membungkukkan badannya, lalu mulai berbalik.
Wajahnya terlihat sedikit tidak sehat dan sudah pucat dan tiba-tiba saja Viollete hampir terjatuh namun gadis cantik ini segera berpegangan sebuah dinding dan memegangi kepalanya yang pusing, dan tiba-tiba saja perutnya terasa begitu mual.
"Sial!! Aku tak pernah pergi ke tempat seperti itu sebelumnya. Asap rokok yang berlebihan, bau alkohol yang begitu berlebihan membuatku begitu mual dan rasanya ingin muntah. Arghh ..." ucap Viollete sudah tak tahan lagi dan akhirnya saat Violete sudah hampir ambruk.
Salah satu seniornya yang sedang berada lebih dekat dengannya dengan cepat segera menangkap tubuh ramping Viollete, dan disaat itulah Viollete mulai memuntahkan sesuatu begitu saja. Dan hal itu membuat sepatu mewah yang sedang dipakai oleh seniornya terkena muntahanhya.
Gadis desa ini benar-benar selalu saja membuatku merasa kesal!!
Geram senior Ryuga yang rupanya dialah yang sudah menangkap tubuh Viollete dan tak sengaja mendapatkan muntahan dari Viollete.
Wajahnya yang selama ini selalu terlihat datar kali ini terlihat begitu merah padam, menandakan saat ini Ryuga sedang dipenuhi dengan amarah. Namun percuma saja, kali ini Ryuga tak bisa melampiaskan amarahnya kepada Viollete.
Karena saat ini Viollete sudah terlihat begitu pucat dan wajahnya terlihat sangat tidak sehat. Dengan cepat Roy segera datang menghampiri mereka berdua dan membantu memegang tubuh Violletez agar Ryuga bisa membersihkan atau setidaknya melepas sepatunya.
Sepasang matanya masih menatap tajam Viollete dan masih terlihat begitu kesal. Namun akhirnya Ryuga mulai mengambil sesuatu yang bisa digunakan untuk membersihkan bekas muntahan itu dari tas kecil milik Viollete.
Sebuah sapu tangan kecil berwarna baby blue dan bertuliskan nama Viollete mulai diambilnya lalu mulai digunakan untuk membersihkan muntahan pada sepatu Ryuga. Setelah sudah cukup bersih, Ryuga mulai membuang sapu tangan itu begitu saja.
"Roy, urus gadis desa ini! Antarkan dia pulang!" titah Ryuga masih dengan nada bicaranya yang tidak enak.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Ryuga mulai meninggalkan tempat itu dan mulai memasuki mobilnya begitu saja. Beberapa team juga sudah meninggalkan pelabuhan ini. Kini hanya ada Viollete dan Roy yang masih tertinggal disini.
Roy segera menggendong Viollete dan membawanya masuk ke dalam mobilnya, karena saat ini Viollete benar-benar sudah seperti orang yang sedang mabuk atau sakit. Entahlah.
"Vio, dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu." tanya Roy yang kini masih duduk di kursi belakang dan belum berpindah ke depan.
"Aku tidak tau dimana rumah Viollete, jadi aku harus mengantarnya kemana? Haishh ..." gumam Roy terlihat kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal."Bagaimana ini? Tidak mungkin aku membawanya pulang ke apartemenku ..."
Roy segera keluar dari mobilnya dan mulai berpindah ke kursi kemudi lalu mulai mengemudikan mobilnya menuju suatu tempat dengan kecepatan standart.
...⚜⚜⚜...
Suasana pagi ini masih begitu tenang dan terasa sedikit hangat. Seorang pemuda mulai membuka sebuah gorden berwarna putih lembut karena hari sudah menunjukkan pagi, dan kini saatnya sang mentari menyapa dunia dengan sinarnya yang begitu hangat.
Cahaya hangat dari sang mentari mulai menembus dan memasuki ruangan berukuran sedang dan dipenuhi dengan nuansa putih ini. Aroma khas dari tempat ini juga akan langsung tercium siapa saja yang baru saja memasuki tempat seperti ini.
Setelah membuka gorden itu, pemuda itu terlihat mulai duduk kembali di sebuah sofa sambil menikmati secangkir kopi hangatnya dan membaca sesuatu.
Sementara di atas brankar, terlihat seorang gadis yang masih terbaring dengan memakai pakaian rawat rumah sakit berwarna biru putih bergaris horizontal lengan panjang.
Setelah beberapa saat, gadis itu mulai membuka sepasang matanya dan berusaha untuk duduk. Gadis itu terlihat begitu kebingungan saat melihat sekelilingnya rupanya adalah bukan rumahnya, namun sebuah tempat yang sangat asing baginya. Dan tempat ini adalah rumah sakit.
Karena teringat sesuatu, jika dia semalaman tidak pulang ke rumahnya, kini wajah ayu itu terlihat begitu cemas. Gadis itu khawatir, jika papa dan adiknya akan begitu mengkhawatirkan dirinya. Karena sejak dari malam itu, gadis itu juga belum memberikan sebuah kabar kepada papanya.
Dengan cepat gadis yang tak lain adalah Viollete itu mulai berniat untuk segera turun dari brankarnya, namun seorang pria mulai menghampirinya dan menahannya agar tetap berada di tempat ini dan beristirahat dulu.
"Senior Roy, aku harus segera pulang. Papa dan adikku pasti akan sangat mengkhaatirkan aku." ucap Viollete yang masih terlihat begitu cemas.
"Vio, pagi mereka sudah memberikan kabar untuk papa dan adikmu kok. Dan maaf tadi malam aku tidak mengantarmu pulang, karena aku tidak tau dimana kamu tinggal. Jadi aku membawamu ke rumah sakit. Karena kamu juga terlihat sangat tidak sehat setelah kita menyelesaikan misi di pelabuhan." ucap Roy dengan jujur.
"Maaf sudah merepotkan, Senior. Dan terima kasih sudah membantuku dan mengurusku ... aku sunguh merasa tidak enak." ucap Viollete sangat merasa tidak enak.
"Jangan seperti itu, Vio! Kita adalah rekan satu team. Sudah sepantasnya aku juga menjagamu." sahut Roy dengan ramah.
"Tidak, Senior. Aku bahkan belum resmi diterima menjadi salah satu bagian dari kalian." ucap Viollete sedikit murung.
"Aku sangat yakin tuan Wilson akan menerimamu! Percaya deh padaku ..." Roy menuyauti tanpa ada keraguan dan tersenyum lebar. "Kau sungguh gadis yang sangat luar biasa! Aku yakin sekali tuan Wilson menyadari semua itu!"
"Hhm, terima kasih. Senior Roy sangat baik padaku. Lalu bagaimana caraku membalas kebaikan senior?" tanya Viollete pelan dan sebenarnya masih merasa segan dan aneh untuk menjadi akrab dengan orang asing.
"Setelah tuan Wilson menyatakan kamu lulus, maka traktir aku!" sebuah senyuman lebar mulai menghiasi wajah Roy saat pemuda itu menyarankan sesuatu sebagai kesepakatan untuk mereka berdua.
Viollete terdiam beberapa saat, hingga akhirnya Viollete mulai mengangguk pelan dan tersenyum tipis sebagai tanda telah menyetujui Roy.
...⚜⚜⚜...